Volume Cinta Dania

Volume Cinta Dania
Bab 28


__ADS_3

Zico melihat adiknya telah rapi sekali. Dia tidak pernah melihat adiknya serapi ini. Apalagi melihat adiknya memesan bunga dan buah.


"Mau apel pagi - pagi gini?" tanya Zico tidak sabar untuk bertanya kepada adiknya.


Baginya ini adalah hal yang langkah di lakukan oleh Alfi.


"Temani aku dong bang, ini mau jenguk teman sakit, dari Indonesia juga."


"Ah malas ah, pergi sendiri aja."


"Ayolah, ini cewek, kasihan banget sama dia, dia itu butuh support kita sesama orang Indonesia."


"Emang nggak ada keluarganya di sini?"


Alfi memutar otaknya agar dia bisa mencari alasan yang masuk akal. Dia hanya ingin bagaimana caranya Zico bertemu Dania tanpa paksaan.


"Ada, dia hidup cuma sama anaknya yang masih 4 tahun, lalu dia saat ini hamil, tapi dia tidak tau kemana perginya sang suami."


Mendengar cerita dari Alvi membuat hati jika tergugah. Dia merasa sangat kasihan kepada wanita malang itu.


"Ya udah, kasihan sekali dia, kenapa dia nggak pulang kampung aja?"


"Dia masih setia sama suaminya dan berharap masih bisa ketemu suaminya,jika dia pulang dia takut tidak akan bertemu suaminya selamanya." jawab Alfi sengaja memasak ekspresi menyedihkan.


"Wanita setia, sangat langka di cari."


Alfi tersenyum mendengar ucapan abangnya.Dia lalu masuk kekamarnya sambil menelpon seseorang.


"Semoga ini awal yang baik." bathinnya.


Setelah mengatur siasat, akhirnya Alfi berangkat menuju apartemen Dania pukul 9 pagi setempat. Dania memang sudah di rawat di apartemennya.


Dania memang disengaja tinggal di apartemen biasa agar bisa menarik perhatian Zico. Alfi sangat tau kelemahan abangnya itu.


Zico dan Alfi telah sampai di pintu apartemen Dania. Mereka tau bahwa ini adalah apartemen yang hanya ada satu kamar.


Zico kaget saat pintu apartemen di buka oleh anak kecil berumur 4 tahun. Anak itu nampak menatap Zico dengan mata membulat.


"Papa."


Zico kaget saat anak gadis kecil memanggilnya papa. Namun dia merasa bahwa suara itu ada pernah di dengarnya.


Melihat wajah kaget Zico membuat Alfi segera berkata." siapapun lelaki yang datang akan di panggil papa, karena ya begitu berharap Papanya pulang."


Zico berjongkok di hadapan Jema." anak ini terlalu manis harus menderita."

__ADS_1


"Es tut mir leid, Onkel"


"Du kannst Indonesisch sprechen?" tanya Zico tersenyum.


Anak gadis kecil itu menganggukkan kepalanya.


"Ayo masuk." ajak Alfi agar mereka tidak berlama-lama di pintu apartemen.


Alfi lansung membawa Zico masuk kekamar Dania. Zico bingung kenapa Alfi begitu lancang masuk ke kamar seorang wanita.


"Apa nggak apa-apa kita masuk ke kamarnya?" tanya Zico.


"Nggak apa-apa, dia nggak bisa keluar kamar."


Zico juga mengikuti Alfi dan Jema masuk ke dalam kamar. Dia melihat seorang wanita berbaring dengan lemas di ranjangnya.


"Dania kenalkan ini abangku Zico." ucap Alfi kepada Dania.


"Salam kenal bang, saya Dania." ucap Dania memaksakan tersenyum.


Hatinya terasa senang karena akhirnya bisa bertemu lelaki itu dalam keadaan hidup. Akan tetapi ada yang sedih di sisi lain bahwa kenyataannya lelaki itu tidak mengingatnya.


"Saya sudah mendengar cerita tentang kamu, saya harap kamu tetap semangat, kami akan membantu kamu, kalau boleh tau apakah ada foto suami kamu? Mana tau aku juga bisa mencarinya."


"Itulah bodohnya Dania bang, foto suaminya nggak ada di apartemen ini, dan ponselnya yang menyimpan nomor lelaki itu juga rusak."


Zico merasa semakin iba dengan wanita itu. Dia tau apa yang di rasakan oleh wanita itu.


"Jika kamu mengalami masalah, kamu boleh telpon Alfi atau aku, kami akan selalu ada untuk kamu."


"Terima kasih bang."


Zico melihat Jema membawa dua gelas minuman ringan. Zico melihat anak itu sangat kesusahan membawanya.


"Kenapa kamu menyiapkan minuman segala sayang? Sini om bantu." Zico lansung mendekati Jema dan membantu membawakan.


"anggap apa - apa bang Jema udah terbiasa."


"Terbiasa?"


"Iya bang, karena di sini hanya mereka tinggal berdua, jadi ketika adanya sakit gimana yang membantu menyiapkan segalanya, kadang termasuk memasak."


Zico kaget mendengar ucapan adiknya Alfi. Anak seusia itu harus menghidupkan kompor. Jelas itu bahaya.


"kamu tau ini sejak lama?" tanya Zico kepada Alfi.

__ADS_1


Alfi mengganggukan kepalanya membuat Zico semakin geram dengan adiknya.


"Kamu ini di mana rasa kepedulian kamu? Bisa - bisanya kamu membiarkan semua ini."


"Aku harus apa bang? Kamu tau aku ini sibuk di kantor, dan aku nggak bisa setiap hari kesini."


"Banyak cara yang bisa kamu lakukan, kamu bisa sewa asisten rumah tangga."


"Masalahnya Dania trauma dengan asisten rumah tangga, dulu pernah, tapi dia malah melakukan kesalahan." jawab Alfi mencari alasan lagi.


"Kan kamu juga bisa bawa dia tinggal di rumah kita untuk sementara waktu, aku banyak waktu senggang."


Alfi lansung berteriak senang ketika Zico berucap seperti itu.


"maaf bang, aku nggak berani bawa waktu itu karena kamu juga butuh perawatan, aku juga takut nanti kak Kinan nggak setuju dengan kehadiran Dania" ucap Aldi dengan ekspresi sedih lagi.


"Kinan tidak akan mungkin bisa marah, dia hatinya lembut, lagian itu rumah keluarga kita, jadi Kinan tidak punya hak untuk itu."


Dania hanya mendengarkan perdebatan antara kakak dan adik itu. Dania senang karena Zico begitu peduli dengannya. Namun dia tau bahwa itu hanya kepedulian biasa sama seperti orang lain.


Setelah perdebatan panjang akhirnya mereka memutuskan membawa Dania ke rumahnya. Alfi sengaja membawa sedikit barang milik Dania. Dia hanya membawa barang yang akan membantu ingatan Zico.


Mereka telah sampai di rumah keluarga Zico. Dania telah di letakkan di kamar yang bersebelahan dengan Zico. Semua sudah diatur oleh Alfi sendiri dengan berbagai alasannya.


Semenjak di rawat di sana, dokter yang merawat Dania juga sering datang memeriksa kondisinya Dania.


Sedangkan Kinan untuk beberapa hari ini tidak menunjukkan batang hidungnya karena sedang mengikuti kegiatan ke benua Amerika.


Kedekatan Jema terjalin begitu cepat. Terkadang Jema keceplosan memanggil Zico dengan sebutan papa. Namun bukannya marah, lelaki itu malah tersenyum senang.


Bermain dengan Jema membuat Zico merasa hidupnya lebih berwarna.


Selama beberapa hari Jema selalu ceria. Namun pagi ini Zico menemukan gadis cilik itu duduk melamun sendirian.


"Kamu kenapa?" tanya Zico duduk di sebelah gadis cilik itu.


"Aku kangen papa, hik hik hik." tangisnya.


"Sabar ya."


"Boleh nggak aku peluk om, aku kangen peluk papa." ucap Jema membuat Zico menganggukkan kepalanya karena tidak tega melihat anak itu menangis.


Jema memeluknya dengan erat sambil menangis. Zico membiarkan anak itu memeluknya sampai bosan.


"Kenapa rasanya pelukan dan tangis anak ini nggak asing sama aku?" bathinnya.

__ADS_1


__ADS_2