Volume Cinta Dania

Volume Cinta Dania
Bab 26


__ADS_3

"Ngapain kamu Alfi?" tegur mamanya kaget melihat anaknya dalam kamar inap abangnya marah - marah.


"Ma katakan pada dia ma, kalau dia nggak bangun juga maka jangan salahkan aku mengambil istrinya."


Dania nampak kaget mendengar ucapan Alfi. Tidak pernah adik iparnya seperti ini.


"Ini benaran atau cuma iniin mas Zico aja?" tanya Dania dalam hatinya.


Sedangkan keluarga pihak Dania hanya diam terlebih dahulu memperhatikan situasi.


"Bangunlah Zico, mama harap kamu bangun, kamu harus kuat, istri kamu sedang hamil anak kalian." ucap mamanya dengan nada sedih.


Dania melihat Daniel juga berjalan menuju ranjang tempat Zico berbaring. Dania tidak tau apa yang akan di lakukan oleh kembarannya.


"Jika kamu tidak bangun cepat - cepat maka jangan salahkan saya akan mencarikan Dania lelaki yang lebih kuat dari kamu, aku tidak akan mempercayakan adikku kepada lelaki lemah seperti kamu." ucap Daniel lagi.


Namun tidak ada tanda-tanda Zico membuka mata. Dia hanya diam dan kaku.


"Jika Zico tidak sembuh juga, aku maunya dia di bawa ke luar negeri, aku mau dia berobat di sana." ucap Alfi akhirnya memberikan ide.


"Aku tidak setuju." Dania yang berbicara kali ini.


"Kamu nggak mau suami kamu sembuh? Jika masih di rumah sakit Indonesia maka kondisinya akan seperti ini, kita harus berusaha untuk lebih demi kesembuhan suami kamu."


"Aku tidak bisa jauh dari suami aku, aku pasti tidak akan kuat untuk keluar negeri saat ini." Dania menyadari bahwa kehamilannya kali ini lebih lemah daripada kehamilan pertamanya.


"Dania, kamu bisa tinggal bersama mama, Alfi ada benarnya, Zico harus kita bawa ke luar negeri, agar dia lebih cepat pulih."


Dania juga tidak tau bagaimana keputusannya kali ini. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Baginya ini sangat berat sekali. Berpisah dengan suaminya untuk pertama kalinya.


...****************...


Kehamilan Dania sudah memasuki 5 bulan. Dania sering bersedih karena kedua kalinya dia hamil tanpa di dampingi oleh seorang suami.


Untungnya kedua anaknya tidak mengalami ngidam yang begitu parah. Cuma untuk kehamilan ini Dania harus banyak istirahat.


Selama beberapa bulan ini dia jarang kerumah sakit. Karena ketika mencium obat - obatan kepalanya terasa pusing sekali. Apalagi dia yang selalu muntah dan lemas.


Selama beberapa bulan ini Dania juga tinggal di rumah kedua orang tuanya. Jika kehamilan pertama ia di temani oleh sepupunya Deyon. Maka kehamilan keduanya tidak Deyon di sisinya karena Deyon telah menikah beberapa bulan yang lalu. Dan lelaki itu juga telah pindah ke luar negeri.

__ADS_1


"Ma, kapan papa sembuh ya ma?" tanya Jema tiba - tiba duduk di sebelahnya.


Jema memang sudah mulai lurus bicaranya. Dania tau anaknya itu tampak merasa kesepian semenjak papanya sakit.


"Kita banyak - banyak berdoa saja ya." ucap Dania menenangkan anaknya.


Air mata Dania hampir saja menetes jika dia tidak menahannya. Dia hanya tidak ingin Jema melihatnya bersedih.


Apalagi akhir - akhir ini Dania tidak bisa berkomunikasi dengan Alfi yang membawa suaminya berobat keluar negeri. Alfi nampak sedang sibuk sehingga hanya bisa mengirim foto Zico sedang terbaring.


Dania bahkan merasa perkembangan teknologi di sana. tidak bisa membuat suaminya siuman lebih cepat. Dia merasa lelah setelah semua yang terjadi pada hidupnya.


Dania mencoba menghubungi Zico . Kali ini dia memang sangat kangen dengan Zico. Sudah hampir sebulan dia tidak bisa melihat Zico secara lansung dengan banyak alasan Alfi.


"Jika aku kuat maka udah aku susul dia ke sana." ucap Dania dengan lirih.


Ditempat lain Deyon sedang makan di suatu restoran di Jerman. Dia menatap lama ke arah meja lain. Dia merasa kenal dengan lelaki yang duduk persis di hadapannya.


"Siapa dia ya? Aku sepertinya pernah melihat dia." gumamnya.


Lama Deyon berpikir akhirnya dia ingat siapa lelaki yang duduk tidak jauh darinya.


Deyon mencoba memotret laki itu secara diam-diam. Lelaki itu nampak sedang berbicara dengan seseorang wanita. Nampak keduanya seperti memiliki hubungan special.


Daniel yang berada di Indonesia melihat foto yang di kirim oleh Deyon. Dia tidak begitu terkejut dengan foto tersebut.


Khalifah juga sama tidak terkejut sama sekali melihat lelaki dan wanita itu. Dia sudah lama mengetahui semua ini dari suaminya.


Yah Daniel tau apa yang terjadi di sana. Dia telah memastikan cerita yang di berikan oleh Alfi. Alfi tidak membohongi diri.


"Bagaimana jika Dania tau bahwa Zico melupakannya ya?" tanya Khalifah tidak pernah membayangkan seperti itu.


"Entahlah,yang pasti dia syok, makanya kedua belah pihak sepakat untuk sementara dia tidak boleh tau bahwa Zico melupakannya, takut nanti jika dia banyak pikiran lalu bermasalah dengan kehamilannya."


"Semoga ini cepat berlalu."


"Amiin."


Kembali ke Jerman, Deyon berusaha ingin menyapa Zico. Dia tidak tahan dengan semua ini.

__ADS_1


"Hay co, apa kabar?"


Zico yang melihat ada lelaki yang berdiri di hadapannya tampak berpikir. Lelaki itu bingung sendiri ketika lelaki itu tau namanya.


"Apakah aku boleh duduk bergabung di sini?" tanya Deyon.


Zico semakin bingung jika lelaki itu ingin duduk bergabung dengannya.


"Kamu kenal dia co?" tanya wanita yang duduk di meja yang sama dengan Zico.


Deyon dengan kesal ketika melihat Zico menggelengkan kepalanya. Jawaban Daniel ada adanya bahwa lelaki itu kehilangan memorinya.


"Kamu kenal aku?" tanya Zico.


"Yah aku kenal kamu, aku kenal dari dia." ucap Deyon memperlihatkan foto Dania dari ponselnya.


Zico mencoba mengingat wanita yang ada di foto tersebut. Namun dia tidak bisa mengingatnya.


"Siapa dia?" tanya Zico.


"Dia istri kamu." ucap Deyon mencoba untuk mengingatkan Zico.


Namun Deyon lansung kaget ketika Zico berdiri dan mengangkat kra bajunya.


"Hati - hati kamu berbicara, aku tidak pernah menikah dengan wanita manapun, aku mau menikah dengan wanita ini, dia adalah cinta pertama aku."


Deyon tidak mau diam. Dia ingin lelaki itu benar-benar ingat siapa dirinya.


"Kamu akan menyesal, dia istri kamu, dan sekarang dia sedang hamil anak kedua kamu."


Tiba-tiba Zico melepaskan kra baju Deyon. Deyon kaget saat lelaki itu memegang kepalanya dan tidak lama kemudian dia pingsan.


Wanita yang bersama Zico segera mencoba memberikan bantuan pertama. Sebagai dokter yang menangani Zico membuat dia paham apa yang akan dia lakukan.


Zico lansung di bawa kerumah sakit setelah ambulance datang. Sebelum naik ke mobil ambulans, wanita itu menatap Deyon dengan emosi.


"Jangan sesekali kamu membicarakan wanita itu jika tidak mau dia pergi selamanya." ancam wanita itu kepada Deyon.


"Siapa dia?" tanya Deyon setelah ambulance itu pergi. Deyon mencoba menghubungi seseorang agar dia bisa mencari tau lebih jauh.

__ADS_1


__ADS_2