Volume Cinta Dania

Volume Cinta Dania
Bab 8


__ADS_3

Malam ini Zico sedang sibuk memasak untuk menyiapkan makan malam. Dania sudah mulai mau membantunya menyiapkan makan malam.


"Tolong kupas dan iris ini." ucap Zico memberikan bawang merah kepada Dania.


Dania lansung mengambil talenan dan pisau. Zico melirik sekilas apa yang di lakukan wanita itu.


"Hati - hati, yang kamu iris bawang bukan jari." ucap Zico mengingatkan.


Karena dia ingat pertama kali wanita itu membantunya mengurus timun malah jarinya berdarah.


"Iya tau." ucapnya dengan sombong.


Dania yang sudah ikut membantu Zico memasak beberapa Minggu ini menjadi tau bagaimana cara mengerjakannya. Walaupun tidak secepat Zico akan tetapi di ia bisa melakukannya.


"Kenapa mataku perih begini?" tanya Dania lansung mengusap air matanya yang menggenang di pelupuk matanya. Bukannya hilang akan tetapi malah membuat semakin pedih.


Zico menghela napas panjang lagi. Baginya lebih baik wanita itu duduk diam daripada membantunya. Akan tetapi wanita ini cukup ngeyel.


"Sini." ucap Zico mencoba membantu wanita itu meredakan pedihnya matanya.


Zico meniup mata wanita itu dengan perlahan. Dia tertegun melihat Dania dari dekat yang begitu cantik.

__ADS_1


"Ayo bantu tiup lagi." ucap Dania.


Zico lansung tersadar dan lansung meniup lagi. Dia membawa Dania ke wastafel dengan menuntunnya.


"Cuci tangan kamu dulu, besok lebih baik kamu diam aja daripada membantu masak." ucap Zico.


Setelah mencuci tangan Dania dengan sabun. Lalu Zico menyuruh Dania untuk mencuci wajahnya.


Zico dengan sigap mengambil tisu untuk mengelap wajah wanita itu. Dania hanya pasrah ketika Zico mengelap wajahnya.


"Cantik, tapi sayang konsumsi banyak orang." gumamnya pelan.


Setelah matanya bisa di buka kembali, Dania akhirnya duduk di salah satu kursi dengan dapur. Dia duduk memainkan ponselnya.


Zico sesekali m lihat Dania memainkan ponselnya sambil tersenyum. Zico terpana dengan senyum wanita itu.


"Ayo taro HP mu, kita mau makan."


Dania patuh dengan ucapan lelaki itu karena bagaimanapun lelaki itu berjasa untuk makan malam dan sarapannya.


Dania ingat dulu awalnya ia pernah membawa pelayan ke rumah itu. Namun bukannya senang, Zico malah marah karena dia tidak suka area privasinya di masukin sembarangan orang. Semenjak itu akhirnya Dania belajar membereskan piring selesai makan.

__ADS_1


Untuk urusan baju Dania hanya mengantarkan ke londry. Dia tidak mau repot melakukan pekerjaan rumah.


Dania mengakui bahwa masakan suaminya memang enak. Dia tidak pernah merasakan masakan seenak ini di rumahnya walaupun Khalifah yang masak yang notabene juga pandai memasak.


Setelah makan malam mereka duduk terlebih dahulu di ruang nonton. Mereka duduk menonton televisi. Sekali - kali mereka memainkan ponselnya untuk membalas pesan yang masuk.


Sesekali Zico juga menatap baju yang di pakai Dania. Dania belum berubah sama sekali dalam berpakaian.


Zico melihat Dania memakai baju yang yang dia belikan untuk ke kantor. Dia sedikit senang karena wanita itu masih menghargai jerih payahnya.


Zico menatap sekilas kulit putih Dania. Entah kenapa di matanya wanita itu nampak cantik sekali. Tidak seperti malam - malam biasanya.


Zico menggeser sedikit tempat duduknya agar bisa lebih dekat lagi dengan Dania. Zico juga tidak lupa memutar film horor agar wanita itu semakin dekat dengannya.


"Kok jadi horor ko? Aku takut."


"Ngapain takut, ornag cuma film aja kok." ucap Zico dengan santai.


Dania yang memang penakut hanya mencoba menutupi matanya. Sedangkan Zico berpura-pura ketakutan.


Terkadang Dania sesekali memeluk Zico yang tidak jauh darinya. Zico membiarkan wanita itu memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2