
Setelah beberapa jam akhirnya Zico sudah terbangun dari pingsannya. Namun sejak membuat mata lelaki itu hanya diam saja tanpa berkata apa-apa.
Bahkan sejak tadi lelaki itu tidak menatap Dania sama sekali. Dania melihat lelaki itu celingak-celinguk melihat ke arah pintu.
"Fi tolong panggilkan Kinan." ucap Zico akhirnya bicara.
Dia tidak melihat Kinan sama sekali. Biasanya wanita itu selalu ada saat dia membuka matanya.
"Dia tidak ada di sini." jawab Alfi.
"Kemana dia? biasa dia tidak pernah meninggalkan aku, apalagi jika aku dalam perawatan begini."
"Kita di rumah sakit yang berbeda, dan kali ini aku ganti dokter." jawab Alfi.
Zico terdiam sesaat. Seketika matanya menatap Dania dengan tatapan tajam. Dania yang menatapnya menjadi takut.
"Dia marah sama aku karena tidak ada wanita itu?" bathin Dania.
"Kak aku ada urusan sebentar, aku tinggal sebentar." ucap Alfi berpamitan.
Setelah kepergian Alfi, ruangan itu terasa hening. Tidak ada yang berbicara satupun. Dania juga bingung mau bicara apa karena lelaki itu tidak menyapanya sejak tadi.
"Jika kamu tidak ngapa - ngapain di sini, lebih baik kamu pulang saja." ucap Zico dengan nada dingin.
"Baik." ucap Dania malas berdebat.
Dia berdiri dari tempat duduknya. Dia menatap Zico sekilas. Namun lelaki itu membuang pandangannya.
__ADS_1
"Sebenci itu kamu sama aku mas." bathin Dania sebelum beranjak keluar.
Dania akhirnya melangkah kakinya meninggalkan ruangan itu. Hatinya sakit untuk sekian kalinya.
Zico menatap punggung wanita itu. Saat ini perasaannya sedang kacau. Apalagi sampai saat ini dia masih belum bisa mengingat wanita itu dengan jelas.
"Maaf." ucapnya perlahan.
...****************...
Dania telah memutuskan untuk pulang kembali ke Indonesia. Rasanya ia tidak percaya bahwa ia akan pulang seperti ini.
Di dalam pesawat Dania hanya menangis. Hatinya sangat hancur saat ini. Bahkan dia udah pasrah dengan hubungan rumah tangganya.
"Aku pasrah berpisah dari kamu, yang penting kamu masih sehat." gumamnya.
Tangisnya semakin deras karena mengingat dia hamil kedua kalinya tanpa suami.
Tidak ada yang tau bahwa wanita itu menangis karena dia sedang berada di dalam kamar yang ada di pesawat itu.
Dania mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Dia lansung memblokir nomor Zico ataupun Alfi.
Dania rasa dia tidak perlu berhubungan dengan lelaki itu atau keluarganya. Dia akan mengurus perceraiannya.
"Apa aku jahat yang meminta cerai karena suami aku sakit?" tanyanya sambil bergumam sendiri.
"Aku bukan seperti itu, tapi semua aku lakukan karena aku ingin kamu sehat dan bahagia selalu tanpa terikat dengan aku lagi.
__ADS_1
Tok tok tok
Pintu kamar terbuka menampakkan sosok ganteng yang tidak lain adalah Daniel.
"Dania ayo makan dulu." terdengar suara Daniel.
"Iya, suruh aja pramugari antar ke dalam." jawab Dania.
"Jaga kesehatan, sedih boleh tapi ingat janin dalam tubuh kamu."
"Iya bawel banget sih."
Daniel hanya tersenyum mendengar jawaban Dania.
"Daripadanya kamu jelek, manyun terus sih." ejek Daniel.
"Karena jelek makanya tidak ada di memori Zico." jawab Dania dengan kesal.
"Hahahaha, dia lelaki yang kurang beruntung, udah sakit di tinggal istri." ejek Daniel lagi.
Bukannya menghibur Dania, Daniel justru mengejeknya dengan seperti ini. Dan bisa - bisanya lelaki itu menyalahkan Dania.
"Jadi kamu pro dia?"
"Jelas, dia pasien yang juga korban kejahatan, dia melakukan bukan keinginan dia, tapi karena suatu keadaan, kamu tunggu aja, sebentar lagi tersangka akan meminta maaf karena berhubungan dengan hukum." ucap Daniel percaya diri.
Kali ini Dania tidak menjawab ucapan Daniel karena memang tidak paham apa yang menjadi ucapan Daniel.
__ADS_1
Daniel meninggalkan Dania dan kembali ke kursinya. Dia juga nampak sibuk dengan pekerjaannya.