Volume Cinta Dania

Volume Cinta Dania
Bab 23


__ADS_3

Dania sedang sibuk memasak di dapur untuk sarapan Zico dan Jema. Sedangkan Zico sejak tadi hanya duduk tersenyum menatap sang istri.


Jika di pernikahan mereka dulunya, Zico yang berjibaku memasak sedangkan wanita itu lansung sarapan setelah bangun. Berbeda dengan saat ini.


Zico tadinya ingin membuat sarapan, namun Dania menyuruhnya duduk diam di sana.


Setelah selesai memasak, Dania menyajikan di meja makan. Untuk saat ini mereka sudah pindah ke rumah yang baru saja di beli oleh Zico.


"Mama yang macak ya? ( Mama yang masak ya?)" tanya Jema.


"Iya, Ayo sarapan."


"Jema au macakan papa,enak soalnya ( Jema maunya masakan papa, enak soalnya)."


Dania terdiam mendengarkan ucapan sang anak. Sedangkan Zico menahan senyum karena takut Dania tersinggung.


"Jema nggak boleh begitu, hargai mama yang udah capek masak buat kita." Zico menasehati anaknya.


"Maaf mama, makacih ma."


"Iya, mama tau kok masakan papa lebih enak dari mama, kan guru MasterChef mama adalah papa."


"Benalan ma?(benaran ma?)." tanya Jema dengan mata berbinar.


"Iya, dulu mama nggak pandai masak."


Zico tersenyum ketika Dania tidak marah menanggapi sang anak. Dia bangga dengan istrinya yang menanggapi hal ini dengan bijaksana.


"Wah enak banget masakan mama, papa suka sama masakan mama." ucap Zico bersemangat.


Jema juga ikut menyantap sarapan yang di buatkan oleh mamanya.


"Makasih mas." bisik Dania.


"Sama - sama sayang." balas Zico.


...****************...


Dania baru saja keluar dari klinik kecantikan. Tiba - tiba ada yang memanggilnya.


"Dania."


Dania tersenyum karena tidak jauh darinya berdiri seorang teman lamanya. Lelaki nampak gagah dengan kemeja putih dan celana hitam.


"Bara, apa kabar?"


"Baik, kamu treatment di sini?" tanya Bara.


"Iya, kamu sendiri?"


"Ini salah satu klinik cabang aku."


Dania menepuk keningnya, dia lupa bahwa temannya ini sudah punya bisnis bagian kecantikan.


"Oh iya, aku baru ke sini soalnya dapat rekomendasi dari teman."

__ADS_1


"Selamat, sebagai pelanggan aku, kamu aku kasih diskon deh."


"Wah Alhamdulillah."


"Nggak perlu, saya cukup uang untuk membayar perawatan di sini." itu bukan suara Dania tapi suara Zico.


"Mas,kamu udah datang?" Dania tersenyum ke arah Zico.


"Bara, ibu mas Zico suami aku." Dania mengenalkan Zico kepada Bara.


"Suami? Isunya kamu bercerai, kapan nikahnya?"


"Kami sampai saat ini belum bercerai, saya suaminya." ucap Zico lansung meraih tangan Dania.


"Baik, aku Bara teman Dania." Bara mengenalkan diri.


"Kami pamit dulu ya bar."


"Oke, udah dapat kartu member kan?"


"Udah."


Dania berjalan meninggalkan Bara. Bara menatao punggung keduanya. Sedangkan Dania merasa aneh karena Zico nampak posesif. Seumur hidup bersama Zico baru kali ini lelaki ini posesif bersamanya.


Setelah masuk kedalam mobil, Danai memperhatikan suaminya hanya diam sejak tadi.


"Kenapa lagi dia" bathinnya.


Dia melirik lagi ke arah kanan, namun Suaminya hanya diam dan fokus mengendarai mobil.


Karena tidak kunjung berbicara, akhirnya Dania memberanikan diri untuk bertanya. Dia tidak ingin memendam beribu pertanyaan lama - lama.


"Kamu tuh kenapa sih mas?" tanya Dania kepada Zico yang nampak memainkan ponselnya dari tadi.


"Nggak apa-apa."


"Nggak apa-apa tapi ngediam aku dari tadi loh." ucap Dania agak meninggi.


Zico menarok ponselnya di atas meja. Dia kesal karena sang istri mulai meninggikan suaranya.


"Apa maksud kamu tinggikan nada sama aku?" tanya Zico kesal kepada istrinya.


"Gimana nggak gitu, kamu ditanya nggak pernah jujur."


Zico yang malas meladeni sang istri berantem. Dia mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Lalu ia meninggalkan Dania di sana.


"Kita belum selesai, kamu kemana ?"


Zico tidak menanggapi pertanyaan Dania. Dia tak ingin pertengkaran ini menjadi lebih besar.


Sedangkan Dania makij kesal karena Zico pergi begitu saja.


"Dia selalu begitu, pasti dia nggak cinta sama aku." bathinnya.


Dania duduk dengan kesal karena merasa tidak di dengarkan oleh suaminya. Dia melihat ini masih sore.

__ADS_1


Dania menangis karena merasa tidak di cintai. Jema anaknya senga tidak di rumah karena sedang bermain kerumah kakek dan neneknya.


"Kamu itu cinta sama aku nggak sama aku mas? Aku tulus mencintai kamu, tapi kamu nggak jelas, kadang seperti cinta,tapi kadang seperti tidak peduli." ucapnya bicara sendiri.


Semua pikiran negatif keluar untuk hubungan mereka.


Sudah 3 jam namun Zico belum juga pulang. Dania mencoba menghubunginya namun tidak di jawab.


[ jika kamu nggak pulang, maka aku akan pergi]> pesan Dania.


Zico membaca pesan yang di kirim Dania. Dia semakin kesal karena wanita itu mengancamnya. Dia tidak suka di ancam begini.


Dia tidak mau peduli dengan pesan tersebut. Dia tau bahwa pesan ini hanyalah ancaman belaka.


Akan tetapi mengingat dulu Dania pernah meninggalkannya di acara pembukaan restorannya. Dan setelah itu wanita itu memintanya bercerai.


"Sialan."


Zico bergerak cepat menuju mobilnya. Tidak sengaja dia menabrak seseorang.


"Maaf mbak?"


"Hati - hati dong mas, gimana kalau saya jatuh tadi." ucap wanita itu dengan nada di buat - buat.


"Kenapa sayang?" tiba-tiba seorang lelaki menghampiri mereka.


"Ini sakit, mas ini sengaja menabrak aku, sepertinya dia mau kenalan sama aku."


Zico rasanya ingin mual mendengar ucapan wanita itu. Wanita ini sungguh tidak ada apa - apa di bandingkan kecantikan istrinya.


"Mbak boleh kepedean, tapi jangan terlalu tinggi, saya tidak sengaja karena buru - buru, dan saya juga sudah minta maaf."


"Kamu mengatakan apa sama pacar saya? Kepedean?" tanya lelaki itu dengan amarah.


"Mas santai dong, jangan ngotot gitu."


"Emang kalau aku ngotot kenapa? Kamu nantang aku?" lelaki itu lansung mengangkat kra baju Zico.


Zico tidak terima di perlakukan seperti ini. Dia mencoba melepaskan tangan lelaki itu. Perkelahian tidak dapat lagi di elakkan.


Zico berhasil membuat lelaki itu tersungkur di sana.


"Ah buang - buang waktuku saja." ucap Zico berjalan meninggalkan lelaki itu.


"Mau kemana bung? kamu kira selesai begitu saja?" ucap seorang lelaki penuh tato. Dibelakangnya ada sekitar dua puluh orang yang berdiri menatap Zico penuh amarah.


"Saya tidak ada urusan dengan kalian, Mohon minggir."


"Hahahha seenaknya kamu berbicara seperti ini setelah kamu buat bos kamu seperti itu." ucap lelaki itu menunjuk ke arah lelaki tadi.


"Hajar dia"


Zico mencoba melawan gerombolan preman itu. Namun kali ini dia kalah jumlah. Dia tepar dalam 15 menit.


Sedangkan Dania merasa kesal karena suaminya benar-benar mengabaikannya. Sudah pukul 9 malam namun suaminya belum pulang juga.

__ADS_1


"Udahlah dia juga nggak peduli, mending aku pergi saja di sini." ucapnya mengambil tas yang sudah di siapkan.


__ADS_2