Volume Cinta Dania

Volume Cinta Dania
Bab 29


__ADS_3

Dania terdiam melihat Jema sedang memeluk papanya. Dania tau bagaimana perasaan Jema. Seorang anak kecil yang seharusnya bermain dengan papanya namun papanya melupakan.


Bagi anak lain tentu saja hal ini sangat susah. Tapi Jema bisa untuk tidak memanggilnya papa. Dania melihat sendiri bagaimana Daniel menyakinkan anaknya agar terlaksananya idenya dan Alfi.


"Kasihan Jema, masih kecil tapi harus seperti ini." bathin Dania.


Zico melihat Dania yang sedang menghapus air matanya dengan tangan kanannya. Dia mengerti perasaan wanita itu yang sedang bersedih.


"Kamu jangan sedih lagi, kalau kamu sedih mama kamu akan sedih." ucap Zico.


Jema lansung menghapus air matanya. Membuat mamanya sedih adalah hal yang tidak di inginkan oleh Jema. Apalagi saat ini dia selalu melihat mamanya sering sakit.


Hal tersebut ternyata tidak lepas dari pandangan Alfi. Dia sangat sedih melihat keponakannya itu sedang bersedih.


Tap tap


Langkah kaki Alfi terdengar memenuhi ruangan.


"Ayo ikut om jalan - jalan." ajak Alfi.


Jema lansung tersenyum bahagia walaupun sebenarnya dia sangat ingin bersama papanya.


Setelah Alfi dan Jema pergi, Zico melangkahkan kakinya menuju tempat Dania duduk di ruang tengah.


"Kamu yang sabar, kamu pasti terpukul banget dengan kejadian ini."


"Terima kasih." jawab Dania.


Zico duduk di sebelah Dania. Dia menghadap ke arah wanita itu.


"Apakah kamu sudah dapat kabar tentang suami kamu hari ini?" tanyanya penasaran.


Dania menganggukkan kepalanya.


"Di mana dia? Apa katanya?"


"Dia tidak ingat aku dan anak aku, yang lebih menyedihkan adalah bahwa orang yang dia ingat adalah mantan pertama." ucap Dania dengan mata berlinang.


Zico menatap manik mata wanita itu. Dari matanya wanita itu jelas ada luka di sana.


"Lalu apa usaha kamu untuk membuat dia ingat kembali?"

__ADS_1


"Aku tidak punya cara lagi, keluarganya sudah berusaha untuk itu, jika membuat dia ingat aku bisa membuat dia kehilangan nyawanya maka lebih baik dia tidak ingat kami selamanya." ucap Dania menatap dalam ke arah suaminya.


Dia merasa sangat rindu dengan suaminya itu. Namun takdir berkata lain.


Zico takjub dengan pemikiran wanita itu.


"Andai Kinan seperti ini nanti, untung aku tidak melupakan Kinan saat kondisi seperti ini." gumam. Zico.


Namun terdengar oleh Dania. Entah mengapa hal tersebut membuat Dania semakin sedih. Dania tidak selagi menahan air matanya.


Hik hik hik hik


Zico kaget saat melihat Dania menangis seperti anak kecil. Wanita itu nampak sangat cengeng sekali. Dia merasa baru kali ini melihat ada wanita secengeng Dania.


"Udah Jangan nangis lagi, kasihan dedeknya."


Zico lansung menghapus air mata Dania dengan kedua jempolnya. Entah mengapa melihat wanita itu menangis rasanya hatinya terluka. Ingin rasanya ia memeluk wanita itu agar bisa memberikan ketenangan.


"Boleh nggak aku memeluk kamu sebentar."


Zico bingung dengan permintaan wanita itu. Melihat Zico yang kebingungan, dengan cepat Dania berkata lagi agar lelaki itu tidak berpikir macam-macam.


"Jika nggak boleh nggak apa-apa, maaf aku lancang sekali, aku begitu karena kamu mirip dengan suami aku."


Akan tetapi baru saja berdiri, Zico lansung menariknya sehingga Dania jatuh di pelukannya.


Jantung Zico berdebar dengan kencang saat kulit mereka bersatu.


"aneh, kenapa jantungku berdebar seperti ini?" tanya Zico dalam hatinya.


Dania memejamkan matanya karena menikmati pelukan sang suami. Dia tidak tau lagi kapan dia bisa merasakan pelukan itu lagi.


"Sepertinya saat bersama Kinan aku tidak merasakan hal seperti ini."


Zico juga memejamkan matanya menikmati pelukan hangat itu.


"Wangi ini, seperti familiar."


Zico mencium wangi tubuh Dania yang memabukkan baginya. Dia suka aroma tubuh Dania. Sehingga dia ia tenggelam dalam pelukan hangat itu.


"I love you mas, I love you papa Jema." tanpa sadar Dania mengucap kata - kata itu.

__ADS_1


Zico merasa bahwa kondisi seperti ini seperti Dejavu.


"Kenapa kejadian ini seperti sering terjadi?' bathinnya.


Dania sadar dengan apa yang dia ucapkan. Dia segera menarik tubuhnya dari Zico.


"Maaf aku tidak sengaja." ucap wanita itu menatap Zico.


Zico tidak menghiraukan ucapan wanita itu. Dia tersenyum senang dan menarik tangan Dania lagi.


"I love You too sayang, I Love You too mama Jema."


Dania kaget dengan ucapan yang di lontarkan oleh Zico.


"Pasti itu yang di ucapkan papa Jema, aku tau itu." ucap Zico tersenyum lagi.


Hal tersebut membuat Dania senang. Walaupun bukan dari hati Zico tapi setidaknya dia akan mencoba agar lelaki itu bisa mengingat memori mereka.


Ditempat lain Alfi sedang bertemu seseorang. Dia adalah Daniel.


"uncle Daniel." panggil Jema.


"Iya sayang." Daniel merentangkan tangannya bersiap menyambut keponakannya.


"Uncle aku sudah kerjakan apa yang uncle suruh."


"Pintar." ucap Daniel sambil mengusap kepala Jema.


"Apa ada kabar terbaru?" tanya Alfi kepada Daniel.


"Sesuka kecurigaan aku sejak awal, wanita itu memanfaatkan situasi."


Alfi awalnya tidak percaya dengan keterangan yang di berikan oleh Daniel. Namun Daniel tetap bersikukuh bahwa ada yang tidak beres dengan semua itu.


"Aku terlalu percaya kepadanya, aku tidak akan maafkan dia, lalu apa rencana kita selanjutnya?"


"Biarkan Dania dan Jema di sisinya lebih lama, hal ini akan mencoba membuka memori mereka kembali."


Alfi menganggukkan kepalanya pertanda Ia setuju dengan Daniel.


"Aku besok akan kembali ke Indonesia, tapi selesai pekerjaan aku akan kesini lagi, tapi kamu tenang saja, anak buahku akan bekerja untuk semuanya." ucap Daniel.

__ADS_1


"Yah,aku juga tidak akan tinggal diam."


"Aku titip Dania dan Jema ya."


__ADS_2