
"Hai Guru Zico."
Zico balikan badannya ketika ada yang memanggil namanya. Dia melihat seorang wanita yang pernah di kenalnya dulu. Wanita itu tersenyum berjalan mendekatinya.
"Kamu lupa sama aku?" tanya wanita itu.
"Kamu Tante Melda?" tanyanya memastikan ingatannya benar.
"Iya, senang bertemu guru Zico kembali." ucapnya sambil tertawa.
"Ah Tante jangan memanggilku seperti itu."
"Dania kesini aku kenalkan dengan guruku." panggil Tante Melda.
Dania menenangkan ekspresi kagetnya karena Tante Melda memanggilnya guru kepada Zico.
"Ini guru yang pernah saya ceritakan, jika tidak ada guru Zico maka saya akan tetap jadi gelandangan." ucap wanita itu.
Dania pernah mendengar cerita tante Melda bahwa ia di bantu oleh seorang pemuda ketika diluar negeri. Waktu itu hidup Tante Melda sangat kacau sehingga hampir menjadi gelandangan di negeri orang.
"Guru ini adalah anak murid saya Dania, dia adalah murid saya pertama, dan Alhamdulillah bisnisnya sudah ramai di kunjungi anak muda, ini adalah yang guru ajarkan ke saya dulu, jadi hutang saya lunas." ucap wanita itu bersemangat melaporkan.
Zico ingat ketika membantu Tante Melda mereka membuat perjanjian. Perjanjiannya adalah mengajari seseorang untuk mempunyai skill memasak sehingga bisa dijadikan lapangan pekerjaan.
"Iya kamu sudah membagikan ilmu tapi jangan jadi saingan gua juga." bathin Zico.
"Kenapa guru diam aja? Ayo Dania tawarkan makanan yang paling enak untuk guru Tante." ucap Tante Melda membawa Zico duduk.
Zico hanya diam mengikuti perintah Tante Melda. Dia tersenyum ketika memikirkan bahwa tante Melda akan bisa di manfaatkan.
Tidak butuh lama Dania membawa makanan yang akan di sajikan. Zico menatap apa yang di sajikan oleh Dania.
"Ayo di hidangkan dan di ambilkan untuk guru ku Nia." ucap Tante Melda.
Dania terpaksa mengambilkan beberapa menu kepiting lelaki itu. Sedangkan Zico merasa menikmati saat ini.
"Kemana aja kamu selama ini?" bisik Zico ketika Dania persis di sampingnya.
"Anda tidak perlu tau." jawabnya santai.
Zico menyantap menu yang disediakan oleh Dania. Walaupun pengunjung restoran ini ramai akan tetapi dia merasa masakannya masih di atas masakan Dania.
"Apa Tante sudah mengajarkan dengan benar Tan?" tanya Zico.
__ADS_1
"Mohon maaf apa yang kurang guru?" tanya Tante Melda.
"Ini di bakar menggunakan api yang besar, dagingnya agak sedikit alot jadinya, kamu tidak mengajar bagaimana caranya dengan benar?"
Tante Melda langsung mencicipi hidangan yang dibawakan oleh Dania. Dia pun setuju dengan ucapan Zico.
"Guru benar, ini agak aneh rasanya."
"Benarkah? padahal aku sudah memasak seperti yang tante ajarkan."
"Orang lain Memang ini sudah enak, tapi bagi orang yang jeli, dia akan tau perbedaannya, jika kamu berjualan seperti ini aku jamin restoran kamu akan bertahan hitungan bulan, dan kalau begitu aku tidak perlu bekerja sama dengan restoran kamu." ucap Zico dengan angkuh.
Dania semakin kesal karena sudah empat tahun berpisah akan tetapi lelaki tetap sama yaitu menyebalkan.
"Jadi guru punya restoran sekitar sini? Dan guru ingin ajak Dania kerja sama? Aku setuju, ibu kesempatan yang sangat langkah." ucap Tante Melda semakin semangat.
Zico tersenyum senang dalam hatinya. Dia merasa beruntung karena telah di bantu oleh tante Melda.
Sedangkan Dania merasa tidak enak harus menolak keinginan tabte Melda. Dia terpaksa mengiyakan ajakan restoran Zico.
"Baik aku pamit dulu karena ada urusan."
Zico berpamitan dengan kedua wanita itu. Dia sudah lega karena pada akhirnya semua masalah restoran selesai.
Dania hanya diam tanpa menjawab ucapan Tante Melda. Hatinya berkecamuk saat ini. Dia memikirkan bagaimana nasibnya setelah bekerja sama nanti.
"Kenapa harus dia sih? Bisa gila aku jika bertemu dia terus - menerus." bathinnya.
Suasana sore ini begitu cerah. Dania dengan anggun berjalan menuju suatu tempat. Di tempat itu sudah ada Khalifah.
"Kamu pulang kesini makin susah di hubungi, mentang - mentang sudah sukses sendiri."
"Kakak ipar boleh diam nggak? Soalnya aku lagi mumet banget."
"Kenapa?"
"Aku ketemu Zico, eh dia malah jadi partner bisnis aku, aku terpaksa melakukannya."
Khalifah tertawa mendengar penjelasan dari adik iparnya. Dia tau bahwa Dania gengsi mengakui bahwa wanita itu masih ada rasa kepada mantan suaminya.
Khalifah masih ingat ketika Dania bercerai dengan Zico. Saat itu wanita itu benar-benar sedih dan tidak tau bagaimana cara melanjutkan hidupnya.
Karena terlalu lama memendam sedih, akhirnya Dania di perhentikan oleh papanya sendiri dari perusahaan.
__ADS_1
"Untung kamu bertemu Tante Melda, jika tidak kamu akan di rumahkan selamanya sama papa, kamu ambil hikmahnya saja."
Setelah selesai mereka akhirnya memutuskan pulang. Dania sudah yakin bahwa dia bisa melewati semuanya. Dia akan bisa menyelesaikan permasalahan apapun dengan mantan suaminya itu.
Hari demi hari telah terlewati. Dania dan Zico sudah resmi bekerja sama. Dari hubungan kerjasama ini mereka meraih untung yang luar biasa fantastis.
"Kamu mau kemana?" tanya Zico melihat Dania bersiap untuk pergi.
"Apa tanya - tanya? Terserah aku mau kemana, bukan urusan kamu."
"Sekarang jadi urusan aku karena kamu partner bisnis kamu." ucap Zico.
Tidak bisa di pungkiri bahwa Zico mulai menyukai Dania. Apalagi saat ini Dania sudah menggunakan jilbab. Zico tau bahwa dia tidak pantas untuk mendapatkan Dania yang sekarang. Dia terlalu banyak menyakiti wanita itu dulu.
"Aku mau pulang." jawab Dania dengan terpaksa.
"Tolong antarin aku, aku sedang tidak bawa mobil." ucap Zico lansung berjalan ke arah pintu keluar restoran.
Saat ini mereka memang berada di restoran milik Zico.Mereka bersama - sama sendang mengembangkan resep baru.
Dania menghembuskan nafasnya dengan kasar. Berdekatan dengan lelaki itu membuat emosinya meningkat berkali-kali.
Zico sudah duduk di kursi penumpang sebelah sopir. Sedangkan mobil sudah berjalan di kendarai oleh Dania.
"Kemana nih?"
"Rumah lama kita, aku masih belum pindah."
Dania tidak menjawab lagi. Dia hanya fokus pada jalan yang dia lewati.
"Kenapa kamu memblokir nomor aku?" tanya Zico lagi.
"Aku rasa aku tidak punya untuk menjawab pertanyaan kamu." jawab Dania cuek.
"Terus kenapa kamu akhirnya belajar memasak?"
"Karena itu kemauan aku sendiri dan tidak perlu aku jelaskan kepada kamu, atau bisa saja untuk menghancurkan kamu." ucap Dania sambil tersenyum mengejek.
"singgah ke supermarket market dulu, aku mau beli sesuatu." ucap Zico lansung menunjuk ke arah supermarket mewah yang tidak jauh dari rumah kediamannya Raka.
Mereka masuk kedalam supermarket. Zico berjalan di depannya dan Dania seperti biasa akan berjalan di belakang Zico.
Zico sengaja memperlambat gerakannya dalam memilih lagi karena ia ingin bersama lebih lama lagi.
__ADS_1