
Dania nampak turun dari kamarnya bersama dengan gadis cantik. Dia lansung membawa Jema menuju meja makan.
"Wah sudah cantik cucu opa." ucap papanya Dania lansung memeluk cucunya.
"Opa uga ganteng, Opa au ke kantor? ( Opa juga ganteng, Opa mau ke kantor?)."
"iya sayang, habisnya uncle Daniel kadang bandel, jadi opa harus sering-sering ke kantor."
Jema tertawa mendengar opanya menjelekkan uncle nya. Jema sangat mengangumi uncle Daniel yang tampan menurutnya.
"Celamat Agi Oma (Selamat pagi oma)." sapa Jema kepada Omanya.
"Pagi sayang."
Dania memakan sepotong roti, lalu berdiri dengan tergesa - gesa.
"Pa, ma aku berangkat duluan."
"Kok buru - buru banget, baru sedikit sarapannya." ucap mamanya.
"Buru - buru ma."
"Hahahaha mama ada - ada aja, dia kalau lapar tinggal makan ma, toh di restoran dia banyak makanan." ucap papanya sambil tertawa.
"Dia koki tapi nggak pernah masak di rumah, lagian mama aneh aja, kenapa dia tiba-tiba terpikirkan untuk menjadi koki, padahal dia sangat jago dalam marketing."
"Biar ajalah ma, yang penting dia bahagia dan berubah menjadi yang lebih baik."
"Terima kasih papa, sayang papa." ucap Dania akhirnya tinggalkan meja makan.
Saat sampai di luar rumahnya, dia sangat keget ketika sebuah mobil membunyikan klaksonnya.
"Bukannya itu mobil Zico? ngapain dia di sini?" tanya Dania mendekati mobil itu.
Zico lansung keluar dari mobilnya. Dia berjalan sambil tersenyum,lalu membukakan pintu mobil untuk Dania.
Melihat Zico yang tersenyum membuat detak jantung Dania berdetak tidak normal seperti biasa.
"Gagah." gumamnya.
"Selamat pagi mamanya Jema."
Mendengar nama anaknya di sebut membuat Dania kaget. Dia takut jika suatu saat nanti Zico mengetahui bahwa Jema adalah anaknya.Dia takut lelaki itu akan mengambil anaknya.
"Pagi, tumben pagi - pagi sudah di sini."
__ADS_1
"Aku akan menjemput mama Jema setiap pagi dan mengantarkannya ketika pulang."
"Tidak perlu."
"Aku melakukan untuk Jema, aku akan memastikan mama Jema selamat sampai rumah agar bisa menjaga Jema dengan baik sampai Jema dewasa."
"Kamu tidak perlu melakukan apapun, lagian Jema tidak ada hubungannya dengan kamu."
"Tidak apa-apa kamu bicara seperti itu, tapi aku sudah tau semuanya, tapi kamu tenang saja aku tidak akan memisahkan dari kamu selamanya."
"Kamu serius udah tau?"
Zico menganggukkan kepalanya.
"Aku paham kamu berbuat seperti itu, aku juga nggak akan memaksa kamu untuk memberi tau Jema siapa ayahnya dalam waktu dekat."
"Baik, terima kasih."
Dania tersenyum senang ketika melihat Zico mau mengerti apa yang dia mau. Dania akhirnya setuju untuk masuk kedalam mobil Zico.
Zico tersenyum sambil mengintari mobilnya. Dia masuk kedalam mobil sambil tersenyum. Mobil berjalan dengan perlahan.
"Boleh aku bertanya?" ucap Dania memulai pembicaraan di dalam mobil.
"Kamu boleh bertanya apapun." jawab Zico menatap Dania sekilas.
Zico tersenyum mendengar pertanyaan dari mulut wanita itu. Dania aneh melihat Zico yang selama hari ini banyak tersenyum. Dan ini karekater Zico yang berlawanan.
"Entahlah, mungkin aku tidak menemukan wanita secantik kamu."
"Jawab serius ko, toh kamu juga pernah dekat dengan Tiara."
Zico mengingat bagaimana kedekatannya dengan Tiara. Lalu ia mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
"Saat kita bercerai, aku memang sedang dekat dengan Tiara, Tiara wanita Sholehah yang aku mau saat itu, namun ketika kami ingin serius, saat itu hatiku tidak siap, aku ragu berumah tangga dengannya."
"Lalu?"
"Aku tidak bisa menikahi Tiara, jadinya aku memilih mundur, bagi aku Tiara bisa menemukan jodoh yang sesuai dengannya, jodoh yang jauh lebih baik dari aku."
"Nah kamu sendiri kenapa masih sendiri" tanya Zico balik.
"Aku juga tidak tau, mungkin tidak ada yang mau menikah karena aku ini seorang janda yang punyak bontot satu." jawabnya sambil tersenyum.
"Bagus dong."
__ADS_1
"Apanya yang bagus?"
"Nggak apa - apa, tapi ini suatu yang bagus bagiku, kita mau kemana dulu?" tanya Zico lagi.
"Kita lansung ke tempat kamu saja, aku ingin mengajarkan kamu tips marketing."
"Dengan senang hati."
"Tapi aku mau kamu masakin aku nanti, sepertinya satu jam lagi aku bakalan kelaparan."
"Aku yang sangat pengen memakan masakan kamu, sesekali boleh ya." ucap Zico mengerling satu matanya.
"Boleh, lain kali aku masakkan."
"Terima kasih."
Mereka telah sampai di kantor Zico atau restoran pusat Zico. Dania nampak bersemangat dalam membagikan ilmunya kepada Zico dan karyawan - karyawan Zico di bagian marketing.
Pembelajaran sangat antusias karena semua peserta tertarik dengan tema yang di kembangkan oleh Dania.
Setelah selesai mereka berdua lanjutkan dengan kegiatan memasak memasak. Keduanya sangat gembira, tidak seperti dulu sehingga membuat hubungan mereka hampa.
Zico tersenyum senang karena Dania akhirnya bisa menjadi koki. Mereka makan bersama sambil di berbincang-bincang.
"Kenapa kamu akhirnya ingin menjadi koki?" tanya Zico.
"Mungkin karena kamu." jawab Dania pendek sambil memasukkan sendok makanan kedalam mulutnya.
"Serius?"
Dania menganggukkan kepala sehingga membuat Zico tersenyum manisnya.
Di tempat lain nampak Jema sedanga bermain bersama dengan Omanya. Dia begitu senang bermain dengan Omanya.
"Selamat siang Jema."
"Papa." ucap Jwma lansung berlari memeluk Deyon.
"Aduh kangen sekali papa sama kamu, mana besok papa harus keluar kota."
"ngapain Yon?"
"Itulah Tan, aku di suruh adik Tante itu untuk mengurus perusahaan cabang di sana Tan."
"Hati di sana, ketika selesai segera pulang."
__ADS_1
"Iya Tante."
Jema senang karena bermain bersama Deyon. Sejak kecil dia selalu dekat dengan Deyon.