
Semenjak Zico banyak tau tentang informasi masih tentang Dania, membuatnya lebih sering mengunjungi Dania. Walaupun senang lelaki itu menghampirinya, akan tetapi membuat wanita itu kadang kesal juga.
Yang membuat dia pusing adalah ketika lelaki itu seperti anak bocah adu mulut dengan Deyon. Tidak ada yang mengalah satupun. Seperti saat ini.
"Kamu itu sepupunya, jadi nggak usah bersaing dengan aku."
"Sepupu juga boleh nikah, jadi siapa bilang kamu bisa kembali bersama dia, di mana - mana yang sudah pernah gagal itu jangan diulang lagi."
Zico tidak terima dengan ucapan Deyon. Hatinya merasa tidak nyaman mendengarnya.
"Kamu tidak tau apa - apa, lagian kamu sudah punya wanita lain."
"Aku di tinggal karena kamu kan?"
"Masa kamu mau jadikan Dania sebagai pelarian kamu?" tanya Zico tidak menyukai Deyon.
"Lalu bagaimana dengan kamu? Kamu sangat mencintai Tiara,lalu kenapa sekarang sibuk deketin aku?" tanya Dania lansung membuat Zico terdiam.
Deyon tertawa ketika Dania memberi skakmat kepada Zico sehingga lelaki itu terdiam.
"Itu...itu aku..." lidah Zico seperti kelu menjelaskan.
"Sudahlah lupakan saja, lagian aku hanya bercanda." ucap Dania akhirnya berdiri dari duduknya.
"Yok Yon, hari ini kita ada janji dengan Jema."
"Ayokk."
Dania dan Deyon melangkahkan kakinya meninggalkan Zico. Zico menatap keduanya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Aku tidak bisa diamkan, bagaimanapun Jema adalah anak aku." bathin Zico.
Zico mengejar keduanya. Saat sampai di depan mobil, dia lansung berkata.
"Aku akan ikut bersama kalian."
Deyon dan Dania tertawa mendengar ucapan Zico.
"Hahahahha kamu siapa? Melawak aja kamu pengen ikut kami segala." ucap Deyon mengejek.
"Tidak apa-apa kalian ketawain aku, aku akan tetap ikut kalian karena bagaimanapun Jema adalah anak aku." ucap Zico.
"Hahahhaha anak kamu? Lalu kenapa dia panggil aku papa? Kemana aja kau men?" tanya Deyon tertawa dan diikuti oleh Dania.
"Udahlah nggak usah layan dia, ayo masuk." ajak Dania.
Zico dengan cepat membuka pintu mobil Deyon. Dia sudah duduk di kursi penumpang bagian belakang.
"Kamu ngapain masuk ke mobil aku?"
"Aku tidak akan turun."
Dania merasa Zico sangat kekanak-kanakan. Karena dia bisa aja mereka terlambat untuk menjemput Jema.
Deyon akhirnya malas berdebat lagi membiarkan lelaki itu duduk di mobilnya. Sepenjang perjalanan suasana di mobil sangat tidak mengenakkan. Semua sibuk dengan pemikiran masing-masing.
__ADS_1
Mereka telah sampai di rumah Dania. Zico tidak mau kalah. Dia ikut turun ke rumah Dania.
Pak Robert yang kebetulan sedang di rumah kaget dengan istrinya ketika melihat kedatangan Zico. Selama ini Zico hanya menunggu di mobil di halaman rumah Jika datang menjemput Dania.
"Selamat siang pa, ma, apa kabar?" Zico menyalami kedua orang tuanya Dania.
"Baik." jawab papa Dania.
Berbeda dengan papa Dania, mama Dania hanya diam saja tanpa menanggapi Zico.
"Ngapain dia kesini?" bathin mama Dania kesal.
"Jema udah siap ma?" tanya Dania menyadari mamanya kesal dengan Zico.
"Sudah, mau jalan ya?"
Dania menganggukkan kepalanya. Tidak lama kemudian Jema keluar dari kamarnya.
"Papa....."
Jema lansung berlari ke pelukan papanya. Deyon tersenyum mencemeeh Zico saat Jema memeluknya ketimbang papanya.
"Sayangnya papa, Jema sayang papa nggak?"
"Cayang dong papa ( sayang dong papa)." ucap gadis itu dengan imut tanpa di buat - buat.
Tiba-tiba Jema melihat kejadian lelaki lain. Dia menatap lelaki itu.
"Om ciapa?aku liat mama pelna liat oto om loh ( Om siapa? Aku liat mama perna liat foto om loh)."
"Kamu ngomong apa cantik" tanya Zico mencoba bertanya agar dia paham apa yang di ucapkan Jema.
"Udah ah nggak penting banget, ayo kita berangkat." ucap Dania mencoba mengalihkan pembicaraan.
Zico merasa curiga dengan ucapan Jema tadi. Dia merasa ini ada hubungannya dengan dirinya.
Zico untuk sementara hanya banyak diam. Dia tidak ingin gegabah sehingga bisa membuat Dania semakin marah sama dirinya.
"Om jahat Napa ikut kita ma?"
Zico kaget ketika mendengar anaknya memanggilnya om jahat. Sedangkan Deyon tertawa senang mendengarnya sambil menyetir mobil.
"Diam kamu." ucap Zico ke arah Deyon.
Setelah itu mereka hanya diam
Sedangkan Jema berceloteh kecil mengomentari apa yang nampak di matanya.
Mereka bermain bersama dengan riang. Dania tidak ada melarang anaknya bermain dengan papanya. Karena baginya Zico tetap papanya. Dan Jema juga akan tau suatu saat nanti.
Saat Deyon sibuk menelpon, sedangkan Dania sedang ke toilet. Zico merasa itulah waktu yang cocok mendekati anaknya.
"Jema naik mobil itu yuk, asik banget loh."
"Tapi om kan jahat."
__ADS_1
Zico kaget ketika anak itu mengatakan bahwa dirinya om jaga lagi.
"Kenapa Jema mengatakan bahwa om jahat?" tanya Zico jongkok menyetarakan posisi mereka.
"Kalna mama pelna angis liat foto om ( Karena mama pernah nangis liat foto om)".
"Kapan mama nangis liat foto om?" tanya Zico penasaran.
"Seling dulu, tapi sekalang udah ****** ( Sering dulu, tapi sekarang udah jarang)"
Walaupun begitu Zico merasa hatinya sangat bahagia sekali.
"Itu artinya mama kamu sayang sama om?"
"Cayang sepelti aku cayang mama, belalti mama uga cayang papa ( Sayang seperti aku sayang mama, berarti mama juga sayang papa)."
"Tidak, hanya ada kita bertiga."
"Kenapa?"
"Karena itu bukan papa Jema."
"Itu papa Jema." Jema tidak terima karena Zico mengatakan deyon bukan Papanya.
"Jema tenang dulu, biar om terangkan, jika Jema berontak nanti om nggak akan kasih tau rahasia mama."
"Apa itu lahasia om ( apa itu Rahasia om)?" tanya Jema.
"Yang di sembunyikan mama sama kamu, dan mengenai foto yang di lihat mama, ingin tau nggak?"
Jema menganggukkan kepalanya. Dia mencoba untuk mencari kekuatan dari gadis cilik ini.
"Jema janji tidak akan nangis dan marah?" Zico bertanya.
Jema menganggukkan kepala lagi.
"Om Deyon bukan papa Jema, yang papa Jema adalah om, dulu mama dan papa tinggal serumah, tapi mama ngambek sama papa, akhirnya mama pergi saat itu."
"Om pasti nakal?"
"Iya om sangat nakal , makanya mama tinggalkan papa, tapi papa akan berusaha membuat keluarga kita utuh lagi."
"Cepelti apa om ( seperti apa om)?"
"Kamu lihat anak itu, dia anak mama dan papanya, kamu mau nggak kita tinggal serumah lagi?"
Jema menganggukkan kepalanya. Dia senang karena dalam waktu dekat dia akan tidur dengan papa dan mamanya.
"Kalua Jema mau, maka Jema harus bantu papa."
"Apa pa?"
Zico senang karena akhirnya Jema memanggilnya papa. Lalu Zico membisikkan sesuatu ke telinga Jema sambil tersenyum bahagia.
Kira - kira apa yang di bisikkan oleh Zico kepada Jema?
__ADS_1