
"Mama."
Dania menoleh ke belakang dan mendapati seorang gadis cantik berdiri bersama seorang lelaki.
Zico cukup kaget ketika anak itu memanggil mama kepada Dania. Beberapa hari bertemu dia belum sempat bertanya status Dania saat ini.
"Mama di cini uga?"( mama di sini juga).
Dania jongkok agar menyamakan posisinya dengan anak berumur Kurang lebih 3 tahun.
"Iya sayang, kamu lagi apa di sini?"
"Agi bocan di Uma ma, makanya pelgi cama papa." ( lagi bosan di rumah ma makanya pergi sama papa).
"Pintarnya." ucap Dania mencium anak wanita itu.
"Gila, jadi setelah cerai dari aku dia lansung menikah?" bathin Zico merasa emosi di dadanya.
"Aku pamit dulu, kamu tidak perlu mengantarkanku." ucap Ziko akhirnya pergi meninggalkan Dania. Dia merasa sakit hati melihat keluarga itu.
"Ciapa ma?" ( siapa ma?).
"Teman kerja mama." ucap Dania dengan wajah ragu.
Dania berdiri dari jongkoknya lalu tersenyum kepada lelaki yang ada di sana.
__ADS_1
"Terima kasih Yon telah jaga Jema." ucap Dania kepada lelaki itu.
"Sama - sama, Jema sudah aku anggap sebagai anakku sendiri, jadi santai aja."
"Kok malah oblol ma, ayo kita ain." ( kok malah ngobrol mah ayo kita main)." ajak Jema.
Dania akhirnya mengikuti kemana Jema pergi.Mereka bermain sepuasnya. Sedangkan dari jauh sepasang mata menatap mereka dari tadi.
...****************...
Dania telah datang ke restoran Zico ketika selesai bekerja. Hari ini dia dan Zico akan mencoba menu baru.
Selain kerja sama yang di tawarkan, di restoran Dania tidak boleh menjual menu yang sama dengan restoran Zico. Dan restoran Dania menjadi bagian dari Z group.
Dania merasa aneh dengan sikap Zico hari ini. Sejak tadi lelaki itu hanya mendiamkannya. Keberadaannya hanya seperti angin di sini. Lelaki itu hanya sibuk memasak.
Sedangkan Zico mencoba mengingat bayangan anak dan lelaki yang di temuinya tiga hari yang lalu. Dia juga bingung kenapa hatinya sakit ketika melihat Dania bersama keluarganya.
"Maaf, apa yang aku lakukan?" Dania mencoba memecahkan keheningan di dapur itu.
"Terserah kamu."
Dania semakin kesal karena jawaban dari lelaki itu.
"Rasanya ingin ku ucek - ucek kepala mu." gumam Dania kesal banget. Namun dia masih menahan diri.
__ADS_1
"Jika aku tidak di butuhkan mending aku pergi saja."
"Terserah kamu, hidup - hidupnya kamu."
"Hey, kan kamu yang ajak aku kerja sama, sekarang kenapa seperti ini? Waktu aku sangat berharga, jadi tolong jangan buang waktuku." ucap Dania meluapkan kekesalannya.
Zico menghentikan pekerjaannya lalu membalikkan tubuhnya.
"Jika waktumu terbuang dari sini, saja pergi pulang, jangan di sini, temani sana keluarga kamu." Zico akhirnya meluapkan kekesalannya juga.
Dania semakin bingung dengan sikap lelaki ini. Merasa malas untuk meladeni Zico akhirnya dia memilih pergi.
"Ya sudah, bye." ucap Dania melepaskan celemek lalu keluar dari ruangan khusus itu dengan membanting pintu depan keras.
BAMMMMM
Zico memegang dadanya. Walaupun Dania sudah memakai jilbab namun sikapnya mengingatkan Zico ke masa lalu.
"Kenapa aku harus kesal dengan dia? Kan aku sudah menceraikan dia jadi wajar dia menikah lagi."
Zico mencoba mengejar Dania. Ketika Zico sudah sampai di depan restoran, dia melihat Dania sudah tidak ada di tempat.
Zico mengganti bajunya dengan stelan biasa. Dia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia mencari tempat untuk balik haluan. Restoran mereka berada di sebrang jalan. Bisa saja menyebrang dengan jalan kaki,namun bagi Zico itu akan memakai waktu terlalu lama karena juga sedang ramai.
Namun saat dia memarkirkan mobilnya, dia melihat Dania sedang berjalan dengan lelaki yang bertemu dengannya di mall.
__ADS_1
Mereka tampak menaiki sebuah mobil putih. Senyum di wajah Dania nampak begitu indah.
"Dania tidak pernah tersenyum seindah ini saat bersama aku, sepertinya lelaki itu bisa membahagiakan dia." bathin Zico menyadari kesalahannya.