Volume Cinta Dania

Volume Cinta Dania
Bab 12


__ADS_3

Zico merasa kesal dengan Dania. Dania membawa kotak obat di tangannya menuju ruang keluarga. Namun bukannya senang, Zico malah mengambil kotak tersebut dari tangan Dania.


"Biar aku saja."


"Tapi kamu....."


"Aku bisa sendiri,jadi kamu tidak usah repot-repot." ucap Zico berdiri dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Dania.


Dania merasa tidak aneh dengan sikap dingin Zico kepadanya. Sikap ini tentu saja berbeda dengan pertama mereka bertemu.


Akan tetapi dia sudah terbiasa dengan sikap Zico begitu. Akhirnya dia hanya tersenyum menatap punggung lelaki itu.


Esok paginya Dania sudah duduk di meja makan sambil mengoleskan selai ke rotinya. Dia sudah mulai terbiasa menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Dan sarapannya adalah hanya roti seperti ini yang dia bisa.


Zico baru saja turun dari lantai dua. Dia melihat Dania yang duduk sarapan di meja makan. Zico mengalihkan pandangannya ketika melihat wanita itu memakai piyama transparan.


"Apa- apaan dia ini? Sepertinya sengaja memakai baju seperti itu, pagi - pagi udah mencoba menggoda aku, dia kira aku akan tergoda dengan dia lagi." ucap Zico dalam hatinya.


Zico tambah kesal melihat Dania pagi Entah Kenapa dia begitu muak melihat wanita itu.


Zico kembali membalikkan badannya untuk kembali ke kamarnya. Dia tidak ingin darah tinggi karena berdebat dengan Dania.


Dania yang melihat Zico berbalik badan saat melihatnya hanya terdiam. Ada sedikit luka di hatinya namun ia tidak mau merusak suasana hatinya sendiri.


Setelah berminggu-minggu hubungan mereka tidak ada kemajuan sama sekali. Dania merasa bosan menjadi istri Zico. Dia tau bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.


Dania kaget saat mamanya tiba - tiba berkunjung datang kerumahnya. Setelah beberapa bulan pernikahan, mamanya jarang datang kerumah. Biasanya dia kadang Zico yang datang kerumah kedua orang tuanya.


"Kemana Zico?" tanya mamanya melihat rumah sepi.


"Zico...Zico ada kerjaan ma." jawab Dania.


Padahal Dania tidak tau kemana perginya suaminya. Karena suaminya tidak pernah berpamitan dengan dirinya. Meskipun dia tau tempat kerja Zico namun dia tidak pernah berkunjung ke sana.


"Kamu nggak tau kalau suami kamu hari ini ada hati penting?" tanya mamanya.


Dania bingung karena tidak tau acara penting hari ini. Dia memang tidak pernah di kasih tau apa agenda suaminya.


"Ah aku lupa ma, emang acara apa ma?" Dania berpura - pura lupa supaya mamanya tidak merasa janggal dengan rumah tangganya.

__ADS_1


"Kamu benaran lupa atau Zico memang tidak memberi tau kamu agendanya?" tanya mamanya dengan curiga.


"Benaran ma, Zico udah kasih tau tapi mama tau sendiri bahwa aku juga banyak agenda di kantor, jadi aku benaran lupa."


"Ya sudahlah, cepat mandi dan ganti baju karena acaranya sudah mau di mulai, pakai baju yang paling bagus."


"Acara apa sih?" tanya Dania dalam hatinya. Namun dia tidak mau bertanya lagi kepada mamanya karena takut mamanya curiga kebohongannya.


Tidak sampai satu jam Dania telah turun kembali memakai dress. Dia memakai dress yang tidak terlalu terbuka. Karena dia tidak mau mendengarkan ocehan mamanya.


Dania masih bertanya-tanya dalam hatinya ketika dalam perjalanan. Dia benar-benar kesal dengan Zico.


"Seharusnya acara penting seperti ini dia harus kasih tau, walaupun pernikahan ini seperti di neraka, tapi ini kan demi orang tua, awas aja dia nanti." bathinnya Dania.


Dania bingung ketika melihat mobil berhenti di sebuah restoran baru. Nampak banyak karangan bunga berjejer di sepanjang jalan.


Dania paham bahwa ini cabang dari restoran tempat Zico bekerja. Namun ia tidak habis pikir dengan keluarganya yang begitu antusiasnya.


"Ah buka cabang restoran tempat dia bekerja? Kirain acara penting apa." gumam Dania.


Dania hanya ikut kemana langkah kaki mamanya. Namun tiba - tiba dia tertegun melihat Zico dari jauh. Lelaki itu nampak sedang berbincang dengan dengan seorang wanita.


"Senyum itu menghilang karena hidup bersamaku." bathin Dania.


Dania merasa speechless ketika melihat bagaimana senyum Zico. Zico sepertinya bahagia sekali. Dania melihat dengan siapa suaminya berbicara.


"Tiara." gumamnya.


Mama Dania menyadari bahwa anaknya lama terdiam di tempat. Pandangan mamanya tertuju kemana pandangan anaknya.


"Ngapai bengong di sana? Ayo samperin suami kamu." ucap mamanya mendorong anaknya.


"Ya ma." jawab Dania.


Dania enggan untuk berjalan mendekati Zico dan Tiara. Namun mamanya sudah berjalan di sampingnya.


"Ini Zico, ayo Dania." panggil mamanya Dania membuat Zico menoleh ke arah Dania.


Zico agak kaget melihat kedatangan Dania dan mamanya. Dia tau bahwa keluarganya yang mengundang keluarga Dania.

__ADS_1


Zico melihat sekilas ke arah Dania yang hanya menundukkan kepalanya. Dia tau bahwa wanita ini terpaksa ikut ke acara ini. Dan dia juga melihat baju Dania yang tidak begitu seksi namun tetap saja tidak begitu menarik bagi Zico.


"Selamat Zico atas keberhasilan buka cabang baru restoran kamu."


Dania lansung kaget mendengar ucapan mamanya.


"Restoran punya dia?" tanyanya dalam hati.


"Makasih ma, semua ini berkat doa keluarga dan teman-teman."


"Ayo ucapkan selamat kepada suami kamu, malah diam aja." ucap mamanya.


Dania mengulurkan tangannya dengan ragu - ragu.


"Selamat ya ko, semoga makin sukses." ucap Dania memaksakan untuk tersenyum.


"Terima kasih." jawab Zico dengan singkat.


"Nah di sini ternyata pemilik acara." mama Zico dan keluarga ada di sana juga.


"Lebih afdal jika kita foto bareng." ucap papa Zico.


Khalifah dan Daniel juga berada di sana. Khalifah melihat ada kesedihan di mata Dania. Dia merasa ada yang aneh dengan pernikahan Dania. Apalagi Khalifah melihat bagaimana Zico berbicara dengan Tiara berbeda ketika berbicara dengan Dania.


Setelah acara berfoto-foto selesai, Dania memilih untuk menyendiri. Dia mencoba untuk menghindar dari keluarganya atau keluarga Zico. Dia hanya menatap Zico yang sibuk menemui pelanggan yang datang.


Dia juga melihat ada beberapa orang penting yang datang di acara tersebut. Dari sana dia tau bahwa suaminya ternyata orang kaya.


"Bodoh, jelas dia kaya, papanya aja pemilik waralaba terbesar di Asia tenggara." gumamnya.


"Tapi di rumah tidak di sediakan pembantu, berarti dia lelaki pelit." ucap wanita itu lagi.


Dania berdiri dari duduknya. Dia sedang malas untuk berada di sana. Dania memilih untuk pergi meninggalkan acara tersebut.


Entah kenapa dia pergi dengan air mata yang berlinang. Dia berjalan meninggalkan restoran dengan hati sedih.


"Sepertinya Melepaskan kamu adalah hal yang terbaik." ucapnya sambil tersenyum.


Zico melihat Dania keluar dari restorannya. Niat hati hendak mengejar wanita itu namun tidak jadi karena ada sahabat lamanya yang baru saja masuk.

__ADS_1


__ADS_2