
Zico sedang sibuk dengan berkeliling untuk survei restoran barunya. Dia ingin tau bagaimana antusias masyarakat terhadap restorannya.
Papanya tersenyum senang karena sang anak berhasil mengaplikasikan apa yang ia inginkan. Sedangkan bisnis waralaba papanya juga terus berkembang.
"Papa bangga dengan kamu, walaupun kamu tidak mau mengurus bisnis waralaba papa, tapi kamu berhasil menyamakan kedudukan bisnis kamu."
"Terima kasih pa, semua ini karena doa dan bantuan dari papa dan mama."
"Papa berharap Alfi mau mengurus usaha papa."
"Aamiin pa."
"Mama tanya bagaimana kabar istri kamu? Apakah sudah hamil?"
Mendengar pertanyaan papanya membuat Zico terdiam sesaat.
"Bagaimana hamil, di sentuh aja belum." bathinnya.
"Ko kok melamun?" tanya papanya membuyarkan lamunan Zico.
"Belum ada pa, mama nggak usah pikirkan itu, jodoh, maut dan anak itu urusan Allah pa, lagian kami masih muda, kamu masih ingin menikmati berdua dulu pa."
"Papa sependapat dengan kamu, cuma mama kamu tanya terus, malahan mama ingin Dania berhenti aja bekerja agar bisa cepat hamil." Ucap papanya.
"Biarkan saja dulu pa, kasihan juga jika Dania di rumah sendirian, pasti dia bosan, lagian bekerja di kantor papanya sudah menjadi impian dia sejak dulu pa." ucap Zico menjelaskan kepada papanya.
"Ya sudah papa mau pergi dulu." papanya pamit kepada Zico.
Zico tersenyum menatap kepergian papanya. Dia tidak tau bagaimana reaksi kedua orang tuanya jika mereka tau bahwa dia dan Dania belum sepenuhnya menjadi suami istri.
Zico lalu menatap seorang wanita berkerudung biru masuk ke restoran miliknya. Wanita itu tanpa bersahaja namun auranya menarik. Dia memakai plisket biru lalu di padukan dengan tunik abu-abu.
"Assalamualaikum Tiara." Zico memberikan salam kepada wanita itu.
Wanita itu nampak mengerutkan keningnya ketika Zico menyebut namanya. Dia mengingat siapa lelaki itu.
"Zico?" tanyanya.
"Iya aku Zico, kamu masih ingat aku?"
"Kamu ngapain di sini?" tanya Tiara kepada Zico.
"Ini restorannya aku, kamu ngapain?"
__ADS_1
"Aku ada janji sama teman."
Mereka lalu mencari meja yang kosong. Lalu Zico memanggil pelayanannya. Pelayan datang dengan membawa buku menu.
"Antarkan makanan dan minuman special di sini." perintah Zico.
"Baik pak."
Pelayan meninggalkan meja mereka. Tiara merasa tidak enak dengan Zico. Apalagi temannya juga belum kunjung datang.
"Bagaimana kabar istri kamu?"
"Alhamdulillah baik."
"Kirim salam dari aku, semoga kalian cepat dapat momongan."
Zico hanya diam tanpa merespon ucapan Tiara. Tiara merasa adah yang aneh dengan Tungka Zico.
"Eh itu teman aku datang." ucap Tiara melambaikan tangannya agar temannya melihat dia.
Teman Tiara mendatangi meja tersebut. Dia sangat kaget saat melihat pemilik restoran tersebut duduk dengan temannya Tiara.
"Baik karena teman kamu sudah datang maka aku pergi dulu." pamit Zico.
Zico meninggalkan meja Tiara dan temannya. Temannya lansung tersenyum menatap Tiara.
"Pacar kamu?"
"Bukan."
"Kirain, kok bisa kenal?"
"Karena suatu hajatan." jawab Tiara merasa malas untuk membahas Zico.
Tiara mengakui bahwa dia sudah terpikat dengan Zico sejak awal berjumpa. Namun sayang waktu itu dia melihatnya di pelaminan saat bersama Dania.
Sedangkan di tempat lain, Dania nampak kerepotan sendiri dengan baju yang ia pakai. Baju ini adalah pembelian dari Zico.
Dia merasa tidak cocok dengan beberapa model. Hari ini saja baju tersebut sudah menyusahkan dia.
"Kayaknya aku harus belanja diam - diam, dan saat mau pergi pakai baju yang ia belikan laku ketika di kantor baru aku ganti deh." ucap Dania tersenyum memikirkan cara itu.
Dania sedang berada di sebuah pusat dia tersenyum senang saat melihat beberapa baju yang dia inginkan.
__ADS_1
"Cantik - cantik" ucapnya memilih baju sesuai keinginannya.
Sedangkan ditempat yang sama Aldi sedang berkeliling di pusat pembelanjaan. Dia tersenyum senang saat melihat betapa ramainya pengunjung yang datang mengunjungi mallnya.
Tiba-tiba saat melewati toko baju di lantai dua, tidak sengaja dia di tabrak seseorang.
"Maaf mas, maaf." ucap wanita dengan stellan kantor. Akan tetapi Aldi tersenyum saat melihat bajunya yang sepertinya kebesaran.
"Tidak masalah mbak, apa butuh bantuan saya?" tanya Aldi sambil tersenyum ramah.
"Nggak apa-apa mas, saya sedang terburu-buru mau ke kantor."
"Baik mari saya bantu antarkan tentengan anda ke mobil." ucap Aldi.
Aldi sebagai direktur mall tersebut merasa senang saat melihat Dania. Dia merasa lucu melihat gadis tersebut.
"Aku Aldi, ini dengan mbak siapa?" tanya Aldi tersenyum menerima tentengan Dania.
"Aku Dania."
"Nama yang cantik secantik orangnya." ucap Aldi membuat Dania tersenyum senang.
Mereka berjalan di iringi oleh beberapa anak buah Aldi.
"Ini mall milik kamu?" tanya Dania membuka pembicaraan saat mereka berjalan menuju lantai satu.
"Bukan, aku hanya bekerja di sini, ini milik keluarga aku."
"Hahahah, apa bedanya?"
"Ya tentu beda, aku hanya menjalankan tugas bagaimana bisa membuat ini semakin pesat, setidaknya bisa mempertahankanlah." ucap Aldi.
Entah mengapa Dania merasa sangat cocok berbicara dengan Aldi. Baru pertama jumpa akan tetapi dia merasa karakter mereka sama.
Mereka telah sampai di mobil Dania. Aldi memasukkan barang belanjaan Dania.
"Ini kartu nama aku, hubungi aku lagi ya, kita bisa ngopi di lain waktu." ucap Aldi tersenyum sambil memberikan kartu namanya.
"Baik, aku akan hubungi kamu nanti z aku tunggu traktiran dari kamu, dan ini kartu nama aku." ucap Dania.
"Baik secepat mungkin."
Dania masuk ke dalam mobil sambil tersenyum. Sepanjang perjalanannya dia hanya tersenyum mengingat pertemuan dia dan Aldi.
__ADS_1
"Sepertinya karakternya menyenangkan, tidak seperti Zico membosankan." gumamnya tersenyum.