
Dania sudah berada di taksi menuju rumahnya. Dia sudah memutuskan dengan baik. Dia merasa inilah yang terbaik untuk mereka berdua.
Dania sesekali tersenyum menertawakan dirinya sendiri. Cintanya terlalu besar untuk Zico. Namun untungnya dia tidak menunjukkan dengan jelas kepada laki-laki itu.
Dania mencoba kembali mengingat kejadian saat ia baru datang di restoran terbaru Zico. Bayangan Zico tersenyum bahagia bersama Tiara membuat ada yang sakit di dadanya.
"Bodoh, jelas tipe dia seperti Tiara, kan awalnya dia juga suka Khalifah." ucap Dania dalam hatinya.
Taksi berhenti di depan rumahnya. Dania lansung membuka pintu rumah. Namun belum ia masuk ternyata sebuah mobil juga berhenti di depan rumahnya.
Dania melihat ada Daniel dan Khalifah. Dia sedikit kaget ketika mereka mengetahui kepergiannya dari acara itu.
"Kok kalian di sini? Aku sedang tidak enak badan makanya pulang duluan." ucap Dania mencoba tersenyum menjelaskan kepada mereka.
"Kamu tidak usah berakting lagi di depan kami, kami sudah melihat dengan mata kepala kami sendiri, coba kamu jelaskan apa yang terjadi di dalam rumah tangga kalian?" tanya Daniel.
Dania ragu untuk bercerita kepada mereka. Bagaimanapun baginya ini adalah aib baginya.
Daniel tau bahwa tidak sepantasnya dia bertanya seperti itu kepada kembarannya. Akan tetapi dia tetap ingin membantunya.
"Ceritalah, semoga dengan bercerita kami bisa membantu." ucap Khalifah.
"Bantu aku bercerai dengan Zico." tiba-tiba Dania menangis lalu memeluk Daniel.
Saat ini dia merasa Daniel adalah tempat ternyamannya untuk saat ini.
"Ada apa?"
"Aku sudah tidak sanggup lagi, aku bukan tipe yang di inginkan oleh Zico, aku ingin bahagia dan dia bisa mendapatkan kebahagiaannya."
"Bicaralah dengan Zico baik - baik, jika dia memang tidak menginginkan kamu, kamu masih bisa pulang ke rumah."
"Iya, tapi coba dulu karena perceraian hal yang paling di benci oleh Allah." ucap Khalifah ikut menenangkan Dania.
Setelah mereka pulang Dania nampak sibuk berkemas. Dia sudah tau dengan jawaban Zico.
Setelah beberapa jam selesai berbenah, Zico pulang ke rumah. Dania sudah duduk di ruang tamu menunggu lelaki itu.
Zico agak kaget karena tidak seperti biasanya wanita itu menunggunya. Apalagi sampai menunggu di ruang tamu.
"Aku mau bicara."
"Aku lelah, besok saja." ucap Zico karena merasa sangat lelah.
"Aku ingin malam ini semua clear."
Wajah Zico menegang mendengar ucapan Dania yang selalu memaksakan kehendak. Dia paling tidak suka wanita seperti ini.
__ADS_1
"Kasih aku waktu 20 menit untuk berbicara."
"10 menit."
"15 menit." ucap Dania sedikit memohon.
"5 menit."
"Baiklah 10 menit." ada nada kekecewaan dalam ucapan Dania.
Dania menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu. Dia sudah matang dengan keputusannya.
"Aku tau bahwa kamu tidak pernah menyukai aku..."
"Jika tidak ada yang lebih penting lebih baik istirahat." ucap Zico sudah tau arah pembicaraan wanita itu.
"Aku belum selesai."
"Tapi....."
"Aku hanya meminta waktu kamu 10 menit, setelah itu aku tidak akan menganggu kamu lagi." ucap Dania sakit hati karena Zico tidak pernah mau mendengarkan ucapannya.
"Cepatlah."
"Aku mau kita bercerai saja."
"Kenapa? Apa kamu punya lelaki lain?" tanya Zico tanpa menatap Dania.
"Bukan aku tapi kamu."
Zico tersenyum mengejek saat mendengar ucapan Dania. Dia tidak habis pikir wanita itu akan menjadikannya sebagai alasan untuk berpisah.
"Lempar batu sembunyi tangan, baik jika itu yang kamu inginkan maka aku akan kabulkan." ucap Zico akhirnya berjalan meninggalkan Dania.
"Semoga kamu berbahagia..." teriak Dania ketika Zico sudah jauh dari hadapannya.
Namun lelaki itu tidak meresponnya. Dania agak kecewa karena terlalu berharap banyak. Dia sudah yakin bahwa lelaki itu tidak akan mempertahankannya.
Dania lansung menarik kopernya keluar dari rumah. Dia tau lelaki itu tidak akan menahannya untuk tidak pergi.
Dania mengendarai mobilnya menuju ruang kedua orang tuanya. Dia juga tidak berharap Zico akan mengembalikan dia ke rumah orang tuanya.
Mama dan papanya kaget saat melihat Dania datang membawa koper. Mereka masih tidak tau apa yang terjadi dengan anaknya.
Dania tanpa menjelaskan lansung masuk ke dalam kamarnya. Papanya melarang mamanya untuk bertanya terlebih dahulu.
Papanya mencoba menghubungi Zico namun ponsel menantunya sedang tidak aktif.
__ADS_1
Zico nampak melamun duduk di kamarnya. Dia tadi melihat ketika mobil Dania meninggalkan pekarangan rumahnya.
Zico sendiri tidak tau apa yang dirasakan saat ini. Entah bahagia atau tidak. Saat ini dia hanya merasa hatinya kosong.
Setelah kepergian Dania dari ruang, Zico lansung mengurus perceraiannya. Dia tidak ingin egois mempertahankan rumah tangganya yang memang tidak bahagia. Dia akan membiarkan Dania mencari kebahagiaannya bersama lelaki lain.
Ketika hari pertama setelah kepergian Dania, mama dan papa Dania memang mendatanginya. Namun Zico menjelaskan semuanya tanpa ada yang di tutupi.
Sedangkan papa Zico sangat marah kepada anaknya karena dianggap tidak becus dalam mempertahankan rumah tangganya sendiri. Papa Zico meminta maaf kepada kedua orang tuanya Dania.
Namun orang tua Dania tidak menyalahkan Zico. Mereka tau bahwa ini adalah kesalahan mereka. Dari awal perjodohan anaknya dan Zico untuk dijodohkan.
Perceraian di lakukan dengan baik - baik tanpa ada benci di antara dua keluarga. Mereka berjanji tetap berhubungan baik.
Proses perceraian tidak memakan waktu lama karena kedua belah pihak sepakat untuk bercerai.
Setelah pengadilan memutuskan bahwa mereka resmi bercerai, Dania lansung menyalami Zico sambil tersenyum.
"Semoga kamu menemukan wanita seperti yang kamu inginkan."
"Terima kasih, semoga kamu begitu juga sebaliknya." ucap Zico tetap tidak ada senyum di wajahnya.
Dania tidak tau ekspresi apa yang ada pada lelaki yang berdiri di depannya.
"Aku duluan." ucap Dania berpamitan kepada Zico.
Sebelum pergi Dania menyalami kedua orang tua Zico. Namun terlihat mama Zico seperti tidak menyukainya.
"Wajar Zico menceraikan kamu, sejak menikah dengan anak saya baju yang kamu gunakan selalu senonoh, coba kamu selalu memakai baju seperti ini maka tidak akan ada perceraian." ucap mama Zico.
"Ma." tegur paoa Zico karena tidak ingin keluarga Dania mendengar ucapan istrinya.
"Memang seperti itu kenyataannya pa, anak kita bercerai masih banyak gadis yang antri, nah dia siapa lelaki yang mau, tubuhnya di jual murah."
Daniel dan keluarganya mendengar ucapan mama Zico. Mama Dania ingin menjawab ucapan mama Zico. Namun Daniel melarang mamanya.
"Nggak usah di ladeni ma,malu ini tempat umum."
Selain malu karena tempat umum, Daniel agak setuju dengan ucapan mama Zico. Dia mengakui semua ada salah adiknya karena tidak mau mengikuti perintah suaminya dalam berpakaian.
Dania tidak membalas ucapan mama Zico. Dia hanya tersenyum dan pergi.
Zico hanya memperhatikan Dania yang pergi tanpa menjawab mamanya. Baru kali ini wanita itu tidak membela diri. Biasanya jika ia yang mengingatkan pasti wanita itu akan berdebat panjang dengannya.
Zico tanpa mau ambil pusing dengan semuanya akhirnya juga berpamitan dengan semuanya. Dia lansung menuju mobilnya.
Zico merasa agak bersedih karena dia gagal mempertahankan rumah tangganya. Dulu dia berjanji akan menikah sekali seumur hidup. Namun faktanya dia gagal di pernikahan pertamanya.
__ADS_1