Wajah Dalam Lukisan

Wajah Dalam Lukisan
Episode 17 Tresno Iku Mergo Ati, Ora Bakal Owah Tekane Mati


__ADS_3

Saras segera menuju penjara menemui Arya, "Dimas....kamu baik-baik saja kan?" tanya Saras.


"Mbakyu Saras?...iya mbakyu Arya baik-baik saja"


"Ayo Dimas buruan pergi dari sini sebelum Kangmas Haryo bangun, bawa istrimu pergi ke kerajaan Penumping, aku sudah mengirim surat ke romo untuk melindungi Dimas dan Diajeng Atri disana" ujar Saras lalu segera membukakan pintu penjara.


"Loo mereka kenapa?" tanya Arya saat melihat penjaga penjara berbaring di lantai.


"Tenang saja, semua penjaga sudah aku beri obat tidur ayo kita ke kamar Diajeng Gayatri" ujar Saras yang bergegas menuju kamar Gayatri diikuti sama pengikut Saras dari kerajaan Penumping dan bawahan setia Arya.


Terlihat para penjaga di depan kamar Gayatri tertidur nyenyak, karena semua memang sudah diberi obat tidur oleh Saraswati dalam dosis yang kuat, karena kita tahu prajurit kerajaan Margosari terkenal sakti dan hebat.


Sepanjang perjalanan menuju kamar Gayatri, Saras menceritakan semua rencana yang sudah disusunnya, termasuk melindungi Juno dan dikirimkan ke kerajaan Surakarta tempat kakak perempuannya.


"Mbakyu bagaimana dengan Mbakyu kalau sampai kangmas Haryo tahu, Dimas tidak mau terjadi apa-apa dengan Mbakyu nantinya" ujar Arya khawatir.


Sambil tersenyum Saras menjawab "Jangan khawatir Dimas, Mbakyu percaya bahwa Gusti Allah akan selalu melindungi mbakyu, jika sudah waktunya Mbakyu harus menghadap Gusti, Mbakyu sudah siap asalkan keluarga kalian aman"


"Tugas seorang istri adalah menyadarkan suaminya ke jalan yang benar Dimas, semoga Kang mas Haryo mau kembali ke jalan yang benar. Sekarang yang terpenting adalah kalian harus selamat terlebih dahulu hmm.." ujar Saras dengan lembut.


Setibanya dikamar Gayatri segera Arya masuk


"Diajeng?!!! kamu baik-baik saja?"tanya Arya sambil memeluk Gayatri penuh kasih sayang yang sedang menangis sambil terduduk di lantai.


"Kangmas....kangmas baik-baik jugakan? tadi kangmas Sinuhun bilang kangmas Arya menyerahkan Atri dan Juno ke kangmas Sinuwun, Atri takut" ujar Gayatri dengan terisak-isak.


"Jangan takut Diajeng, selama nafas kangmas tidak berhenti maka tidak akan pernah Kang mas memberikan Diajeng dan anak-anakku ke orang lain" ucap Arya sambil mengecup kening Gayatri dan menghapus air mata di pipi Gayatri.


"Atri juga Kangmas, Atri gak bisa hidup tanpa Kangmas, Kangmas adalah nafasku, hidupku dan cahayaku...tidak habis Atri bersyukur kepada Allah telah memberikan suami seperti Kangmas" ujar Gayatri sambil memeluk Arya.


"Ayo Diajeng kita pergi sebelum Kangmas Haryo bangun" ujar Arya lalu segera menggenggam tangan Gayatri untuk pergi.


Saat sampai di pintu gerbang istana, Saras memberikan sekantong uang dan bekal makanan.


"Selamat jalan adik kesayanganku, berhati-hatilah dijalan, jangan terlihat menyolok hmm..."pesan Saras.


"Baik Mbakyu, Maturnuwun sanget (terimakasih)" ucap Arya dan Gayatri bersamaan, lalu mereka berdua segera naik kuda diikuti para pengawal setia Arya.


Setelah kepergian Arya, Saras segera bergegas menuju kamarnya dan segera berbaring di samping Haryo dan tertidur.


Ketika ayam jago mulai berkokok dan suara Azan sudah berkumandang yang menandakan hari sudah pagi, membangunkan Haryo.


Saat Haryo membuka mata tampak wajah bayi gembul yang dikiranya adalah Juno masih terlelap disampingnya dan selir kesayangannya masih terlelap disampingnya membuat senyum merekah di bibir Haryo.



Dengan lembut dan perlahan Haryo mengusap pipi gembul Juno "Kamu adalah putraku, putra kesayanganku Pangeran Juno" bisik Haryo.


Setelah bangun, Haryo ingin segera menemui Gayatri sambil berusaha merayu Gayatri. Oleh sebab itu dengan terburu-buru Haryo mandi dan berdandan serapi mungkin. Kemudian segera keluar kamar tampak Dierja menggaruk-garuk tengkuknya seperti orang bingung.


"Kamu ngapain Dier...kaya orang bingung"


"Eeeh Sugeng enjing (selamat pagi)Gusti Sinuwun Prabu" ujar Dierja sambil bersujud memberi hormat.


"Mana kunci kamar Diajeng Gayatri"


"Kuncinya diasta Gusti Putri Saras Sinuwun" jawab Dierja membuat dahi Haryo berkerut.


"Apa hubungannya dengan Diajeng Saras, orang semalaman tidur disampingku...kunci masih di pinggangmu itu loo Dieer...berani-beraninya kamu memimpikan istriku!!" bentak Haryo.

__ADS_1


"Ampuun Gusti, hamba tidak berani" ujar Dierja bergetar ketakutan.


"Sini kuncinya, aku ingin menemui ratuku" seru Haryo


"Monggo Ndoro!!" ucap Dierja sambil memberikan kuncinya. Apakah benar semalam itu mimpi? saat Gusti Putri meminjam kunci' gumam Dierja dalam hati tetapi segera ditepisnya karena kunci masih terikat erat di pinggangnya, jadi tidak mungkin ada orang yang bisa mengambilnya.


Haryo dengan semangat 45 segera membuka kunci pintu kamar Gayatri berharap Gayatri masih tidur nyenyak seperti Saras, sehingga dia bisa leluasa menikmati wajah cantik Gayatri.


Tetapi harapan tinggallah harapan, ketika pintu terbuka kamar Gayatri kosong, kamar mandipun kosong, dan tampak jendela kamar sedikit terbuka.


"Dierrjaaaaa!!!!! bunuh para penjaga pintu yang tidak becus menjaga istriku!!" teriak Haryo menggelegar


Putri kabur lewat mana? tanya Dierja dalam hati lalu melihat jendela kamar yang terbuka membuat Dierja langsung paham berarti melalui jendela, tetapi kemudian dia segera berlari ke penjara, diikuti Haryo yang juga mempunyai perasaan pasti Gayatri lari bersama suaminya.


Dan ternyata benar Aryapun sudah kabur dari penjara, membuat Haryo meradang dan segera mengambil senjata dan bergegas menyebarkan seluruh anak buahnya untuk mencari Gayatri dan Arya.


.


.


.


.


Diwaktu yang sama tetapi berbeda tempat tampak Gayatri dan Arya yang tidak bisa keluar dari wilayah kerajaannya, melainkan berputar-putar dan kembali lagi di danau.


"Kanjeng pangeran kelihatannya pangeran Haryo sudah merapali daerah kita ini dengan ilmu Lumbung Sangkan Paran(yaitu sebuah ilmu yang membuat musuhnya kebingungan dan mengurung musuh dalam wilayah kekuasaannya.)" ucap Jaka Ndalu perwira pasukan dari Penumping bawahan Saras yang setia.


Gayatri dan Arya saling pandang kemudian turun dari kuda "Pergilah bawa pasukanmu Jaka, kami berdua siap menghadapi Kang mas Sinuwun sendiri....kalian memiliki istri dan anak jangan sampai kalian jadi korban kebengisan Kangmas Haryo" perintah Arya tegas.


"Mohon jangan usir kami Gusti pangeran Arya, kami sejak kecil sudah bersumpah setia menjaga Gusti pangeran Arya dan Gusti putri junjungan kami" ujar Wuji dan beberapa pasukan pengawal setia Arya sambil bersujud menyembah didepan Arya.


Dan sesuai dugaan mereka, tak lama kemudian beberapa panah terbang ke arah mereka membuat beberapa pasukan Arya terbunuh dan sisanya bisa selamat karena terlindungi tameng yang mereka bawa.


"Kalian tidak akan mungkin bisa keluar dari sini, serahkan Gayatri dan menyerahlah maka hidup kalian aku ampuni" terdengar suara Haryo yang menggelegar.


"Sampai aku mati tidak akan kuserahkan istriku kang mas!!!" jawab Arya tegas.


"Baik jika itu permintaanmu....Dierja serang mereka!!" perintah Haryo dengan tersenyum Culas


"Baik Gusti!" jawab Dierja lalu segera memberi perintah untuk menyerang Arya dan pengikutnya.


Meskipun pasukan Arya dalam jumlah sedikit, tetapi kemampuan bertempur mereka tidak bisa diremehkan, bahkan terlihat oleh Haryo bahwa pasukan dibawah kepemimpinan Dierja mulai kewalahan terutama menghadapi Arya dan Gayatri.


Haryo dibuat sangat terkejut, dipikirnya selama ini adiknya adalah pria yang lemah, dan Gayatri seperti wanita kebanyakan yang lemah dan penakut, ternyata itu salah besar. Karena keduanya bisa melawan Dierja yang memiliki ilmu kanuragan cukup tinggi.


Merasa tidak sabar ingin segera membasmi Arya dan membawa pergi Gayatri, membuat Haryo segera turun sendiri.


Dengan turunnya Haryo dalam medan pertempuran membuat pasukan Arya banyak terbunuh, karena memang ilmu dan kehebatang Haryo sebagai dewa perang memang tidak terbantahkan.


Pada akhirnya tinggal tersisa Gayatri dan Arya yang saling berhadapan langsung dengan Haryo.


"Menyerahlah Dimas kau bukanlah lawanku!!" ancam Haryo penuh aura intimidasi yang kuat.


Alih-alih merasa ketakutan, dengan tersenyum lebar Arya dan Gayatri malah semakin berani menghadapi Haryo.


Haryo melihat kenekatan mereka berdua, membuatnya semakin marah dan segera menyerang Arya dengan kekuatannya.


Tetapi Haryo tidak tahu, bahwa Gayatri memiliki ilmu warisan dari leluhurnya yaitu sebuah ilmu yang membuat musuhnya kehilangan ilmu kanuragannya kalau nekat melawannya.

__ADS_1


Sehingga hanya dalam hitungan detik, Arya dan Gayatri berhasil mengalahkan Dierja dan Haryo.


"Kangmas Sinuwun Katresnan iku mergo ati, ora bakal owah tekane pati (Cinta itu karena hati, tidak akan berubah sampai mati), jangan memaksakan orang lain untuk mencintai kang mas dengan kekerasan begini" ujar Arya yang masih dalam posisi pedang miliknya di leher Haryo.


"Bunuh....cepat bunuh!!" bentak Haryo antara malu, marah dan putus asa karena ternyata terkalahkan oleh adiknya yang selalu dia anggap lemah dan bodoh berperang.


"Kangmas Arya, lihat sudah terlihat jalan keluar dari wilayah ini" seru Gayatri kesenangan karena dengan melemahkan ilmu Haryo maka ilmu Lumbung Sangkan Paranpun mulai menghilang.


"Mana mungkin aku membunuh kakakku yang paling aku kasihi kangmas Haryo, ijinkan kami pergi kangmas hanya itu pintaku" jawab Arya sambil memberi hormat ke kakaknya untuk terakhir kalinya kemudian sambil meng gandeng tabgan istrinya Arya mulai berjalan untuk keluar dari wilayah perbatasan istananya.


Haryo melihat kemesraan adiknya dengan wanita yang dia cintai membuat dirinya marah tetapi tidak bisa mengeluarkan ilmunya karena memang oleh Gayatri disegelnya.


Semakin lama Arya dan Gayatri semakin menjauh dan tinggal selangkah lagi mereka berhasil keluar dari perbatasan, Haryo segera mengambil tombak yang tergeletak didekatnya dan melemparkan ke arah tubuh Arya.


Tombak tersebut tepat menembus tubuh Arya dan seketika membuat Arya meninggal, melihat suami tercintanya roboh dan meninggal membuat Gayatri panik ketakutan dan memeluk tubuh Arya.


"Kangmassss, banguuun Atri sama siapaaa!!!" teriak histeris Gayatri sambil memeluk tubuh Aryawijaya yang bersimbah darah dan menciumi muka Arya dengan penuh kasih.


"Ayo Diajeng saatnya pulang kembali ke istana.' kata Sinuwun Sultan Haryoto, raja kerajaan Margosari sambil menarik paksa tangan Raden Ajeng Gayatri, yang masih memeluk mayat suaminya.


"Sampai kapanpun Sinuwun tidak bisa memaksa Gayatri menjadi istri Sinuwun, baik jiwa dan raga Gayatri hanya milik kang mas Arya." teriak Gayatri sambil menghempaskan tangan Sultan Haryoto, dan tanpa diduga semua orang, Gayatri memeluk Arya, dan tangan nya mendorong tombak yang menusuk punggung Arya tembus melalui tubuh Arya dan menembus tubuh Gayatri.


'Diajeeeeng....apa yang kamu lakukan."teriak Sultan Haryoto sambil berusaha menarik tubuh Gayatri dari tubuh Arya tetapi sudah terlambat, Gayatri ikut meninggal menyusul Arya.


"Tidaaaaaak!!!!!kenapaaaa bahkan sampai nafasmu terakhir, kamu tetap tidak mau membuka hatimu untukku Aaaaaagrh!!!!!!"teriak Sultan Haryoto memilukan dan menangis keras sambil memeluk tubuh Gayatri yang sudah mendingin.


Setelah memisahkan tubuh Gayatri dan Arya, Sultan langsung mengangkat tubuh Gayatri ala bridal dengan penuh kasih, sambil tersenyum, membuat para punggawa terheran.


"Sinuwun bagaimana tubuh pangeran?" tanya Dierja punggawa kepercayaan sultan pelan sambil ketakutan melihat rajanya mulai menunjukkan keanehan.


" Buang ke danau, temukan anak mereka, bawa anak itu ke hadapanku, jangan dibunuh, dia anakku sekarang, mau aku rawat dengan istriku ini, Ooo iya Dierja pindahkan pusat kerajaan Margosari ke desa ini, istriku dan anakku suka tinggal di desa yang ada danaunya ini, panggilkan Ki Seto untuk mengobati istriku ini " jawab Sultan Haryo sambil menggendong Gayatri penuh kasih menuju rumah.


"Sinuwun sadar, sinuwun putri sudah meninggal, saya mohon Sinuwun."kata Dierja sambil mengikuti terlihat prihatin di belakang Sultan Haryoto.


"Sttt....Dierja kalau bicara jangan keras-keras, Diajeng cuman pingsan!!!! Cepaaat Dierja panggilkan Ki Seto, untuk menyembuhkan luka Diajeng." Kata Sultan dengan tergesa-gesa masuk dalam istana kecil rumah Pangeran Aryawijaya.


Ki Seto sambil berlari memasuki kamar dan terkaget melihat raja mereka berdarah-darah memeluk putri Gayatri. "Sinuwun bagaimana terluka? Putri Gayatri kenapa juga Sinuwun?" tanya Ki Seto berlari mendekat untuk memeriksa raja junjungannya.


"Yang terluka bukan aku Ki, tapi istriku ini, tolong hentikan pendarahannya, dan sembuhkan istriku ini!!" perintah Sultan Haryo.


"Ampuuun seribu ampuuun Sinuwun, tetapi putri sudah meninggal, tapi ini darah sudah saya hentikan, Sinuwun bisa mengganti bajunya dan bisa dimakamkan."kata Ki Seto sambil menunduk ketakutan.


"Apa kamu buta Kiiii, istriku hanya terluka, liat lah wajahnya yang cantik, dia belum matiiih!!!Ki tolong Kiii hanya kamu yang bisa,tolong hidupkan kembali istriku, akuu mohon Ki" kata Sultan Haryo sambil menangis dan bersimpuh di depan Ki Seto.


"Sinuwun bangun Sinuwun, seorang raja tidak boleh bersimpuh di hadapan orang rendahan seperti saya." kata Ki Seto kaget, karena sejak kecil Ki Seto selalu mendampingi Sultan Haryo jadi tidak heran Ki Seto mengenal anak angkatnya ini mempunyai sifat tidak pernah tunduk terhadap siapapun, bahkan dengan ayahnya, raja terdahulu, Haryo adalah orang yang keras, bengis dan angkuh, memandang wanita hanya sebagai alat pemuas nafsunya saja, tetapi setelah mengenal Gayatri, hal tersebut hilang musnah, terlebih melihat Gayatri meninggal jiwa Haryo benar-benar teguncang.


Ki Seto tidak tega melihat anak yang sejak kecil dia jaga, yang sudah dianggap anaknya sendiri begitu terpuruk, " Sinuwun ada satu cara yang bisa kita pakai untuk menghidupkan kembali Putri Gayatri, dengan menggunakan ilmu terlarang warisan keluarga Seta." kata Ki Seto.


"Lakukan Ki, apa yang kamu butuhkan akan kupenuhi semua!" kata Sultan Haryo semangat kembali.


"Tapi Sinuwun, ilmu ini sangat membutuhkan banyak pengorbanan, karena ilmu ini membutuhkan tumbal dari reinkarnasi Putri Gayatri dan untuk membuat tubuh putri tetap awet sampe datangnya reinkarnasi banyak ritual yang harus kita berdua jalankan, apakah Sinuwun mau bersabar dan mau berkorban?" jelas Ki Seto.


"Apapun itu Ki, aku akan setia menunggu reinkarnasi dari istriku." jawab Sultan Haryo tegas.


...^^^...


...*TBC*...


^^^^^^^^

__ADS_1


__ADS_2