Wajah Dalam Lukisan

Wajah Dalam Lukisan
Episode 18 Melawan Takdir Tuhan


__ADS_3

Saraswati terbangun saat si adik gembul tiba-tiba menangis, Saras segera terbangun dan segera menggendong bayi gembul tersebut, dan melihat bahwa suaminya sudah terbangun membuat dirinya terdiam


"Lindungi kedua adikku Gusti dan bayi Juno ya Gusti" ujar Saras


Saras segera keluar dari kamar untuk memanggil mbokmban yang sudah bersama ibu dari bayi gembul ini, dan Saras segera mandi.


Setelah Saras sudah berdandan rapi, masuklah anak buah Brawurdya bernama Sangkala


"Gusti Putri.....gawat Gusti" seru Sangkala dengan nafas ngos-ngosan.


Belum selesai Sangkala melapor terdengar tangisan memilukan dari luar, membuat Saraswati berlari keluar.


Saraswati langsung terduduk lemas saat melihat Haryo menggendong tubuh Gayatri yang bersimbah darah menuju kamar


"Apa yang sudah tertulis memang akan terjadi, meskipun aku sudah berusaha mencegah" gumam lirih Saraswati.


"Gusti putri....anda baik-baik saja?" seru Sangkala dan Mbok Darmi yang melihat junjungannya jatuh terduduk.


Mendengar suara bawahannya menyadarkan Saras kemudian sambil berlari menuju Haryo dan sangat terkejut dengan rencana yang Kita Seto buat


"Kang mas...apa yang terjadi dengan diajeng Gayatri? dimana Dimas Arya?" tanya Saras sambil menangis.


"Stt....suruh semua orang tidak berisik Diajeng, Diajeng Gayatri sedang tidur.....O yaa Diajeng bantuin Gayatri ganti baju ya, ini bajunya kotor" ujar Haryo sambil berjalan keluar kamar bersama Ki Seto.


"Istighfar kang mas.....Istighfar...Diajeng sudah meninggal" ujar Saras sambil memegang tangan Haryo.


"Jangan melakukan hal yang dilarang Gusti Allah Kang mas, Diajeng mohon" bujuk Saraswati.


"Allah?....hahaha dari dulu hingga sekarang aku tidak pernah percaya bahwa dia ada, apa yang aku punya ini karena usahaku sendiri tanpa campur tangan yang Diajeng panggil Allah tersebut, kalau dia ada berikan aku seorang putra...tapi tidakkan? makanya Diajeng nyuruh aku untuk mengakuinya" ujar Haryo sinis lalu meninggalkan Saras yang shock sambil menutup mulutnya dengan berurai air mata.


Dengan bergetar Saraswati mengusap pipi Gayatri yang sudah mendingin sambil berkata dengan terisak-isak


"Maafkan Mbakyumu yang bodoh ini ya Diajeng Gayatri...."


"Mbok....bantuin aku membersihkan tubuh Diajeng, dan tolong siapkan kain kafan juga ya mbok" ujar Saras dengan suara bergetar.


Dengan lembut Saras memandikan jenazah Gayatri, sambil air matanya tetap mengalir bukan hanya Saraswati yang menangis, tetapi suasana di istana dilingkupi perasaan duka yang mendalam, karena hanya dalam sekejap mata kerajaan Madyosari kehilangan Raja dan Ratu yang sangat disayangi oleh rakyatnya.

__ADS_1


Setelah jenazah Gayatri sudah rapi dibungkus kain kafan, Saraswati segera memanggil ustad dan memintanya untuk shalat jenasahnya Gayatri.


Belum sampai pak Ustad menyelesaikan shalat masuklah Haryo dan Ki Seto


"Siapa yang berani memakaikan kain kafan terhadap istriku!!!"bentak Haryo penuh kemarahan


"Diajeng Saraswati bukankah tadi sudah aku suruh mengganti baju Diajeng Gayatri?"sembur Haryo


"Kang mas...Diajeng sudah nggak ada, biarkan Diajeng beristirahat dengan tenang....relakan ya Kangmas" bujuk Saraswati dengan lembut.


"Diajeng Gayatri belum meninggal...dia akan disembuhkan dan masih bisa hidup kembali oleh Ki Seto, cepat gantiin dan dandani Diajeng Gayatri" perintah Haryo berusaha menahan emosinya untuk tidak memarahi selir kesayangannya.


"Kang mas sadarlah ....biarkan pak Ustad menyelesaikan doanya dan segera kita makamkan, jangan melakukan tindakan yang melawan takdir dari Allah Kang mas" bujuk Saraswati sekali lagi.


"Kanjeng Sinuwun Istighfar, perbuatan Ki Seto itu kegiatan musrik itu dilarang Allah, biarkan Kanjeng Putri Gayatri kami semayamkan, biar beliau bisa beristirahat dengan tenang" ujar pak Ustad.


Jleeeb....."Aku bilang Diajeng Gayatri masih hidup!!! dasar Bodoh!!" ujar Haryo sambil menusuk pak Ustad dengan keris sakti miliknya yang membuat pak Ustad mati seketika.


"Cepat pakaikan baju kebaya terbaik untuk Diajeng Gayatri....yang berani menghalangi maka nasib kalian seperti pria menjijikkan ini!!" seru Haryo sambil menendang tubuh pak ustad yang sudah tidak bernyawa lagi.


Melihat kekejaman suaminya secara nyata membuat hati Saraswati sakit sekaligus ketakutan, tetapi dengan sekuat tenaga Saraswati berusaha menyadarkan suami tercintanya.


"Aku tahu Diajeng adalah istri,wanita terbaik yang kangmas kenal selama ini dan Kangmas yakin akan menjadi ibu yang baik bagi anak kita Pangeran Juno. Oleh karena itu, biarkan Kang mas dan Ki Seto membuat Diajeng Gayatri hidup kembali, sehingga kita bisa hidup bersama selamanya" ujar Haryo dengan suara lembut kepada Gayatri dan mengusap bayi gembul tersebut dengan penuh kasih.


"Cepat kalian gak dengar perintahku!!!" bentak Haryo saat mengetahui para emban yang hanya terdiam dan tidak segera melakukan perintahnya, membuat para emban segera berdiri dan mendekat jenazah putri Gayatri.


"Berhentiii!!! jangan berani menyentuh tubuh Diajeng Gayatri!!" bentak Saraswati membuat para emban terjengkit dan menatap Putri Saraswati dengan tatapan terkejut karena belum pernah sekalipun putri Saraswati membentak dengan suara keras.


"Kangmas....... jika kangmas masih bersikeras maka kangmas harus membunuhku terlebih dahulu baru kangmas bisa menyentuh tubuh Diajeng Gayatri" tantang Saraswati dengan putus asa.


"Jangan menguji kesabaranku Diajeng, kamu tahu betapa sayangnya aku padamu, menyingkirlah biarkan Ki Seto menyelesaikan tugasnya!!" seru Haryo berusaha sabar sambil mendekat ke Saraswati.


Tetapi bukannya merasa ketakutan Saraswati segera merapalkan satu-satunya ajian yang di ajarkan oleh ayah ibunya, ajian ini hanya bisa dipakai satu kali ketika dirinya sudah diambang kematian, dan Saraswati sudah tahu bahwa dirinya sudah mendekati kematian karena dia sangat memahami sifat suaminya jika mempunyai keinginan pasti harus terlaksana apapun caranya.


"Berhenti merapalkan ajian itu Diajeng, aku tidak mau membunuhku....Aku bilang berhentiiiii!!!" bentak Haryo panik karena melihat tubuh istrinya sudah dilingkupi cahaya terang yang berarti bahwa Saraswati sudah merelakan tubuh dan nyawanya demi melindungi Gayatri.


"Dengarkan Ki Seto sampai kapanpun semua ajian dan mantramu tidak akan pernah berhasil menghidupkan Diajeng Gayatri, karena sampai kapanpun aku akan melindungi titisan dan keturunan dari Dimas Arya dan Diajeng Gayatri!! Kang mas maafkan Diajeng karena berani menentangmu kali ini, Diajeng pamit Kang mas" seru Saraswati dengan wajah tersenyum saat semua cahaya merah keluar dari dalam dirinya membuat semua orang terpental menjauh dari tubuh Gayatri dan cahaya seperti pedang menuju ke tubuh Ki Seto, sehingga tubuh Ki Seto terpental dan muntah darah, sedangkan Haryo hanya terjengkang ke belakang saja.

__ADS_1


Dengan menghilangnya cahaya merah tersebut terjatuhlah tubuh Saraswati di lantai membuat Haryo tersadar dan segera berlari menuju tubuh istrinya panik.


"Kenapaa....Diajeng meninggalkan kang mas, kita masih bisa bersama, tidak mungkin Kang mas menyia-nyiakan Diajeng" raung Haryo sambil memeluk tubuh dingin Saraswati.


Tangisan Haryo diiringi oleh tangisan Sangkala dan para pengikut setia Saraswati.


Ki Seto segera berdiri dan mendekat ke arah Haryo.


"Gusti .....apakah masih kita teruskan?waktu kita tidak banyak, bulan purnama sudah mendekati titik tertinggi, kalau sampai terlewatkan kita tidak akan bisa lagi."


"Ki Seto baik-baik saja?bukankah barusan tadi terjatuh dan muntah darah?" tanya Haryo dengan suara serak.


"Hamba baik-baik saja Gusti, ajian Peksi Jiwa dari Gusti Putri Saraswati bukan untuk membunuh jadi hamba tidak papa" jawab Ki Seto.


"Tetapi bagaimana kata-kata Diajeng tadi Ki?" tanya Haryo khawatir.


"Kanjeng Gusti Putri Saraswati adalah sesosok wanita berhati putih dan halus, ucapan tadi hanya gertakan saja, jangan khawatir Gusti Sinuwun"


"Ki apakah Diajeng Saras juga bisa dihidupkan juga?"


"Nyuwun pangapunten Gusti Sinuhun, ilmu ini hanya bisa untuk satu nyawa saja dan satu tubuh, jadi Kanjeng Gusti Putri Saraswati tidak bisa hamba selamatkan" ujar Ki Seto lirih.


"Baiklah....Sangkala persiapkan pemakaman buat istriku ini dengan baik, setelah upacara selesai, aku akan membantumu memakamkan istriku ini." perintah Haryo segera memberikan jenasah Saraswati ke Sangkala dan pengikut setia Saraswati.


Semua emban dengan gerak cepat segera mengganti kain kafan dengan baju kebaya yang sangat indah dan merias wajah jenasah Gayatri sehingga terlihat cantik dan membaringkan di sebuah peti yang terbuat dari kaca yang sudah Ki Seto siapkan.


Ki Seto sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk upacara tersebut termasuk 5 gadis berusia 12 tahun yang tidak sadarkan diri dan terbaring mengelilingi peti kaca tersebut.


Setelah mengucapkan beberapa doa dan mantera Ki Seto segera menyuruh Haryo untuk mengambil darah keperawanan dari lima gadis tersebut dan segera menebas kepalanya dan meminum darah dari para gadis tersebut, dan sebagian darah di kucurkan mengelilingi peti kaca tersebut.


"Mulai malam ini setiap malam Jumat Kliwon dan malam bukan Purnama harus mengorbankan 1perawan dan 1orang pria yang bukan dari desa ini, dan daging dari manusia korban ini harus dimakan oleh semua warga desa ini" perintah Ki Seto ke semua orang yang mengikuti upacara tersebut.


Dan sejak malam itulah Desa Madyosari yang sangat indah selalu tertutup kabut, sehingga tidak ada yang mengetahui dimana desa Madyosari itu berada.


Bahkan warga desa Madyosari yang hidup dimana upacara tersebut diadakan masih terapi hidup abadi bersama Ki Seto dan Kanjeng Sinuhun Haryo menanti datangnya titisan dari Kanjeng Gusti Gayatri datang.


Dan Upacara korban tersebut tetap diadakan secara turun temurun, meskipun penduduk yang abadi sekarang hanya tinggal dalam istana Haryo, sedangkan keturunan penduduk Madyosari tetap hidup biasa seperti rakyat Indonesia pada umumnya tetapi tugas mereka adalah membawa pendatang untuk mereka korbankan setiap malam Jumat Kliwon dan malam bulan Purnama supaya nyawa mereka tetap aman.

__ADS_1


...*TBC*...


...Mianhae ya 🙏🙏🙏, baru thor up ceritanya selama ini thor baru dapat halangan sakit bergantian satu keluarga jadi gak sempat pegang kompi...


__ADS_2