
Sengkala, Aksa, paman Tirta kembali ke markas mereka dan segera beristirahat setelah mereka sholat Subuh.
.
.
.
Tak beberapa lama disaat Sengkala tertidur, tiba-tiba tubuhnya digoncang-goncang dan tiba-tiba.....
Ngeeeek......
Tubuh Sengkala dikejutkan karena tiba-tiba perutnya ada yang menindih.
"Paaakeeee....bangun dong, main sama Yoga yuuk" seru suara anak laki-laki kecil berbadan gempal yang duduk diatas tubuh Sengkala.
Sengkala terbangun antara terkejut dan kebingungan.
"Y-Yooogaaa???!! a-aaanakku? benarkah kamu masih hidup sayang?" cicit Sengkala dengan suara bergetar.
"Haaah??? Pakee ngendikan opo toh?" tanya Yoga sambil menatap Sengkala dengan wajah lucu.
Sengkala langsung memeluk tubuh kecil gempal tersebut erat sambil menangis sesenggukan.
"Sudah lama Pakee ingin kamu datangi sayang, akhirnya Gusti Allah mengabulkan doa Pakee meski dalam mimpi pakee dah seneng sayang" ujar Sengkala sambil menangis tergugu.
Yoga yang tiba-tiba dipeluk ayah sambil menangis hanya bisa menepuk-nepuk punggung ayahnya.
"Cuuup.....cuuuup pakee....udah gede jangan nangis dong, ndak malu po ama Yoga yang udah ndak pelnah nangis, masak nggak malu sama adik yang masih di peyutnya ibuk" ujar Yoga dengan suara cedal.
"Weeeeh Yoga...itu bapakmuu kenapa la kok nangis tooh?"terdengar suara cempreng seorang wanita yang masuk ke kamar.
Sengkala mendengar suara merdu yang sangat dia rindukan langsung menoleh ke asal suara lalu segera berdiri sambil menggendong Yoga, kemudian langsung memeluk tubuh wanita tersebut sambil masih menangis.
"Maturnuwun Gusti Allah sudah diijinkan bertemu mereka meski hanya dalam mimpi saja" ujar Sengkala sambil sesenggukan.
"Mas kenapa toh? bangun-bangun pake nangis kejer gini"
"Dik Srini, maafkan kangmas sungguh kan mas bukan suami dan ayah yang baik, tidak bisa menjaga kalian sehingga kalian terbunuh oleh pasukan pimpinan Wondo"
"Astagfirullah mas.....mas ngomong opo toh, tega banget sich doain istri dan anaknya terbunuh...padahal seger buger gini looh!!" seru Srini dengan muka cemberut.
"Eeeh...." ujar Sengkala dengan muka bodoh.
"Udah....gak usah bengong gitu, buruan mandi katanya harus ke istana pagi-pagi karena disuruh Gusti Sinuhun Arya" ujar Srini lalu mengambil Yoga dari gendongan Sengkala.
"Loo Gusti Pangeran Arya sudah menjadi raja gantiin Gusti Haryo?" tanya Sengkala lagi.
"Weladaalah mas Sengkala piye toh? tiga bulan yang lalu setelah kelahiran pangeran kecil, Gusti Sinuhun Haryo mundur dari tahta raja untuk nenepi berusaha mempunyai momongan bersama Gusti Putri Saraswati" terang Srini.
"Haah beneran kui dik? jadi Gusti pangeran Aryawijaya dan Gusti putri Gayatri beserta pangeran kecil baik-baik saja?"
"La ya baek-baek to mas, malah kerajaan kita ini makin sejahtera dibandingkan saat pemerintahan Gusti Sinuhun Haryo"
"Udaah buruan mandii, ini dah jam 7 loo, nanti Gusti Sinuhun duko loo...kapok nanti kamu" omel Srini sambil mendorong-dorong tubuh suaminya untuk segera mandi.
"Apa yang terjadi tooh? la kok jadi kaya gini? ini mimpi bukan toh?" tanya Sengkala saat dikamar mandi.
"Tapi ini nyata kok, Yoga dan istriku yang baru hamil masih hidup....Maturnuwun sanget Gusti" ujar Sengkala sambil tersenyum lebar lalu segera mandi dengan cepat.
^^^
Di waktu sama ditempat yang berbeda, saat Arya sedang duduk termenung di tepi danau dikejutkan oleh suara wanita yang sangat dia rindukan.
__ADS_1
"Kangmas......la kok malah bengong di tepi danau sich!!"
"Atri cari kemana-mana loo, ini loo pangeran kecil nyari Romo saat bangun pagi" ujar Gayatri sambil mendekat ke arah suaminya yang masih menatap bengong.
"Kang mas....iiih malah bengong loo" ujar Gayatri sambil menyerahkan pangeran kecil yang tampak rewel tetapi setelah digendong Arya langsung terdiam dan berceloteh dengan suara bayi yang sangat menggemaskan.
Arya berusaha mendeteksi apakah ini hantu atau mahluk yang menyerupai istrinya, terapi nihil....ini memang istri dan anaknya.
"Diaaajeng ....." seru Arya sambil memeluk Gayatri erat dan tanpa terasa butiran air mata keluar dengan deras.
"Loooo looo....kangmas kok malah nangis to? ada apa to Kangmas?"
"Bagaimana bisa Diajeng kesini sama Juna?bukankah kita sudah mati Diajeng?"
"Astaghfirullah Kangmas.....Kangmas bicara apa?Apa menjadi raja menggangantikan kang mas Sinuhun Haryo terlalu berat yah sampai Kangmas ngaco ngomongnya??" tanya Gayatri sambil mengusap punggung suaminya.
"Haaah ....aku jadi raja Diajeng? la Kangmas Haryo kenapa?"
"Laah Kangmas kelihatan too terlalu stress ya sampe lupa....kan setelah pangeran Juna lahir kangmas Sinuhun langsung nenepi sama mbakyu Saraswati supaya ketularan punya bayi dan menyerahkan tampuk pemerintahan ke Kang mas Arya karena beliau sudah lelah menjadi raja" terang Gayatri sambil menatap suaminya kebingungan.
"Haaah....kenapa ceritanya begini yah?" gumam Arya.
Lalu Arya melihat keadaan danau yang setau Arya setelah dirinya terbunuh dan Haryo sudah merapali seluruh daerah ini dipenuhi kabut pekat yang mencekam...tetapi kenapa saat ini lingkungan danau dan sekitarnya terang dan damai seperti dahulu sebelum kejadian mengerikan itu terjadi.
Apakah kejadian buruk terjadi hanya mimpi buruknya saja? dan kenyataannya tidak terjadi apa-apa?
^^^
Arno sangat terkejut saat tiba-tiba tubuhnya tidak bisa digerakkan dan terangkat ke atas saat asap hitam itu menggulung tubuhnya dan dalam satu kedipan matanya semua memburam pandangannya dimana sebelum Arno hilang kesadarannya, Arno masih mendengar suara yang sangat lirih di telinganya.
"Jangan percaya apapun yang bakalan kamu lihat Arno" bisik lirih Ki Bayu.
Setelah mendengar itu mata Arno tertutup dan tidak sadarkan diri.
.
.
.
"Uugh....ini dimana?" ujar Arno lirih sambil menatap disekitarnya.
Arno terbangun di sebuah tempat tidur model jaman dahulu yang terbuat dari besi berwarna putih, berseprei putih dengan kelambu putih yang menjuntai dari atas sampai di lantai.
Segera Arno menyibakkan kelambu putih dan turun dari ranjang, sambil masih kebingungan Arno menuju pintu dan keluar dari kamar.
"Sayang.....katanya mau ngajakin jalan-jalan eeeh habis subuhan malah molor" omel Tara manja.
"Taraaa!!!!" pekik Arno lalu berlari sambil memeluk tubuh istrinya erat.
"Sayangggg.....engap" ujar Tara sambil memukul bahu Arno pelan.
"Ini beneran kamukan sayang?bagaimana kamu bisa terlepas dari Raja gila Haryo? Lalu ini kita dimana yah?" tanya Arno tanpa titik koma.
"Kebiasaan loo kalo nyerocos tanpa titik koma....satu-satu dong kalo tanya" jawab Tara sambil memasang cemberut.
"La ya ini Tara istrimu yang cantiknya paripurna orang titisan Chelsea Islan gini loo, mosok meragukan aku sih" ujar Tara sambil mengembungkan pipinya.
"Lalu Raja gila Haryo itu siapa to sayang?terlepas? emang Tara dikurung? yang ngurung Tarakan kamu sayang....kalo ngajak kuda-kudaan kaya minum obat sehari 3 kali" omel Tara.
Arno kebingungan, kok gini ceritanya apa ini dirinya bermimpi?
Arno mencubit dirinya sendiri.....
__ADS_1
"Aaaargh!!!" pekik Arno karena merasakan sakit.
"Sayaang kamu kenapa sich .....aneh dech....makanya kalo tidur jangan kelamaan, jadi bingung sendiri toh" tanya Tara yang menatap Arno dengan tatapan kebingungan.
"Udaaah sekarang kamu mandi dulu lalu kita jalan-jalan mbantuin bibi dan paman panen sayur...."
"Disini enak ya sayang, mau masak sayur, tinggal ke kebun metik sendiri, mau makan ayam tinggal potong ayam di belakang...hihihi uang kita utuh" cerocos Tara.
"Honeymoon kita perpanjang sebulan lagi ya sayang,baru itu kita baru balik ke Perancis"bujuk Tara manja sambil bergelayut di lengan Arno
"Honeymoon?disini?ini dimana to sayang? .....lalu paman dan bibi siapa?"tanya Arno masih bingung banget sumpah.
Plaaaak......
"Aaaaw....."
" Sayang kok mukul sich" pekik Arno sambil mengusap lengannya yang terasa panas karena dipukul tangan kecilnya Tara.
"Sayang kita ini di rumahnya Paman Tirta ....gimana sih sayang"
"Perasaan rumah paman beda loo, lalu Aksa dimana?"
"Kamu kenapa sich...kak Aksakan dah balik ke Jakarta setelah 7hari papa, lalu kita tinggal di rumah samping rumah paman, karena kita mau honeymoon disini...." terang Tara berusaha sabar.
"Hah papa sudah tujuh hari? kapan?"
Huffft..... hela nafas Tara berusaha sabar menghadapi suaminya yang tampak terkena amnesia.
"Malah sudah 40 hari, kemarin malam kita ngadain pengajian memperingati 40 hari papa....masak lupa sich sayang?"
"Apakah kepalamu terbentur atau kamu jatuh?kok sampe lupa semua" tanya Tara dengan wajah cemas.
Arno semakin kebingungan lalu berusaha menarik nafas berusaha menarik cairan untuk dijadikan bola air di telapak tangannya.
"Loo kok aku nggak bisa ngeluarin bola air?" gumam Arno.
"Sayang kamu kenapa sich.....jangan buat Tara takut dong" seru Tara dengan wajah cemas.
Arno lalu segera menceritakan semuanya dari awal sampai tiba-tiba terbangun ini.
"Mas Arno kesayangan Tarasari, kamu itu kalo ngimpi panjang amat sich sampai bisa dibuat novel tahu" ujar Tara sambil geleng-geleng.
"Lagipula ya sayang ini sudah tahun berapa, ya masih ada kaya hal itu sich....kebanyakan lihat Naruto kamu, sampai ada cakra air, api dan angin segala"
"Alvatar Aang sayang bukan Naruto" omel Arno dengan muka cemberut lalu menuju kamar mandi.
"Masak mimpi sich??!! kalau misal mimpi kenapa aku gak inget apa-apa sich" gumam Arno sambil ngacak-acak rambutnya.
Kebingungan Arno berlanjut saat setelah mandi dan sarapan bersama Tara, Arno keluar rumah tampak banyak tetangga di desa itu ramai berlalu lalang saling menyapa dan desa tersebut cerah full matahari.
"Bukannya desa ini selalu temaram karena kabut dan kenapa para penduduknya ramah tidak seperti dulu yang selalu terlihat ketakutan dan aneh" ujar Arno.
"Naah to aneh lagi .....Tara panggilin paman ya biar di ruqyah"
"Eeeh....enak aja aku gak kerasukan iblis yaah, sayaang iiih" ujar Arno memasang muka memelas.
"Makanya jangan aneh-aneh, dan lupain mimpi yang gak jelas itu...yuuks kita panen sayur dan buah-buahan" ajak Tara dengan senyum ceria sambil jalan cepat me
'Iya yah....haizzz dasar mimpi aneh, daripada mikir aneh-aneh mending nempel biniku yang cantik tiada taranya inih....' ucap Arno sambil tersenyum lebar.
"Kuy.....sayang, i'm comiiing" teriak Arno sambil berlari kecil mengejar Tara yang sudah berjalan didepannya.
...***...
__ADS_1
...TBC...
...Manakah yang benar -benar terjadi ya?😮😮...