
Sangkala menjelaskan kepada Arno apa saja yang harus dia lalui untuk memperoleh ilmu kesaktian untuk melawan Haryo.
Ada sepuluh tahapan lelaku tirakat yang harus Arno lalui yaitu :
Tapa Mutih
Tirakat ini sangat dikenal. Untuk melakukannya, kamu harus siap cuma minum air putih dan makan satu jenis makan tanpa garam selama 40 hari. Misalnya, air putih dan nasi putih tanpa tambahan apa-apa selama 40 hari.
Tapa Ngrowot
Lelaku ini mengharuskan kamu hanya makan sayuran. Wah, kayaknya ini berat banget ya buat orang yang nggak bisa berpisah dengan nasi. Setuju nggak?
Tapa Pati Geni
Kamu nggak boleh makan makanan yang dimasak menggunakan api. Selain itu kamu dilarang tidur dan menghidupkan cahaya. Semua aktivitasmu dilakukan dalam gelap. Selama seharian di kamar yang dilakukan hanyalah berdoa.
Tapa Ngebleng
Kamu dilarang makan dan minum selama hari-hari ganjil, meliputi 7 / 13 / 19 / 21 hari. Jika pada puasa biasa durasinya hanya dari subuh sampai Magrib, puasa Ngebleg ini dilakukan selama 24 jam.
Tapa kungkum
Caranya dengan merendam diri di sungai pertemuan arus selama 40 hari dengan bertelanjang dada. Selama melakukan Tapa Kungkum, kamu dilarang tertidur karena bisa membuat tirakat ini batal. Selain itu, tertidur juga akan membahayakan diri.
Tapa Ngeli
Kamu harus menghanyutkan diri di air. Ada yang mengatakan kalau pelaku tirakat ini menggunakan sampan dan membiarkan air sungai menghanyutkannya. Mungkin falsafahnya, hendaknya seseorang pasrah pada kehendak Tuhan.
Tapa Pendem
Kamu harus mengubur diri hingga tampak leher saja. Konon, jenis tirakat ini cukup berat karena pelaku kerap didatangi makhluk halus untuk menakut-nakutinya. Kamu juga harus memiliki fisik yang kuat agar nggak lemas.
__ADS_1
Tapa Nggantung
Kamu harus menggantung di pohon dan dilarang menginjak tanah. Selain disebut tapa nggantung, ada juga yang menyebutnya tapa kalong. Semedi ini juga dipercaya meningkatkan kekuatan fisik dan melatih pernapasan.
Tapa Ngrame
Arti dari lelaku ini adalah tetap tenang meski di tengah hiruk-pikuk aktivitas manusia atau di keramaian. Selain itu, kamu harus siap berkorban atau menolong siapa saja dan kapan saja
10. Tapa Brata
Ritual terakhir adalah bersemedi dengan khidmat. Tirakat ini dianggap dapat membantu memusatkan diri pada Tuhan karena banyak pantangannya.
Mendengar penjelasan dari Sangkala mulut Arno menganga lebar, oooh ayolah Arno adalah generasi Now yang dilahirkan di masa modern tanpa mengenal lelaku tirakat orang jaman kuno.
"Sangkala tidak adakah cara lain untuk melalui tanpa melakukan apa yang kamu sebut tadi? aku nggak mampu, kalau cuman puasa satu bulan aku masih biasa karena anggap saja puasa di bulan Ramadhan" tawar Arno karena merasa tidak yakin bisa melakukan itu semua.
"Tidak ada cara lain Gusti, anda harus bisa melalui semua itu" jawab Sangkala tegas.
Aksa hanya bisa melihat adik iparnya dengan tatapan iba.
"Tuan Aksa juga harus berlatih kanuragan dan belajar bersama pamanmu dalam berdoa, karena yang kita hadapi nanti bukan manusia lagi, tetapi sudah menjelma menjadi sesosok mahluk hampir sama dengan jin" terang Sangkala.
Arno dan Aksa saling berpandangan dan mereka berdua menyangsikan kemampuan mereka.
Ketenangan yang dirasa Arno dan Aksa selama melakukan Lelaku dan berlatih kanuragan selain sangat berat juga selalu mendapat serangan dari pasukan Haryo yang berupa mahluk-mahluk mengerikan, tetapi pasukan Sangkala tidak kalah hebatnya untuk melindungi Arno dan Aksa yang sudah dibuat benteng tidak terlihat yang melingkupi keduanya.
Awalnya Arno dan Aksa sangat ketakutan karena musuh yang mereka hadapi tidak bisa mereka sentuh tetapi serangan mereka bisa melukai manusia dan beberapa pasukan Sangkala tetapi setelah beberapa minggu mereka berlatih, mereka sudah mulai terbiasa meski mereka belum bisa membantu Sangkala, mereka hanya dalam benteng buatan Sangkala.
Sampai pada suatu hari pasukan Haryo tersebut menyerang dalam jumlah banyak dan menyerang dari segala arah turun dari atas pegunungan.
Dan seperti biasa Sangkala dan pasukannya dengan lincah melindungi Arno dan Aksa dengan mengerahkan semua kesaktian mereka.
"Dierja kalau berani keluar kamu!!! jangan cuman menyuruh jin-jin kafir gila ini!!" tantang Sangkala.
"Hahaha....baru melawan anak buahku saja pasukanmu banyak yang mati, menyerahlah Sangkala dan serahkan Gusti pangeranmu itu!!" seru sebuah suara tanpa ada wujudnya.
"Semakin tua semakin buta kamu Dierja!!! pasukanmu yang habis kubunuh" jawab Sangkala tidak kalah lantangnya.
Tiba-tiba angin kencang datang, mahluk-mahluk yang sudah dikalahkan dan dibunuh oleh Sangkala dan prajuritnya kembali bangkit dan kembali menyerang.
Arno yang baru ini melihat secara langsung pertarungan antara manusia dan bangsa manusia setengah jin membuatnya ketakutan, terlebih pasukan Sangkala mulai terlihat kepayahan karena pasukan musuh selalu bangkit kembali, sedangkan Aksa dan paman segera duduk bersila lalu membaca doa ayat Yassin dengan suara mengalun merdu.
Sedangkan Arno meskipun beragama Islam tetapi tidak begitu hafal baca-bacaan Alquran hanya duduk ditengah paman dan Aksa, sambil berdoa sebisa dia.
Disaat Arno di titik sangat ketakutan karena pasukan Sangkala mulai terdesak, tiba-tiba terdengar dikepalanya
"Cucuku Arno biarkan aku membantumu untuk melawan mereka, kita bantu Sangkala"
Arno sangat terkejut saat dia menengok kebelakang tampak seorang pria yang memiliki wajah sama dengan dirinya tetapi memakai baju bangsawan kerajaan jaman dahulu, dengan senyum teduhnya tepat berdiri dibelakang Arno.
"Apakah anda Gusti Pangeran Aryawijaya?" tanya Arno.
__ADS_1
"Benar cucuku, akulah Aryawijaya kakek leluhurmu, duduklah tenang dan pejamkan matamu---aku salurkan semua kemampuanku ke tubuhmu sehingga kamu kekuatan kita bersatu" perintah Arya.
"Baik Kek...." jawab Arno patuh lalu segera melakukan apa yang diperintah Arya dan disaat Arya menyalurkan tenaganya, tubuh Arno yang sedang bersimpuh tiba-tiba terangkat sebuah aliran tenaga dingin secara perlahan tapi pasti mulai masuk ke seluruh persendian dan tubuh Arno.
"Cucuku ilmu kakek mempunyai unsur air jadi kamu bisa memanfaatkan dan menyerap semua unsur air disekitarmu, sekarang coba kamu gerakan semua tanganmu mengikuti gerakan kakek ini, kita serap semua unsur air disekitar kita untuk menyerang mereka" ujar Arya.
Arya mengajari Arno dengan mengayunkan kedua tangan ke arah depan dan samping secara bergantian, gerakan itu sangat pelan tetapi berkali-kali, tampak sedikit demi sedikit air dari sekitar mereka seperti tersedot magnet membentuk aliran air bergerak mengelilingi tubuh Arno.
"Gunakan air tersebut seperti pedang maupun pecut Cu, maju serang para pasukan Dierja, tebas kepala mereka lalu padamkan api yang keluar dari tubuh mereka, sehingga mereka tidak akan bisa bangkit kembali" jelas Arya sambil mengajari gerakan bertarung kepada Arno.
Aksa, paman dan Sangkala terkejut karena Arno menerobos keluar benteng buatan Sangkala dengan mengeluarkan aliran air untuk menyerang para mahluk jadi-jadian tersebut.
"Jangan khawatir tuan Aksa, Gusti Pangeran Arya sudah menjadi satu dengan Gusti pangeran Arno"
"Maksudmu kerasukan dia Kek?" tanya Aksa.
"Ilmu Gusti pangeran Arya sudah ditransfer ke tubuh Gusti pangeran Arno--- sehingga bisa menggunakan elemen air, jurus andalan Gusti Pangeran Arya" terang Sangkala dengan mata berbinar dan kembali mengikuti Arno menyerang para mahluk jadi-jadian.
"Sangkala tebas kepala mereka, supaya mereka tidak bisa bangkit lagi" teriak Arno sambil terus maju didepan memimpin pasukan Sangkala.
Pasukan Sangkala pada awalnya sudah menurun staminanya, melihat Arno yang sudah bisa menggunakan jurus Raja Junjungannya dahulu, kembali bangkit semangatnya dan mematuhi perintah Arno untuk menebas semua kepala pasukan Dierja.
Aksa dan paman Tirta hanya bisa menganga takjub melihat Arno menjadi hebat, memang Arno sudah menguasai ilmu beladiri Wing Chun yang dia pelajari sejak dia kecil, karena Arno kecil yang memiliki wajah orang Indonesia tetapi tinggal di antara para anak bule di Perancis sering mendapat perundungan dari teman sebayanya, sehingga oleh sahabat ayahnya yang berasal dari China Arno kecil diajarin ilmu beladiri Wing Chun yang merupakan beladiri jarak dekat dengan gerakan cepat dan tepat pada titik-titik kelemahan lawan.
Arno mengkombinasikan ilmu beladirinya dan ilmu dari Aryawijaya yang memanfaatkan air sebagai senjatanya.
Pertarungan pada akhirnya berhasil dimenangkan oleh pasukan Sangkala dan Arno, sorak sorai kegembiraan terdengar dari pasukan Sangkala dan mereka bersujud didepan Arno, membuat Arno merasa tidak enak.
"Berdirilah kalian, aku hanya manusia biasalah janganlah kalian bersujud di hadapanku, tetapi bersujudlah dihadapan Allah SAW" ujar Arno.
"Gusti pada akhirnya anda bisa menguasai ilmu dari Gusti Pangeran Arya....sekarang Gusti istirahat dan makan yang akan saya siapkan--besok malam kita mulai tapa kungkum, Ngeli dan pendem" ujar Sangkala mempersilakan Arno, Aksa dan paman Tirta untuk beristirahat.
"Ar....bagaimana caramu mengeluarkan senjata air tadi itu? padahal tempat kita tadi jauh sari mata air" tanya Aksa yang sudah kepo sejak tadi.
Arnopun bercerita mengenai kehadiran Gusti Pangeran Arya yang menyalurkan kekuatan dan ilmu kepadanya.
"Kok kita tidak melihat ya Ar" tanya Aksa lagi.
"Entahlah kak, kelihatannya yang bisa melihat hanya Arno saja" jelas Arno.
"Ooo gitu ya, sekarang beristirahat dulu Ar!!" ajak Aksa.
.
.
.
.
Diwaktu yang sama tetapi berbeda tempat tampak Dierja tersungkur dengan muntah darah, hal tersebut bukannya Dierja menyerah tetapi membuat dirinya terbahak-bahak, membuat bawahan setia Dierja yang bernama Manto ngeri.
"Ntoo....besok malam kerahkan pasukanmu untuk menyerang kembali dimana kamu harus turun tangan" perintah Dierja.
"Sendiko dawuh ....panglima!" jawab Manto kemudian ijin untuk keluar untuk bersiap buat ntar malam.
...***...
...TBC...
__ADS_1
...Next Episode masih full bertarung lagi ya😁...