
Setelah mendengar cerita dari Paman, Aksa mengernyitkan keningnya dan menatap paman tidak percaya
"Paman yang diceritakan Paman ini legenda desa ini? tidak betulan terjadi toh?" tanya Aksa dengan nada ragu-ragu.
"Kak...kalau tadi tidak mengalaminya sendiri, mungkin Arno menganggap cerita Paman adalah mitos atau legenda saja, tetapi tadi bener-bener nyata Kak" ujar Arno.
"Benar kata Arno, ini beneran nyata Sa....dan adikmu Tara waktu pertama kali diajak kemari sudah beberapa kali menghilang, oleh karena itu ayahmu mengirim Tara pergi jauh ke luar negeri dan melarang kemari, karena Ayahmu dan Paman yakin bahwa Tara adalah titisan dari Kanjeng Gusti Ratu Gayatri, dan sekarang terbukti dengan menghilangnya Tara" jelas Paman.
"Apakah Tara akan dibunuh juga seperti para gadis itu Paman? Tara sudah tidak suci lagi karena dia sudah menjadi istri Arno" ujar Arno khawatir.
"Menurut Paman kelihatannya Tara tidak akan dibunuh tetapi tubuhnya dan jiwanya akan ditukar untuk menghadirkan jiwa Gusti Ratu Gayatri...untuk lebih jelasnya kita harus ke Eyang Sengkala, beliaulah yang tahu bagaimana menyelamatkan Tara" ujar Paman lalu segera berdiri dan memberi isyarat Arno dan Aksa untuk mengikutinya.
"Pakne..apakah Pakne yakin melakukan ini melawan Gusti Sinuwun Haryo?" tanya Bibi Surti dengan wajah cemas.
"Tara dan Aksa sudah tidak memiliki siapa-siapa Bune, kalau bukan aku yang melindungi mereka menggantikan posisi ayah mereka....apakah aku pantas disebut paman mereka kakak kandung dari ayah mereka?"
"Pasrah marang kersane Gusti Allah bune, aku yakin Allah pasti melindungi umatnya yang berbuat baik, Beliau pasti akan disisi kita bune" ujar Paman mantap.
"Yo wes Pakne, hati-hati ya Pakne" ujar Bibi Surti sambil mengalungkan tasbih dileher paman.
"Tutup semua pintu dan sholat didalam ya bune, aku pergi ya bune" pamit paman diikuti Aksa dan Arno yang juga turut berpamitan ke Bibi Surti.
Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak yang tersembunyi didalam rimbunnya ilalang dan tanaman perdu, mereka bertiga tidak menghiraukan beberapa kali wajah, tangan dan kaki mereka tergores beberapa tanaman tersebut, mereka hanya fokus untuk segera menuju tempat eyang Sangkala.
Setelah kurang lebih dua jam perjalanan mereka sampailah mereka di bawah jurang di bawah pegunungan tampak sebuah pemukiman kecil penduduk yang dilindungi rimbunnya pepohonan sehingga dari luar dan dari atas tidak tampak, karena atap setiap rumah merekapun tertutup rumput hijau.
Saat mereka memasuki pemukiman tersebut, mereka disambut beberapa pria muda berperawakan gagah tidak memakai baju atasan, hanya celana hitam yang dililit oleh jarik, dan selendang berwarna merah melilit perut dan bahu mereka, tidak lupa rambut mereka dibuat cepol diatas kepala dan dililit kain hitam di kepala mereka, dan sebuah pedang panjang di punggung mereka dan sebilah keris di pinggang mereka.
"Tirta mau ngapain kamu kemari?" tanya salah satu pria berkumis tebal (bayanginnya seperti kumis nya pak Raden di Unyil ya gaess 😁😁 *author POV)
"Hamba membawa keponakanku ini Kisanak untuk meminta bantuan Eyang Sangkala" tutur Paman sambil menarik Aksa dan Arno yang berdiri dibelakang memakai topi hitam dan memakai masker hitam sehingga wajah mereka tidak tampak.
"Buka topi dan masker kalian Sa....Ar" perintah paman Tirta.
__ADS_1
"Baik paman" ujar Arno dan Aksa serempak.
Ketika Arno melepaskan topi dan masker, para pria yang memakai baju seperti prajurit kraton jaman dahulu langsung bersimpuh di tanah memberi hormat ke Arno
"Maafkan kami Gusti Pangeran Aryawijaya, kami tidak mengenali panjenengan.....mari ikuti hamba untuk bertemu Manggalayuda Sangkala" ujar Pandhega yang bernama Surokarsa(*Manggalayuda adalah nama pangkat ketentaraan prajurit kraton jaman dahulu setara dengan komandan atau pimpinan prajurit, dahulunya Sangkala hanyalah berpangkat Pandhega yang bertugas menyiapkan pasukan pelindung ratu ataupun raja, tetapi karena pada saat itu Wurdya mendapatkan tugas dari putri Saraswati untuk membawa pangeran Juno ke kakaknya di kerajaan Surakarta, sehingga pangkat Sangkala naik menjadi Manggalayuda)
Mungkin kalian bertanya kenapa putri Saraswati membawa pasukan sendiri dari kerajaan Penumping, bukan karena ingin memberontak, tetapi Kanjeng Sinuwun Haryoto merasa Saraswati yang lemah lembut akan terancam dilukai maupun dibunuh oleh para selir lainnya yang dari kerajaan besar dan kuat, oleh karena itu Haryo sendiri yang meminta kepada Sultan Cokrobuono ayahanda dari putri Saraswati satu pasukan kecil tetapi sakti dan kuat untuk melindungi istrinya kelak, apabila terjadi apa-apa dengan dirinya.
Kembali ke Arno dan rombongannya.
"Eeh....anu paman saya bukan Gusti Aryawijaya saya Arno Wijaya Saputra--- jadi an..." belum selesai Arno bicara langsung ditarik Aksa.
"Ikut saja Ar...pokoknya kita harus segera menyelamatkan adikku" bisik Aksa ke telinga Arno, membuat Arno segera mengatupkan mulutnya kembali meski sebenarnya masih ingin bicara.
Melihat Arno tidak jadi bicara Surokarsa segera membawa mereka masuk kedalam rumah yang terbesar dibandingkan dengan rumah yang lain.
Saat memasuki rumah tersebut tampak seorang pemuda berbadan tegap sama memakai celana hitam dan selendang merah, tetapi pria tersebut memakai seperti memakai mahkota, kalung dan ikat lengan berbahan kuningan atau emas sedang berbincang dengan beberapa wanita yang juga terlihat gagah dengan keris dipinggang mereka dan memakai busana yang sama seperti pandhega Surokarsa.
Mendengar suara Surokarsa, Sangkala segera menghentikan pembicaraannya dan segera membalikkan tubuhnya menghadap Surokarsa.
Betapa terkejutnya Sangkala saat melihat Arno dan segera memberi kode ke semua orang untuk bersujud mengitari Arno.
"Hamba memberi hormat kepada Gusti Pangeran Aryawijaya dan siap menerima perintah" seru mereka serempak membuat Arno kebingungan.
"Pamaan....gimana ini, Arno bingung--- Eyang Sangkala mana?" tanya Arno bingung.
Tirta yang mulai paham segera menjelaskan ke Sangkala dan memberi tahukan ke Arno dan Aksa.
Arno disuruh duduk di kursi singgasana diatas, tetapi Arno bersikukuh tetap duduk dilantai bersama mereka dan meminta Sangkala menjelaskan semuanya.
"Sebenarnya masalah ini sudah kami cegah sehingga Gusti Putri Gayatri dan Panjengan Gusti Pangeran Arya hidup tenang jauh dari Gusti Sinuwun Haryo bersama ayah anda tuan Raka, tetapi mungkin memang sudah suratan takdir dari Allah SAW sesuai ramalan Gusti Putri Saraswati untuk membebaskan desa Madyosari dari genggaman kekuasaan Kanjeng Sinuwun Haryoto yang lalim dan penuh aura musrik" jelas Sangkala.
__ADS_1
"Eyang Sangkala...." belum selesai Arno bicara langsung diputus Sangkala
"Panggil Sangkala saja Gusti Pangeran" ujar Sangkala membuat Arno menghela nafas.
"Mengapa kalian memanggilku pangeran Arya Wijaya padahal aku bukan beliau, lalu apakah benar kamu orang dahulu karena kamu sama sekali tidak tampak tua sedikitpun" tanya Arno.
"Gusti Putri Saraswati memiliki kelebihan untuk melihat masa depan, di saat beliau datang ke kerajaan ini beliau melihat akan ada bencana yang membuat Gusti pangeran Arya dan Gusti Putri Gayatri meninggal, oleh sebab itu beliau berusaha menyelamatkan mereka dengan segala cara meskipun beliau tahu hal tersebut tidak akan berhasil seratus persen tetapi beliau melihat adanya harapan di masa depan ketika titisan Pangeran Arya dan Putri Gayatri terlahir kembali, yaitu panjenengan yang sekarang bernama Arno dan Gusti Putri Gayatri sekarang bernama Tara" jelas Sangkala.
"Oleh sebab itu Gusti putri Saraswati menyuruh kami ikut upacara di malam itu dan ikut menyantap daging persembahan tersebut supaya kami bisa tetap hidup dan menunggu kedatangan panjenengan dan menolong titisan putri Gayatri supaya tidak dikorbankan sinuwun Haryo, dan bisa menghancurkan ilmu Ki Seto" jelas Sangkala.
"Lalu kita harus bagaimana Sangkala, aku tidak memiliki kesaktian yang bisa mengalahkan Sinuwun Haryo dan menyelamatkan istriku Tara" tanya Arno.
"Anda adalah keturunan dari Gusti pangeran Aryawijaya oleh sebab itu kenapa ada nama Wijaya di keluarga Panjenengan jadi jangan khawatir ilmu dari pangeran Arya Wijaya ada ditubuh panjenengan, kita masih punya waktu sebelum malam bulan purnama, biarkan saya ajarkan cara mengeluarkan ilmu tersebut, sambil mencari cara mengambil jenasah Gusti Putri Gayatri dan kita persatukan di makam Gusti Pangeran Wijaya."
"Bukankah tubuh pangeran Arya dibuang di danau?" tanya Aksa
"Iya tetapi beberapa dari kami ini adalah prajurit setia dari pangeran segera menyelamatkan jenazah beliau dan kami makamkan di tempat tersembunyi" ujar Sangkala.
"Dimana letak tubuh putri Gayatri Sangkala?"
"Ada didalam istana yang selalu dijaga ketat oleh prajurit dan mantera kuat Ki Seto, jangan khawatir pangeran, kami sudah menyusupkan orang disana untuk menjaga Putri Tara dan mencari cara untuk menghancurkan mantera tersebut" jelas Sangkala.
"Baiklah Sangkala, mari kita mulai karena bulan purnama akan terjadi satu bulan dari sekarang" ujar Arno penuh tekad membuat Sangkala tersenyum.
"Sendiko dawuh Gusti" seru Sangkala.
...*TBC*...
...Bagaimana ya persiapan selama satu bulan? lalu bagaimana kondisi dari Tara di istana Haryo ya? 😔...
...1. Menangis Ketakutan...
...2. Membuat Kekacauan...
...3. Melancarkan Rayuan Gombal...
__ADS_1