
Disaat semua sudah terlelap dalam tidur, Arno dibangunkan sebuah suara yang sangat mirip dengan suaranya.
Arno langsung tahu bahwa kakeknya yang membangunkannya.
"Ada apa kek?"tanya Arno dengan serakah khas orang bangun tidur.
"Ikut kakek Cu...." ujar Arya.
Dengan masih merasa mengantuk, Arno memaksakan dirinya untuk bangun dan mengikuti Arya kekeknya.
Arno merasa terheran saat melalui pasukan Sangkala tidak melihat dirinya melewati mereka
"Kek....kenapa mereka tidak melihat kita?"
Dengan tersenyum Arya menjawab
"Karena aku membuat mereka tidak melihat kita"
Arno hanya menatapnya dengan mulut menganga dan mengangguk-anggukan kepalanya.
Mereka berdua berjalan menuju danau, kemudian Arya berhenti di depan danau.
"Maafkan kakek ya Cu, gara-gara kakek kamu mengalami hal mengerikan seperti ini....tetapi kakek sangat mencintai nenekmu" ujar Arya sambil mengulurkan tangan ke depan sambil menarik nafas panjang dan meniupkan udara ke depan dimana kedua tangan dia gerakan membentuk sebuah lingkaran yang lama-lama lingkaran tersebut membentuk sebuah pusaran air yang tadinya gelap seperti keadaan malam itu makin lama mengeluarkan cahaya terang dan terlihat ada sebuah peti kaca dimana didalamnya tampak terbaring sesosok tubuh manusia yang tampak seperti sedang terlelap tidur.
"Taraaa!!!!" pekik Arno
"Tara kenapa itu kek???? apakah mereka membunuh Tara?" seru Arno panik lalu berusaha maju ke depan ingin masuk menerjang pusaran air tersebut tetapi langsung dicegah oleh Arya.
"Itu istriku Cucuku Arno, Diajeng Gayatri....istrimu Tara sekarang masih aman sampai bulan purnama nanti" ujar Arya berusaha menenangkan.
"Itu nenek? ternyata benar wajah Tara sama persis dengan wajah Nenek Gayatri" ujar Arno.
"Iya....karena Tara adalah titisan dari nenekmu, itulah sebabnya Kangmas Haryo mengambil istrimu"
"Kek...benarkah Tara nantinya akan ditumbalkan untuk menghidupkan nenek Gayatri?" tanya Arno dengan wajah cemas.
"Tubuh Tara nantinya akan dimasuki roh Diajeng Gayatri, tetapi sebenarnya itu jin bukan roh ataupun korinnya diajeng Gayatri"terang Arya
"Kangmas Haryo sudah dibutakan oleh Ki Seto ke arah sesat Cu...."
"Lalu maksud Ki Seto itu apa Kek?"
"Ki Seto meski pada awalnya merasa iba melihat kondisi Kangmas Haryo tetapi, sejak dia melakukan ritual sesat itu, dia sudah menandatangani kontrak dengan Jin bahwa ketika titisan Diajeng Gayatri hadir, maka Jin tersebut mempunyai sosok tubuh manusia dan Ki Seto menjadikan desa ini menjadi kerajaan Iblis dan semua penduduk dijadikan siluman"
"Dan Ki Seto sekarang ini sudah bukan Ki Seto yang dulu, karena dia sudah menggadaikan jiwanya ke Jin tersebut" terang Arya panjang lebar.
__ADS_1
"Kek ....Arno masih bingung, kakek itu sakti kenapa kakek tidak bisa mengambil tubuh nenek dan melawan Gusti Haryo?"
"Apakah kamu tahu takdir orang yang mempunyai elemen air sebenarnya?"tanya Arya dengan tersenyum yang ditanggapi oleh Arno dengan gelengan kepala.
"Elemen air mempunyai takdir sebagai penyembuh dan membawa kesuburan dan kedamaian disekitarnya, meskipun bisa juga untuk bertarung tetapi itu untuk melindungi diri dan orang yang dikasihi, karena itu orang yang berelemen air mempunyai sifat welas asih, tanpa adanya kebencian"
"Kalau begitu kenapa Gusti Haryo mempunyai sifat pemarah, kasar, jahat dan penuh iri dengki"
"Kangmas Haryo mempunyai elemen api, yaah sesuai yang kamu pikirkan kami memiliki ibu yang berbeda, setiap elemen diturunkan oleh pihak ibu Cu" jelas Arya.
"Meskipun kami saudara satu ayah, sifat kami bertolak belakang, Kangmas Haryo mempunyai sifat keras kepala, kasar dan sadis....meskipun kami sangat berbeda tetapi kami saling menyayangi"
"Kangmas Haryo sudah memiliki segalanya, tetapi hanya satu hal yang sangat diinginkan, yaitu anak...tetapi entah mengapa Gusti Allah tidak memberi karunia tersebut kepadanya---mungkin karena Kangmas tidak pernah berdoa dengan benar"
"Istri beliau itu ada lima dimana menganut kepercayaan yang berbeda, sehingga cara doa beliau mengikuti semua kepercayaan para istrinya, bahkan terakhir tidak berdoa sama sekali karena menganggap Gusti Allah itu tidak ada" keluh Arya sambil tetap memandang wajah istrinya penuh kerinduan.
"Kek apakah jaman dahulu masing-masing manusia mempunyai masing-masing elemen?"
"Iya....tetapi tidak semua bisa menguasai, tergantung seberapa tekun mereka mengasah ilmu mereka" terang Arya kembali.
"Kalau untuk jaman sekarang kenapa kami tidak memiliki Kek"
"Orang jaman sekarang hanya sibuk memikirkan bagaimana caranya mencari uang dan kesenangan duniawi, mana pernah mereka menjalani lelaku dan bersatu dengan alam?!!--boto-boro bersatu dengan alam, alam saja kalian rusak" ujar Arya sambil tersenyum miris.
"Kakek belum menjawab pertanyaan Arno tadi" cecar Arno.
"Lalu apa yang harus Arno lakukan sekarang kek?"
"Kakek akan melatihmu, gunakan air sekitarmu untuk setiap gerakanmu---biarkan air bersatu denganmu" ujar Arya yang menutup pusaran air yang menunjukkan keadaan Gayatri.
Arya melatih malam itu bagaimana mengontrol gerakan air sehingga bisa dijadikan senjata untuk menyerang dan bertahan.
"Seraplah cahaya bulan dan hembuskan di aliran air yang sudah kamu buat itu Cu" perintah Arya.
Arno segera mengikuti perintah Arya, dan betapa terkejut dan senangnya Arno karena hembusan tersebut bisa membekukan aliran air tersebut.
"Kek....kereeen!!" pekik Arno kegirangan.
"Gunakan es itu seperti pedang ya Cu, sekarang coba kamu berjalan diatas danau"
"Waaaah Kek, mana mungkinlah" jawab Arno dengan wajah bingung.
"Liat kakek dan ikutin yah" ujar Arya lalu mulai berjalan diatas air
"Sambil berjalan, kamu bekukan air danau dan meluncur diatasnya....bisa juga satukan dirimu dengan air danau dan gerakan tanganmu seperti kakek ini" terang Arya yang mengarahkan kedua tangannya ke arah belakang dan kakinya bergerak seperti berlari.
__ADS_1
Pada awalnya Arno tercebur ke dalam air danau, tetapi Arno mulai meniup air danau disekitar dirinya lalu mulai mengangkat tubuhnya dan duduk diatas lapisan es diatas danau, kemudian duduk seperti bertapa dan berusaha mengatur nafas dan mengerahkan ilmu yang diajarkan Arya tadi.
Secara perlahan namun pasti, Arno mulai bisa berdiri diatas air kemudian menggerakan kedua tangannya kearah belakang sehingga keluar tenaga airnya yang mendorong tubuhnya maju ke depan sehingga Arno mulai bisa meluncur diatas air.
"Bagus Cu....sekarang bekukan semua air danau ini!" perintah Arya
Meskipun dengan rasa ragu, tetapi Arno dalam hati meminta bantuan Allah, Arno menarik nafas panjang dan berusaha berkonsentrasi dan mulai menghembuskan nafasnya melalui hidung dan secara perlahan meniup ke arah air danau.
Secara perlahan-lahan air danau mulai membeku, tetapi ketika baru setengah danau yang tertutup es, Arno sudah mulai kepayahan.
"Jangan berhenti....waktu kita tidak lama Cu, berdoalah dalam hati untuk meminta kekuatan kepada Allah Cu!!" seru Arya memberi semangat.
Arno yang teringat istrinya membutuhkan dirinya, tubuh yang pada mulanya sudah sangat lelah dan tidak kuat lagi, kembali bersemangat lagi.
Akhirnya setelah satu jam akhirnya Arno berhasil membekukan air danau.
"Akhirnya Arno berhasil kek" gumam Arno lalu segera terduduk lemas diatas es.
Arya tersenyum puas melihat cucunya berhasil menguasai ilmu penguasaan elemen air warisan keluarganya.
"Ayo kita beristirahat dulu Cu" ajak Arya yang berjalan ke daratan dan mulai duduk dibawah pohon.
Arno segera duduk disamping Arya masih dengan nafas tersengal-sengal.
"Kek....kenapa Arno tidak kedinginan saat duduk diatas es tadi ya?"
"Itu karena kakek sudah membuka semua cakra elemen air didalam tubuhmu, jadi hal tersebut tidak akan berefek buat dirimu"
"Waaah keren ya kek, kalau nenek Gayatri juga memiliki elemen air kek?"
"Diajeng Gayatri bukan elemen air tetapi angin, oleh karena itu kita bisa mengalahkan kekuatan kang mas Haryo terlebih Diajeng saat itu mengeluarkan jurus keramat keluarganya, dimana Kang mas Haryo tidak bisa mengeluarkan ilmunya"
"Tetapi Kang mas Haryo sudah dibutakan kemarahan dan nafsu ingin memiliki Diajeng sehingga disaat kami sudah mau pergi meninggalkannya dengan damai malah melemparkan tombak ke arahku, dan seperti yang sudah ketahui cerita selanjutnya cucuku Arno" jelas Arya sambil menatap kosong ke arah danau.
"Hari sebentar lagi pagi Cu....bersiaplah untuk Subuhan, ingatlah meskipun kita menguasai ilmu ini jangan lupakan Allah kita, selalu sholat 5 waktu dan baca Alqu'ran dengan rajin"
"Kepadanyalah kita menyembah dan mempercayakan hidup kita" ujar Arya.
"Baik kek....mari kita kembali ke markas, takutnya Sangkala sudah mencari kita" ujar Arno sambil tersenyum.
Baru beberapa langkah dari danau, tiba-tiba terdengar geraman suara yang sangat keras dari arah depan mereka, membuat Arya dan Arno memasang kuda-kuda untuk bertempur.
...***...
...TBC...
__ADS_1
...Siapakah yang menghadang mereka berdua?😱😱😱...