Wajah Dalam Lukisan

Wajah Dalam Lukisan
Episode 29 Cakra Angin


__ADS_3

Ki Seto yang sedang bersemedi setelah semalam pesta makan daging manusia dan minum darah segar, dikejutkan teriakan Haryo yang menggelegar penuh kemarahan.


Saat dia membuka mata, Ki Seto langsung tahu apa yang telah terjadi....."Dasar Siluman bodoh mengurus gadis kecil lemah saja tidak becus!!!" umpatnya lalu segera menghadap Haryo.


Baru sampai pintu kamar Tara, Seto langsung terpental dan membentur dinding dibelakangnya untung saja dia sempat mengeluarkan pelindung sehingga tubuhnya tidak terbakar serangan api dari Haryo.


"Ampuuun beribu ampun Gusti Sinuwun" ujar Seto langsung bersujud didepan pintu.


"Apa maksudmu dengan mengerahkan semua siluman menyerang kamar Tara calon istriku Haaah!!!! lalu sekarang katakan dimana dia sekarang???!!!!" bentak Haryo marah.


Alih-alih menjawab Seto malah langsung mengamati sekitarnya, sambil memanggil siluman ular bawahannya.


Haryo semakin marah karena Seto sama sekali tidak memperdulikannya, sehingga langsung mengerahkan ajian lebur sayekti yaitu sebuah ajian untuk menyerang dari jarak jauh melalui tangan Haryo keluar sebuah api meluncur sangat cepat menuju tubuh Seto.


Beruntung Seto memiliki ilmu yang tidak bisa dipandang remeh, sehingga ketika mendapatkan serangan dari Haryo, Seto masih bisa menahannya.


Tetapi Seto dikejutkan bahwa ajian yang menjadi andalan Haryo selama ini, saat ini sudah mencapai tingkat tertinggi sehingga tubuh Seto kembali terpental dan muntah darah, meskipun Suro Menggolo sudah sempat melindunginya


"Ampuun Gusti.....ijinkan hamba menjelaskan apa yang sedang terjadi Gusti!!" ujar Seto sambil terbatuk-batuk mengeluarkan darah.


Haryo sebenarnya sudah mau membunuh Ki Seto tetapi mengingat betapa setianya Seto terhadap dirinya, membuatnya menghela nafas panjang.


"Cepat katakan apa alasanmu?!!" bentak Haryo.


"Begini Gusti, menurut penyelidikan hamba setelah melihat dari ingatan para pasukan siluman milik hamba, hamba melihat Gusti Putri melarikan diri dibantu seekor cheetah salju yang bernama Nyi Khandra.....pasukan hamba sudah berusaha sampai titik darah penghabisan melindungi Gusti Putri, tetapi seperti yang Paduka lihat mereka kalah" bohong Seto sambil tetap menundukkan kepalanya sampai menyentuh lantai.


"Nyi Khandra???? bukankan itu hanya mitos Ki??!! jangan berbohong kamu!!!" bentak Haryo marah.


"Lagipula Tara manusia modern, dimana tidak mempunyai cakra apapun dalam tubuhnya bagaimana seekor binatang pelindung mau mendatanginya" ujar Haryo lagi penuh aura intimidasi ke arah Seto.


"Silahkan Gusti melihat semua luka di pasukan hamba, hanya binatang penguasa cakra angin dengan tingkat tinggi yang bisa meninggalkan bekas luka seperti ini" terang Seto yang tertatih berusaha berdiri dan menunjukkan luka ditubuh para siluman yang mati.


Haryo dengan enggan mendekat dan melihat di semua tubuh para siluman yang dari luar terlihat tidak terluka tetapi saat tangan Haryo menyentuh tubuh para korban semua organ dalamnya hancur, sedangkan yang terpenggal kepalanya tampak bahwa luka tersebut bukan karena senjata tetapi serangan dari pemilik cakra angin.


Haryo segera mengerutkan dahinya kemudian berjalan menyusuri lorong istananya dan menemukan jejak kaki seekor binatang pelindung angin berilmu tinggi....yah sudah jelas hanya Cheetah salju Nyi Khandralah yang bisa meninggalkan jejak seperti ini, meskipun sangat sangat samar tapi Haryo yang memiliki mata bathin yang sangat tajam bisa melihatnya.


"Sialaaaan!!!! kalo Nyi Khandra turun maka Ki Bayu Wedara pasti juga ikutan turun!!" gumam Haryo sambil menggertakan giginya.


Kemudian Haryo mendapatkan firasat buruk, segera melesat keluar.

__ADS_1


"Untung saja Gusti Haryo percaya omonganmu Ki!!!....hentikan Ki sebelum kamu terlambat telah kehilangan Gusti Haryo yang sudah seperti anakmu itu" ujar Suro Menggolo yang merupakan monyet raksasa berwarna merah yang merupakan hewan pelindung dari Ki Seto.


"Diamlah Suro!!! tugasmu sekarang kerahkan pasukan monyetmu mencari Tara dan suaminya sebelum mereka menguasai cakra angin dan air seperti leluhurnya"


"Baiklah....kelak jangan menyalahkan aku, aku sudah memperingatimu, seperti saat kamu menggunakan ilmu terlarang ini" ujar Suro sambil menggeram marah lalu menghilang untuk melakukan tugas yang Seto berikan padanya.


Seto segera bersila untuk menyembuhkan dirinya sendiri sebelum kemudian dia menyusul Haryo.


Haryo menatap wajah ayu yang tampak tertidur lelap didalam peti kaca.


"Aku pikir mereka sudah mengambilmu Diajeng" ujar Haryo sambil menyentuh pipi Gusti Putri Gayatri dengan punggung tangannya.


"Gustiiii!!!!" pekik Ki Seto dari belakang tubuh Haryo.


Haryo tidak bergeming dan tetap duduk bersimpuh di samping peti.


"Gusti khorin dari Gusti Putri Gayatri telah hilang!!!! lihatlah!!" pekik Seto panik.


"Tidak masalah, kelak biarkan Tara yang akan menjadi istriku, buatlah jiwa dan khorin dari Tara mencintaiku dan patuh kepadaku" jawab Haryo enteng.


"Tugasmu sekarang cari Tara dan bawa kemari untuk ritual terakhir kita, dan .....bunuh suami Tara sebelum dia menguasai cakra air seperti Dimas Arya" ujar Haryo dengan wajah datar dan dengan suara tegas.


"Baik....Gusti, hamba laksanakan" jawab Seto lalu segera meninggalkan Haryo sendirian.


...Kita tinggalkan Ki Seto yang sedang mencari keberadaan Tara, menuju tempat pelatihan Tara....


Setelah makan, Tara segera berbaring di kamar yang sudah disediakan bersama Khorin dari Putri Gayatri.


"Tidurlah Tara....nanti malam kamu membutuhkan banyak tenaga untuk berlatih" ujar Khorin.


"Iya.....hoaaam" jawab Tara kemudian langsung tertidur.


Disaat Tara sedang tidur, Khorin Putri Gayatri menotok beberapa titik di tubuh Tara dan kemudian menyalurkan semua tenaga yang dia punya untuk membuka cakra angin dalam diri Tara.


Saat Cakra angin dalam tubuh Tara terbuka, keluarlah cahaya yang sangat terang dari dalam tubuh Tara.


Khorin tersebut tersenyum lebar tetapi kemudian tampak diwajahnya menjadi sedih kembali.


'Ya Allah....tolonglah kami saat ini, hilangkan takdir buruk yang berada di dalam tubuh anak ini" ujar Khorin lirih.

__ADS_1


Tara terbangun ketika jam yang melingkar manis di tangannya menunjukkan pukul empat sore.


Saat terbangun Tara merasakan tubuhnya merasa segar dan bugar.


"Woaaaaa.....rasanya nyenyak sekali tidurku, sampe badanku yang kemarin terasa sakit-sakit sekarang tidak terasa lagi" ucap monolog Tara kegirangan.


Tara mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kamarnya, tampak di depan jendela Khorin putri Gayatri sedang duduk bersemedi.


Merasa diperhatikan khorin Putri Gayatri segera membuka matanya, dengan tersenyum dia berkata


"Sudah bangun Tara?"


"Hehehe iya Putri.....maaf putri kenapa tubuh putri sekarang sangat transparan?" tanya Tara khawatir.


"Memang sudah seharusnya aku menghilang saat tubuh dan roh putri Gayatri meninggal dan kembali ke Allah Tara, tetapi Seto telah mengurungku beratus-ratus tahun di lukisan itu.....semua ilmu dan energiku sudah kuberikan padamu Tara"


"Sebelum waktuku tiba nanti, aku ingin mengajari cara menggunakan cakra angin dalam tubuhmu...... duduklah bersila Tara" perintah Khorin.


Tara terdiam dan segera duduk bersila, dimana Khorinpun duduk bersila didepan tubuh Tara, tangan kanan ditaruh diatas kepala Tara, sedangkan tangan kiri Khorin ditaruh di perut Tara.


"Tarik nafas seperti biasa 6 kali tarik nafas n hembuskan secara perlahan, kemudian tarik nafas panjang dan tahan saat aku perintah hembuskan nafas, baru kamu hembuskan"


Tara mengikuti semua perintah dari Khorin dengan sungguh-sungguh.


"Sudah kamu rasakan Tara, ada pusaran angin di perutmu, biarkan pusaran itu semakin memenuhi seluruh tubuhmu, ketika nanti kamu merasakan sangat dingin sampai menusuk tulangmu.....bertahanlah"


Dan benar sesuai perkataan Khorin, tubuh Tara langsung dilanda rasa sangat dingin sampai menusuk-nusuk di setiap persendian tulang Tara.


"Putrii....dingin sekali" ujar Tara dengan suara bergetar kedinginan.


"Taruh tanganmu ke lantai Tara, tarik nafas dalam-dalam dan fokuskan ke tanganmu untuk menarik udara panas dari dalam tanah"


Meskipun Tara kebingungan tetapi Tara menuruti semua perintah Khorin, tetapi sampai 3kali percobaan, Tara tidak mampu menarik udara panas dari dalam tabah, akibatnya bibir Tara mulai membiru dan kesadarannya mulai menghilang.


"Jangan menyerah, jangan sampai pingsan....sadaar Tara!!" pekik Khorin panik.


...***...


...TBC...

__ADS_1


...Apakah Tara akan baik-baik saja?๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ˜ฎ๐Ÿ˜ฎ...


Kita tunggu episode selanjutnya ya gaess๐Ÿ˜‰


__ADS_2