
Malam harinya ...
Di rumah megah Ale, pukul 22.00 ...
"Apakah aku harus pergi ke sana?" tanya Enza.
"Iya, kau harus menunjukkan kepadanya bahwa dirimu memiliki teman lama yang sangat tampan!" pinta sang suami.
"Hm, kenapa kau terlalu polos?"
"Aku tidak polos!"
"Bajumu sudah bagus, ayo kita pergi."
"Tuan!"
"Haha, ada apa?"
"Aku malas bertemu dengannya."
"Ayolah, aku sebagai teman lamamu, kau dan aku hanya sebatas itu di depan Juna. Kau juga telah setuju dengan apa yang sudah kita sepakati!"
Enza terlihat sangat malas karena bertemu dengan Juna, merupakan hal yang ingin ia hindari terlebih dahulu.
Mungkin benar, jika dia sangat ingin bersama dengan Juna, tapi bukan seperti ini caranya.
Masih ada beberapa hal yang ingin dia lakukan.
Akan tetapi, sang suami sudah memutuskan segalanya.
Alhasil, semuanya harus segera dilaksanakan.
Enza dengan terpaksa, mengikuti apapun yang dikatakan oleh Ale.
.
.
.
Di dalam mobil ...
__ADS_1
Setelah perdebatan yang cukup sengit, Ale dan sang istri, kini sudah berada di dalam mobil. Keduanya tak terlihat akur, karena sama-sama buang muka.
Sach yang tidak menyukai hal ini, segera mengatakan pendapatnya.
"Heh! apa tuan dan nyonya sedang sakit gigi? bukannya aku berpikiran buruk, tetapi kelakuan kalian seperti anak kecil saja," ucap Sach yang belum akan menyetir jika keduanya masih saja seperti musuh.
"Aku suka dengan pesta, istriku tidak. Ini cukup mengesalkan bukan?" sahut Ale.
Dia sebenarnya tidak terlalu mencemaskan pestanya tetapi sebuah masa depan ia lihat dari pertemuan Enza dan Juna.
Ale, ingin menunjukkan bahwa dia adalah pria yang layak untuk dicintai oleh seorang Enza, jadinya memang Ale harus memiliki spesifikasi yang sesuai dengan keinginan Enza.
Juna merupakan mantan Enza, alhasil dia sudah menemukan semua inti dari hubungan mereka.
Sang mafia, hanya ingin memberikan kejutan kepada orang yang sudah mencampakkan istrinya.
"Ya, apalagi mantan kekasih nyonya muda, sungguh tidak pantas untuk dicintai. Jadinya, berikan dia pelajaran saja tuan!" pinta Sach.
Dia sangat mendukung hubungan itu agar berjalan dengan lancar, hanya saja perasaan cinta yang belum dirasakan oleh Enza, menyulitkan keduanya untuk bersatu.
Visi dan misi keduanya belum menjadi satu, so pasti tidak akan bisa klop untuk sementara waktu.
Sang gadis yang berusaha tidak komentar, hanya diam dan terlihat masa bodoh, selama ini ia sangat ingin menjadi orang yang baik, tapi semuanya hancur ketika pengkhianatan itu.
Lama-lama Enza kesal dengan semua perasaan yang sangat tidak terkendali ini.
Dia malas untuk berdebat terlalu lama, Sach dan Ale menahan tawa.
Perlahan tapi pasti, mobil itu melaju dengan perlahan meninggalkan rumah megah milik sang bos mafia.
.
.
.
Sepanjang perjalanan menuju klub malam yang menjadi tempat Juna berulang tahun, Enza terdengar sedang bernyanyi, lagunya sangat menyayat hati.
Sach terus saja berkomentar, Ale menambah dengan sindiran.
"Apa masalahmu?" teriak Enza.
__ADS_1
Dia kesal dengan keributan ini.
Enza sedang pusing, tetapi semua orang sama sekali tidak membuat kondusif, justru menjadikan dirinya marah.
"Kenapa nyonya?" tanya Sach tanpa rasa bersalah.
"Tidak ada apa-apa. Aku harus bersemangat dalam menjalani kehidupan karena kau dan kau, adalah orang yang sanggup membuatku cepat tua dan ingin mengakhiri hidup!"
Kata-kata ini, membuat Ale tak bisa menahan diri untuk berkomentar dan menyindir Enza.
"Yakin ingin tiada sebelum bertemu dengannya?" ledek Ale.
Dia memahami sang istri, meski baru bertemu, jalinan cinta secara tulus, sudah ia rasakan.
Sehingga, semuanya begitu berjalan dengan apa adanya.
Cintanya kepada Enza sangat tulus, hanya saja ia harus terus berjuang.
.
.
.
Klub malam tempat ultah Juna ...
Setelah berdebat dan mengatakan hal yang tidak mungkin, mobil Ale telah berada di depan klub malam yang dimaksud.
Beberapa orang datang membawa kado, Ale juga membawa kado, sebuah kejutan yang sangat spektakuler.
"Turun," pinta Ale.
"Kau saja," jawab Enza.
Sang suami mendekat ke arah tubuh sang istri, Enza semakin terintimidasi dengan sentuhan yang coba diberikan oleh Ale.
"Kau mau apa?" cetus Enza dengan perasaan yang sudah tidak menentu.
"Masuk ke dalam, atau aku akan memasukkannya di sini!"
Enza langsung mendorong tubuh itu perlahan dan mengiyakan perkataan sang suami.
__ADS_1
Bisa tidak waras jika Ale akan menggempurnya di dalam mobil, malunya akan bekali lipat nanti.
*****