
Romer menatap wajah kakak iparnya, lalu mendapatkan tatapan balik.
"Kau pria yang dikatakan adik ipar?" tanya Enza dengan lantang.
Si adik angkat justru salah tingkah, dia begitu aneh.
"Iya, ehm ... kau istri Ale?" cetus Romer.
Wajahnya juga lebam, tetapi malu meminta bantuan untuk diobati.
"Istrimu cantik," ucap Romer.
"Kau ingin dia?" sahut Ale.
"Iya, tapi dia istrimu."
Romer tiba-tiba merasa bucin dengan kehadiran seorang Enza.
Mulutnya kelu, tak mampu mengatakan banyak hal.
"Kau sudah lupa dengan semua yang kau katakan? bukannya ingin merebutnya?"
Ale memancing sang adik untuk mengatakan hal yang sebelumnya, tetapi Romer memilih untuk berpamitan dan pergi dari sana.
"Lah, kenapa dia pergi."
Sang istri sama sekali tidak habis pikir dengan dua orang yang selalu bertengkar, meski baru tahu pertama kali, Enza sudah bisa menyimpulkan jika kedua orang itu sangat senang menghabiskan waktu untuk menyakiti satu sama lain.
"Dia suka denganmu, jadinya kabur ketika melihatmu. Kau tenang saja. Dia pasti akan kembali untuk menemui dan menganggu kau. Tenang saja ya?"
"Astaga, kau dan dia sama saja. Orang tidak beres."
"Kwkwkwk, obati aku saja. Aku sakit."
"Obati saja sendiri. Kau yang memulai."
Enza menatap wajah Ale, dia tak kuasa melihat luka lebam yang cukup mengenaskan.
Sang istri langsung turun tangan menangani semua urusan pengobatan sang suami.
.
__ADS_1
.
.
Beberapa menit berlalu ...
Luka telah diperban, semuanya sangat mudah.
Bulan madu kali ini, harus dilaksanakan dengan banyak momen, harusnya senang-senang, justru mendapatkan masalah yang tak terduga.
Ini di luar pemikiran keduanya.
"Suruh Sach beli makanan."
"Aku yang akan memasak, kau tunggu di sini."
"Kau bisa?"
"Tentu saja."
Saat sang istri beranjak untuk ke dapur, Sach masuk ke dalam.
"Bos, tuan Romer menitipkan pesan untukmu." Sach mendekat ke arah bos dan memberikan secarik kertas.
Sang anak buah menyodorkan kertas itu kepada bos tercinta.
"Aku malas baca, simpan saja untukmu."
"Tapi ini penting."
"Ya, nanti saja. Kau bantu istriku di dapur."
Sang mafia meminta Sach memasukkan kertas pesan itu di saku celananya, lalu Sach segera ke dapur untuk memasak.
.
.
.
Dapur ...
__ADS_1
"Kau bisa?"
"Tentu saja bisa."
Sach melihat aksi Enza cara memasak sebuah hidangan yang sangat lezat, kelihatannya seperti ingin membuat dimsum tetapi entah apa yang ingin ia lakukan.
"Kau sudah sudah bisa memasak sejak dulu?" tanya Sach.
"Iya, Aku belajar memasak setelah ayah dan ibuku tiada sehingga dalam kurun waktu beberapa tahun ini kemandirianku semakin terasah. Aku mengerjakan semuanya sendiri dibantu dengan beberapa orang yang menjadi teman tetapi rasa saudara seperti Farin."
Enza terlihat sangat cekatan dengan segala kemampuannya dan memasak meskipun dia selalu ceroboh tetapi memiliki keahlian lain yaitu mengolah bahan makanan menjadi hidangan yang sedap.
Sach merasa senang dengan apa yang dilihatnya karena selama ini bos Ale sama sekali belum menemukan seorang wanita yang sekiranya bisa memasak dan mengurus rumah tangga.
Sach akan mendukung penuh hubungan suami istri sang bos dan Enza.
Dalam beberapa menit masakan itu sudah terhidang dengan sempurna.
"Ini siomay?"
"Iya, ala Enza."
"Wah, kau mencampurkan banyak sayuran sehingga menjadi lebih sedap."
"Tentu, ini adalah resep sambal turun-temurun dari ibuku yang seorang Chinese. Dia memberikan resep ini dan aku harus melestarikannya di manapun berada."
"Kau seperti orang bule tetapi turunan Asia?"
"Ya, aku sangat paham dengan apa yang kau katakan tetapi darah ayahku terlalu mendominasi."
Enza meminta anak buah sang suami untuk meminta suaminya segera menuju dapur untuk makan, Enza malas jika harus menyiapkan makanan seperti pasangan
suami istri yang sok romantis.
"Haha, Aku tidak mau melakukannya karena itu adalah tugasmu!"
"Ehm, kenapa kau selalu membantah ketika aku menyuruhmu padahal aku adalah nyonya mafia!"
"Hahaha Ya ... ya, kau sudah senang jadi nyonya mafia?"
"Sedikit saja, aku merasa memiliki pengalaman baru yang lebih luar biasa dan menantang!"
__ADS_1
*****