Wanita Gila Tuan Ale

Wanita Gila Tuan Ale
Kedatangan Ale


__ADS_3

"Kenapa kau melamun?" tanya sang sahabat.


"Aku tidak melamun, tetapi sedang memikirkan bagaimana nasibku selanjutnya," cetus Farin.


"Memangnya kau sedang berpikir soal Novan? apakah dia akan datang dan melamar?"


Enza terlalu bersemangat, bahkan rasa sedih Farin, Enza melupakannya.


Hingga satu kesempatan, membuat Farin tertawa.


"Haha ... Kau adalah sahabat paling tidak peka di seluruh dunia. Kau paham dengan perkataanku, tetapi melupakan kesedihanku. Itu kau, jadi karena kau yang melakukannya, aku melupakannya."


"Yaelah, kenapa kau sangat baper dengan semua ini."


"Ya, ya terserah kau saja. Eh, nanti suamimu akan datang, kau harus pulang dengannya."


"Astaga, bahkan kau tahu jika aku akan menikah? ini berita buruk atau berita yang sangat bahagia."


"Bukan akan, kau sudah menikah. Bagaimana sih!"


"Aku menjadi tidak waras karena pria itu."


Sang gadis, menceritakan semua yang dialami olehnya.


Dari awal sampai akhir.


Farin mengambil kesimpulan jika Ale merupakan orang yang sangat bertanggung jawab.


"Dia jadi suamiku saja kali ya Enza," celetuk sang sahabat.


"Ambil saja sana. Aku tidak butuh. Dia itu terlalu sensitif. Aku ingin menjadikannya jalan terbaik kembali kepada Juna. Namun, Juna sudah keterlaluan."

__ADS_1


"Lebih baik bersama dengan tuan Ale saja."


"Kau tahu apa tentang dia?'


Belum sempat Farin menjawab, bunyi bell dari depan rumah, terdengar jelas.


Kakak Farin belum pulang, sang adik berpikiran jika itu adalah kakaknya.


"Aku mau buka pintu dulu."


"Oke, siap!"


Farin keluar dari kamarnya dan berjalan menuju pintu utama.


Sesampainya di depan pintu utama, Farin segera membuka pintu.


Namun, alangkah terkejutnya dia ketika mendapati orang yang menekan bel pintu adalah Ale.


"Tuan? Tuan mau menjemput Enza?"


"Iya, benar sekali."


"Aku akan memanggilkan istrimu dan bahwa dia pulang, aku sudah mengerti bahwa dirimu memang tulus terhadap sahabatku. Jaga dia."


"Kau tahu dari mana jika aku tulus?"


Farin tidak menggubris apapun yang dikatakan oleh sang mafia.


Pada intinya, Farin sudah lelah dengan semua hal yang terjadi di dalam kehidupannya ditambah lagi kehadiran seorang sahabat yang tak jauh dari kata penyesalan dan menyesal.


Beberapa menit kemudian, Farin membawa Enza serta baju ganti yang sudah dicuci olehnya.

__ADS_1


"Tuan Ale, kau segera lakukan yang seharusnya kau lakukan."


Tatapan mata Farin, membuat sang sahabat bertanya-tanya.


"Kenapa kau melihat pria jelek Ini dengan tatapannya serius?" ledek Enza.


Sang gadis memang tidak suka dengan suaminya sendiri karena terlalu percaya diri dan membanggakan kekayaan serta kekuatan yang dimiliki.


Enza terkekang dalam cinta yang tidak ada habisnya.


"Dia sama sekali tidak jika tetapi otakmu yang kurang beres, kau jadilah istri yang baik untuk suamimu dan sebaliknya. Pulanglah bersamanya," pinta Farin.


Farin mencoba untuk memberikan dukungan penuh terhadap hubungan orang yang selama ini tidak jelas, baru saja berkenalan dan menghabiskan waktu bersama langsung menikah, suatu hal yang langka tetapi sang suami justru memberikan cinta yang dalam terhadap istrinya.


Farin, tidak akan membiarkan sahabatnya mendapatkan kesulitan dalam kehidupan sehingga memberikan izin untuk tuan Ale, merawat dan menjaga seorang Enza.


Enza merupakan orang yang sama sekali malas mengartikan dan memahami apa yang terjadi di dalam kehidupannya.


Sehingga membutuhkan Farin dalam menjalani kehidupan yang sangat keras ini.


Ale memahami apapun yang dikatakan oleh sahabat dari istrinya itu dan berjanji akan menjaga dengan sebaik-baiknya.


"Aku, paling tidak mengerti obrolan orang-orang yang serius. Jika kau ingin menjemputku, segera pulang saja karena aku masih lelah. Aku juga sangat lapar karena sahabatku sama sekali tidak memberikan aku makan," ledek Enza.


"Aku memang sengaja tidak memberikannya karena kau banyak makan."


Farin mengusap pundak sahabatnya, dari sini, terlihat sangat jelas jika Farin begitu mengkhawatirkan Enza.


"Kami pulang dulu, jika ada hal yang bisa aku bantu, aku akan membantumu katakan saja!"


"Hah? kau ingin membantu temanku? kau pasti sedang melakukan tindakan yang akan membuatku terkesan?"

__ADS_1


Enza tidak pernah merasa malu mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya karena dia masih sangat kekanak-kanakan.


*****


__ADS_2