Wanita Gila Tuan Ale

Wanita Gila Tuan Ale
Setelah itu ...


__ADS_3

Pernikahan telah usai, pendeta juga sudah pulang.


Kini giliran suami Enza berbicara.


"Aku sudah menjadi suamimu. Kini giliran aku melakukan tugasku," ucap Ale.


Dia merangkul pundak sang istri dan berbisik hal yang membuat sang gadis tidak mau melakukannya.


"Kau mau aku sekolah lagi? aku tidak menyukai dunia pendidikan," jawab sang gadis yang tetap berada di dalam keputusannya.


Sang suami memberikan iming-iming berupa mobil baru dan kartu kredit limited edition.


Namun, sang gadis masih berpikir untuk menempuh pendidikan kembali setelah sekian lama ia meninggalkan dunia itu.


"Hm, aku tidak butuh semua hartamu, jika boleh memilih aku ingin tetap bebas seperti dahulu!" imbuh Enza.


Dia mengatakan semua itu dengan laut yang sangat sedih karena pendidikan bukanlah jangkauan, tetapi sang suami memberikan pengertian yang cukup luas mengenai sebuah jabatan yang tinggi untuk menjatuhkan orang lain yang pernah jahat kepadanya.


"Kau akan mendapatkan kekuasaan setelah menempuh pendidikan, kau bisa menggantikan aku mengurus beberapa perusahaan. Aku sudah terlalu sibuk dengan urusan perkelahian, sebagai seorang Istri kau harus memahami tugasku juga."


"Iya, aku paham. Namun, akan lebih baik jika semua uangmu disumbangkan saja ke panti sosial. Aku hanya ingin ketenangan setelah menjadi istrimu."


"Jika kau ingin tenang berarti balas dendam?"


"Astaga! aku sampai melupakan hal itu!"

__ADS_1


Raut wajah sang gadis terlihat sangat lucu, membuat Ale gemas.


Dia melepaskan rangkulannya, lalu memindahkan tangannya di pinggang sang istri.


Keduanya saling bertatapan.


"Aku tidak pernah merasa menjadi orang lain ketika bersamamu, aku akan terus mengingat apapun yang kau katakan. Jadi, lebih baik kita berbulan madu saja, lalu mengurus semua pendidikanmu!"


"Astaga! kenapa harus ada honeymoon?"


"Kau adalah istriku dan kita sudah menikah, kenapa tidak boleh merencanakannya?"


"Bukan begitu maksudnya, aku masih belum menerimamu, tolong bantu aku untuk balas dendam dulu!"


"Kau membuatku ingin melahapmu tetapi aku masih bisa bersabar, jika sama-sama suka jujur lebih baik daripada tidak sama sekali!"


Ale melepaskan pelukan romantis itu dan meminta istrinya untuk pulang ke rumah, beberapa anak buah yang standby di di dalam gereja, pura-pura tidak melihat kejadian sangat unik dari bosnya.


Mereka merasa bos mafia itu telah menemukan cinta sejati dan tidak akan pernah berpaling lain hati.


Cinta yang tulus, menghasilkan kasih sayang yang tulus juga.


Itu sekiranya hal yang dirasakan oleh anak buah Ale.


"Antar dia kerumahnya, ini kunci rumahnya!"

__ADS_1


Ale melemparkan kucing kepada salah satu anak buah dalam memintanya mengantar sang istri menuju rumah baru mereka, karena Ale masih ingin mencari tahu mengenai mantan kekasih Enza, memangnya sosok itu seperti apa? apakah lebih baik darinya?.


Enza semakin tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.


Ale meninggalkannya di dalam gereja bersama anak buah yang patuh.


"Nyonya, ayo kita pergi dari sini," pinta sang anak buah."


"Aku masih ingin di sini dan berdoa kepada Tuhan."


"Nyonya, tidak ada yang bisa kau lakukan selain menerima apapun yang dikatakan oleh suamimu. Dia merupakan wujud lain dari Tuhan, kau akan beruntung bersamanya. Aku berani menjaminnya!"


Sang anak buah yang patuh, sudah sangat lama ikut dengan Ale. Jadi, sangat paham mengenai sifat sang bos.


"Aku tidak pernah mempercayai siapapun, apapun perkataanmu ataupun bosmu!"


Sang gadis, terlihat melangkahkan kaki menuju keluar gereja.


"Nyonya muda? kau mau pergi ke mana?"


"Aku akan pulang ke rumahku yang seharusnya, bukankah sekarang diriku menjadi nyonya Ale?"


Sang gadis, tidak ingin memusingkan apapun yang terjadi kepadanya, sehingga lebih baik menerima tanpa perlu banyak mengeluh.


*****

__ADS_1


__ADS_2