Wanita Gila Tuan Ale

Wanita Gila Tuan Ale
Belum usai


__ADS_3

Ale membaca semua dokumen yang ada di hadapannya, Ale tidak habis pikir dengan semua yang ada di hadapannya.


Semua wilayah adalah milik dari musuh, ini tidak benar.


Dia akan melakukan hal yang lebih rumit lagi dari hari ini, seperti kegiatan yang lebih bermanfaat.


Berkelahi, untuk berikan semangat otot tubuhnya yang lama tidak digunakan pasca kemenangannya beberapa bulan lalu.


"Jika kesepakatan seperti ini, siapapun juga tidak mau melakukannya. Kau sangat licik dengan semua rasa tidak puasmu. Kau mungkin menjadi orang tidak tahu diri. Namun pikirkan semua pasukanmu, aku bisa menjadikan semuanya hancur berkeping-keping dalam sekejap mata."


"Kau memang tidak tahu diri!"


Pasukan yang berjumlah dua puluh orang, begitu saja menyerang dengan tidak terkendali.


Meski tubuhnya masih ada luka, tidak membuatnya kalah begitu saja, justru dia semakin luar biasa dan menjadi bintang di pertarungan kali ini.


"Kau masih kuat Ale," seru sang musuh.


"Aku tidak kuat, hanya saja bertahan. Pukulan kalian sama saja seperti samsak isi kapuk, tidak ada tekanan sama sekali."


Pertarungan makin sengit dengan semuanya, tidak bisa semudah itu mendapatkan kemenangan jika melawan Ale.


Semua musuh paham itu, tetapi semuanya cari penyakit.


.


.


.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, kesepakatan terjadi, pihak musuh harus mengalah jika wilayahnya di bagi sama rata.


"Tidak butuh dua hari untuk menyelesaikan semua urusan tidak penting ini. Kalian harus memahami jika aku adalah Ale, aku sudah menjadi singa di hutan selama 15 tahun. Jika ingin melawanku, harus pakai strategi yang bagus, kalian paham?"


Semua musuh yang berhasil di lumpuhkan, tidak mau menyerah begitu saja.


Mereka akan datang untuk balas dendam.


"Bos, semuanya selesai dengan cepat. Kita kemana setelah ini?" tanya sang sopir.


"Aku ingin melihat markasku, katanya Juna kabur. Aku ingin tahu siapa yang sangat berani berkhianat kepadaku."


"Bos, kau tahu darimana kaburnya Juna?"


"Aku tahu dari anak buahku, aku sedang malas mencari pelakunya, rasanya terlalu cepat mengurus pria tidak tahu diri itu. Pada intinya aku sangat ingin bersama Enza, tidak yang lain."


"Aku paham, dari tadi kau gemetaran, aku sedang baik, tidak akan membuatmu terluka."


"Terima kasih bos."


Dua orang itu masuk ke dalam mobil untuk on the way ke markas.


.


.


.


Sepanjang berjalanan menuju markas, sang mafia tidak tahu jika kepalanya berdarah, dia tidak merasakan apapun.

__ADS_1


"Tuan kau kenapa?"


"Kepalaku berdarah, kau ada perban?'


"Ada tuan. Aku akan membantumu."


"Berikan obat dan perban yang kau miliki, aku akan mengobatinya sendiri."


"Baik tuan."


Sang sopir merasa bangga dengan sosok Ale, pria yang selama ini membuatnya menjadi lebih menghargai sang bos sebagai atasannya.


Ale hanya akan tegas kepada orang-orang yang sekiranya membahayakan.


Sang bos, selalu berada di jalur yang pantas.


Dia dan Romer sangat berbeda di bagian ini.


"Tuan Romer, dia ingin bergabung lagi tuan? aku dengar adik tuan datang ke villa."


"Dia hanya akan membuat runyam rumah tanggaku, aku siap untuk bertarung jika itu tentang Enza."


"Tuan, jangan lakukan itu, geng semakin buruk jika bos selalu mengedepankan wanita."


"Aku tahu apa yang terbaik untukku. Jadi kau tidak perlu merasa cemas. Kau paham 'kan?"


Sang bos, berusaha keras untuk memberikan informasi terpenting, bahwa Enza adalah istri, bukan halangan mendapatkan kemenangan.


*****

__ADS_1


__ADS_2