Wanita Gila Tuan Ale

Wanita Gila Tuan Ale
Malam yang ditunggu


__ADS_3

Setelah kejadian yang sangat tidak terduga, Farin membawa sang sahabat pergi dari tempat itu.


Rasanya sangat sedih, ketika tahu, betapa jahatnya Juna terhadap Enza.


Sang sahabat, membawa Enza masuk ke dalam mobilnya, lalu segera menuju rumah milik Farin.


"Aku tidak pernah menyangka jika Juna akan berlaku tidak benar. Aku tahu dia pria tidak tahu diri, tapi setidaknya harus berpikir seribu kali untuk menyakiti sahabat serta teman kecilnya. Enza dan Juna, sejak dulu sudah bersama. Kenapa takdir Enza begitu buruk?"


Dia menangis untuk sang sahabat, rasanya hatinya tersayat sembilu, tak ada darah, hanya saja terasa perih.


"Juna, kenapa kau tega mengkhianati kepercayaanku! kenapa!" teriak Enza dengan penuh kekesalan.


Dia tidak akan mengampuni Juna, sang sahabat segera mempercepat kendaraannya, agar bisa segera mungkin menolong Enza yang sedang mabuk itu.


.


.


.


Rumah Farin ...


Sesampainya di rumah Farin, dia segera membawa tubuh sang sahabat, masuk ke dalam rumah, dia memang memiliki keluarga, tetapi dua hari ini, keluarganya sedang ada di luar kota untuk liburan.


Farin dan sang kakak, Veyron, tidak mau ikut.


Tugas kuliah banyak sekali yang terbengkalai, apalagi harus membagi waktu dengan pekerjaan.


Dia susah lelah dengan drama Juna dan Enza, ingin rasanya segera usai.


Kini tubuh Enza sudah berada di ranjang milik Farin.


Ia melakukan beberapa tindakan, seperti mengganti pakaian Enza dan menjaganya.


Farin merasa cemas dengan keadaan sang sahabat yang selama ini tidak mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


Saat Farin ingin merebahkan tubuhnya di samping sang sahabat, ponsel milik Enza berdering.


Ia segera mengambil ponsel itu dan menjawab panggilannya.


"Halo, tuan Ale?" tanya Farin.


Dia tahu nama itu karena nomor telepon yang di simpan oleh Enza di ponselnya bernama tuan Ale.


"Kau tahu siapa aku? dimana istriku?" jawab sang pria.


"Apakah yang dikatakan Enza benar adanya? kau adalah suami sahabatku?" ucap Farin.


Dia terlihat sangat terkejut dengan pengakuan Ale.


"Iya, aku memang sudah menikah dengannya. Kau adalah orang pertama yang tahu masalah ini. Kau siapa?"


"Aku sahabat dari Enza. Aku memahami deritanya, tetapi kau menjadikannya istri? sungguh menyedihkannya kau tuan Ale."


"Kenapa kau marah-marah?"


"Jaga dia untukku, besok pagi aku akan datang ke rumahmu."


Panggilan telepon mati.


Sang gadis segera menghubungi Ale kembali, tetapi tidak ada jawaban.


"Dasar! pria tidak tahu diri. Dia sudah menyakiti hati sahabatku. Lalu meninggalkannya sendiri. Awa saja, besok akan aku habisi dia!"


Farin memutuskan untuk tidur, dia lelah dengan semua drama yang ada.


.


.


.

__ADS_1


Malam hari di markas The Devil ...


Ale membiarkan mantan kekasih istrinya duduk di kursi.


Tangan dan kakinya sudah terikat dengan kuat.


Namun, mulutnya, sama sekali tidak di tutup.


Alhasil, baru saja terbangun dari pingsan, Juna langsung mengumpat.


"Siapa kau sebenarnya? kenapa kau menyiksaku dengan sangat kejam?"


"Aku tidak suka basa-basi. Pada intinya, aku adalah bagian terbaik dari Enza. Kau akan mendapatkan balasannya karena telah berbuat tidak baik kepadanya."


"Memangnya kau ini siapa? Enza adalah yatim piatu. Aku sudah bersamanya sejak beberapa tahun yang lalu."


"Aku suaminya."


"Dia tidak seperti yang aku bayangkan, ternyata seorang gadis polos, bisa mendapatkan orang sepertimu."


Plak!


Tamparan keras, sangat menyakiti pipi kanan Juna.


Dia meludah, rasanya sangat kesal sebab tamparan itu, membuat Juna harus mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Kau hanya pria cemen. Kau mengeroyokku."


"Kau telah membuat kesalahan karena memberikan ludah mu keluar dari mulut kurang ajarmu itu!"


Hampir saja sang pria ingin menghabisi Juna, tetapi ia masih penasaran dengan kehidupan Enza di masa lalu.


Ale bisa memanfaatkan pengetahuan itu untuk membuat sang gadis lebih cinta padanya.


"Cih, dia pingsan lagi," ucap Ale dengan senyum penuh kemenangan.

__ADS_1


*****


__ADS_2