
Ruang tamu ...
Sang mafia dan adik angkat, terlihat saling bertatap.
Sedangkan Sach, membawa nampan berisi jus jeruk segar.
"Minum dulu bos, tuan Romer," ucap Sach.
Dia meletakkan minuman itu di atas meja.
Setelahnya pergi.
"Katakan apa yang kau inginkan?" tanya Ale.
Dia memberikan pertanyaan dengan nada suara yang sangat manis, mencoba menghentikan semua kekhawatiran yang ada.
"Kak, aku tidak pernah basa-basi ketika bertemu denganmu bahkan sampai di tempat ini setelah dua tahun lamanya aku pindah rumah."
"Ya, aku paham. Lalu?"
"Izinkan aku tinggal di villa ini lagi untuk beberapa waktu karena ada tugas penting."
"Ada apa?"
"Aku sedang mengamati seorang mata-mata musuh yang ingin sekali menghancurkan gengku."
"Oh, lalu kenapa harus villa ini?"
"Berikan hakku, daripada aku ambil istrimu!"
"Jangan lancang!"
__ADS_1
"Hahaha, aku tidak ingin mengabulkan apa yang kau katakan karena selama ini kau selalu menipuku!"
"Oke, aku akan membawa istrimu!"
"Apa maumu?"
"Kebahagiaanmu, selalu mendapatkan perhatian dari banyak wanita kecuali aku. Aku dibenci oleh mereka karena sikapku yang dianggap arogan! dari banyak wanita yang aku sukai mereka selalu memihak kepadamu dan aku sangat membencinya!"
"Hey bung, beberapa waktu lalu ada seorang gadis yang ingin aku jodohkan kepadamu. Namun, kau ada tugas dinas keluar negeri. Kak Lord, mengatakan bahwa kau sedang sakit. Tugas dinas hanya alasan yang tidak berguna."
"Tutup mulutmu Ale! aku tidak butuh rasa kasihan darimu karena selama ini aku hidup sendiri tanpa bantuanmu!"
"Oh ya?"
Perdebatan dia sangat sulit terjadi begitu cepatnya, Sach langsung melakukan tindakan yang lebih utama yaitu menyelamatkan istri yang bos.
Dia berjalan dengan mengendap-endap menuju kamar Ale dan Enza.
"Nona, ini aku Sach. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu!"
Suara Sach terlalu pelan, Enza tidak mendengar sama sekali sehingga dia harus mengirimkan pesan kepada majikannya.
Kamar mewah villa itu ...
Enza terlihat sangat malas untuk melakukan banyak kegiatan selain berada di kamarnya, bahkan bermain game seperti sebelumnya juga malas.
"Ada pesan?"
Enza segera melihat pesan masuk, setelah membaca isi pesannya, dia segera meminta Sach untuk membuka pintu dan bicara dengannya.
"Nyonya, kita harus pergi dari sini sebelum ada pertarungan."
__ADS_1
"Ada apa Sach?"
"Ada Romer, dia adalah adik dari bos, Romer tidak menyukai apapun yang berhubungan dengan bos Ale. Dia pasti akan membuat masalah setelah ini dan menjadi korban. Ikuti aku kabur lewat pintu belakang."
"Oke, aku akan melakukan apapun yang kau katakan harus selama ini kau selalu baik kepadaku!"
Sach dan sang nyonya muda, perlahan keluar dari kamar itu dan berjalan menuju pintu belakang.
Untung saja, pasukan dari Romer tidak mengepung villa itu, sehingga keduanya bisa keluar dengan selamat.
Enza dan Sach berjaga-jaga di belakang rumah.
"Kapan kita akan pergi dari sini?" tanya Enza.
"Beberapa menit lagi, sebelum bos selesai mengurus tuan Romer. Dia pria berbahaya, bisa saja Romer menjadi ancaman, bisa juga sebagai pelindung. Semua kemungkinan, akan terlihat jelas jika bos sudah memberikan kesempatan kita mendengarkan informasi paling valid dari Romer, contohnya, tujuan Romer datang."
Sach menjelaskan semuanya dengan sangat gamblang, tetapi nyatanya tak ada hal yang bisa dilakukan.
"Sach, aku paham jika kau adalah orang pandai seperti bosmu. Aku manusia dari golongan biasa saja, jadi untuk memikirkan semua ini, sangat tidak bisa aku lakukan."
"Nona, kau yang terbaik. Nanti aku ajarkan cara menjadi cerdas."
Sach melirik ke arah nyonya bos, Enza membalasnya dengan tatapan sinis.
"Kau sedang menghinaku ya?"
"Haha ... tidak ada seperti itu, Yang ada hanyalah rasa kesal menjadi satu karena tak ada kesempatan untukku pergi jauh dari Ale. Dia sudah mengatakan omong kosong kepada sahabatku yang meyakini keberadaannya menjadi satu hal yang tak mengagumkan bagiku. Kau paham dengan apa yang aku katakan?"
"Iya, paham."
Keduanya saling memahami, bahwa tak ada yang memilih menjadi bagian dari para mafia kejam.
__ADS_1
Sach maupun Enza.
*****