Wanita Gila Tuan Ale

Wanita Gila Tuan Ale
Menjemput Istriku


__ADS_3

Sang pria, terlihat menghentikan semua penyiksaan terhadap Juna, dia menganggap apapun yang dikatakan oleh mantan kekasih istrinya hanya omong kosong semata, namun semakin lama diajak bicara ternyata menyebalkan juga.


Sehingga, Ale, segera melakukan tindakan yang lebih tepat yaitu menghantam wajah Juna dengan satu tindakan yang nyata.


"Bos, apakah kita buang saja?"


"Apanya yang ingin kau buang?"


"Tidak, aku ingin memanfaatkan dia sebagai sumber informasiku jadi kau jaga saja dia, aku ingin tidur karena sangat lelah!"


Ale keluar dari ruangan eksekusi lalu berjalan menuju kamar tidurnya yang berada di tempat yang sudah disediakan.


"Baik bos!"


.


.


.


Kamar khusus sang bos ...


Sang bos, langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Di bawah air shower yang mengalir deras, Ale memejamkan matanya, ia hanya melihat Enza di sana.


"Apa aku benar-benar mencintainya? atau hanya sekadar jatuh hati dengan keindahan tubuhnya?"


Ale menghayati apapun yang dirasakan oleh hatinya sehingga mampu mendapatkan ketenangan yang sempurna.


Dia melebur dalam air yang gemericik di atas kepalanya, rasanya sangat segar.


Apalagi isi kepalanya hanya ada Enza.


Beberapa menit kemudian, sang pria telah usai melakukan sesi mandi.

__ADS_1


.


.


.


Hanya butuh lima menit untuk sang mafia mengganti pakaiannya, meskipun hanya celana pendek tanpa helai benang di badannya.


Semuanya terlihat sangat jelas, sang mafia begitu gagah dengan kotak-kotak indah di perutnya.


Ia merebahkan tubuh diatas ranjang, Ale berharap jika setelah ini, bisa bertemu dengan istri tercinta.


Meskipun, nantinya sambutan yang diberikan tidak sesuai dengan harapannya.


Dia tetap merasa senang dengan apapun yang dilakukan oleh sang istri sebab memahami kesakitan karena ditinggalkan oleh orang yang sangat disayang.


Ini saatnya Enza mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan hanya rasa sakit serta tidak memiliki kehangatan keluarga.


Pelan tapi pasti, mata sang mafia, telah terpejam.


.


.


.


Pagi hari ...


Pukul 08.00 ...


Suara alarm membuat Ale harus membuka matanya padahal masih ingin merasakan betapa nyamannya tidur tanpa harus banyak meminum obat.


Ale mengalami gangguan tidur dan membutuhkan obat tidur untuk menjadikannya bisa terlelap di malam hari.


"Hoam!"

__ADS_1


Ale menguap saja terlihat begitu tampan apalagi sambil membuka matanya, Ale juara sekali membuat para gadis mengejarnya dengan sekali kedipan mata.


Belum juga semua nyawa terkumpul, tiba-tiba saja panggilan telepon dari gadis yang tidak pernah berhenti mengejarnya membuatnya pening karena suara ponsel yang berdering sangatlah menyebalkan.


Dia terpaksa mematikan ponsel itu untuk beberapa waktu, tapi apa yang direncanakan sama sekali tidak terealisasi.


Ale harus mencari keberadaan istrinya hari ini juga, lewat bantuan sang anak buah, Ale bisa menemukan dengan cepat lokasi di mana sang istri menginap.


Dia segera mengganti pakaiannya dan on the way ke tempat sang istri berada.


Ale tidak akan pernah menunda untuk bertemu dengan istrinya yang sangat dicintai meskipun sebagai istri belum pernah mengatakan sayang kepadanya.


Ale dan Enza, satu paket lengkap sebagai pasangan yang tidak memiliki kecocokan sama sekali tetapi dipaksakan oleh keadaan dan cinta membara seorang bos mafia.


.


.


.


Rumah Farin ...


"Kau baik-baik saja kan?" tanya Farin.


Sang gadis sedang merawat sahabatnya agar bisa sembuh dan meninggalkan rumahnya, dia tidak mau seorang istri justru tak bersama suaminya.


"Iya, aku sangat baik-baik saja dan memintamu untuk menampung ku di tempat ini!"


"Ha? apakah kau bercanda? aku dan kakakku tidak memiliki apapun selain rumah ini, kau adalah sahabatku tetapi pada akhirnya kita harus berpisah karena kau sudah berumah tangga."


Farin mengatakan hal yang sebenarnya, dia juga memahami hati sang sahabat, tidak mudah baginya untuk move on, tetapi saat ada kesempatan menjalin kehidupan baru, pastinya Farin tetap mendorong Enza untuk menjalani hidup rumah tangga seperti pada umumnya.


Bukan seperti sang sahabat yang pergi dan berjanji akan pulang untuk menikahinya tetapi belum ada keputusan.


Dia menjadi sangat tidak karuan pikiran.

__ADS_1


*****


__ADS_2