
Sang istri mengatakan bahwa dia ingin masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, dia merasa sangat lelah tetapi tidak diperbolehkan untuk tidur terlalu lama di rumah Farin.
Saat Enza tidak berada di tempat itu, Ale berkomunikasi dengan Farin.
"Aku ingin mendapatkan banyak informasi mengenai sahabatmu itu, terimalah uang ini dan kunci mobil. Aku akan memberikan fasilitas lengkap untukmu dan beberapa uang, aku sangat berterima kasih karena ada orang yang peduli terhadap istriku," ucap Ale.
"Ya sama-sama. Kau tidak perlu melakukan hal yang berlebihan karena selama ini, aku dan istrimu sudah seperti anggota keluarga. Dia mungkin lebih tua dariku tetapi aku yang lebih dewasa. Dia kehilangan kedua orang tuanya dan harus menjadi yatim piatu sehingga kasih sayang kedua orang tuanya, Enza belum merasakannya dengan utuh."
Farin memberikan penjelasan secara singkat dan meminta Ale untuk segera pulang.
Ale memberikan kunci mobil dan kartu nama tetapi ditolak mentah-mentah oleh sahabat sang istri.
Sang mafia, percaya kepada Rafin, jika wanita yang mengaku sebagai sahabat istrinya, pasti mengatakan hal yang jujur.
Semau itu, terlihat jelas dari raut wajahnya yang jarang tersenyum meskipun itu lucu.
"Sekali lagi, aku mengatakan hal yang sungguh-sungguh yaitu berterima kasih kepada sikap baikmu yang mau menjaga istriku."
"Ya, aku tidak mempermasalahkan. Kalau begitu, aku pamit dulu."
"Ya, hati-hati di jalan."
"Oke."
Sang mafia, pergi dari rumah Farin, ya sudah berjanji kepada sahabat istrinya untuk menjaga sang istri dari segala marabahaya yang akan menghancurkan kehidupan Enza.
.
.
.
__ADS_1
Di dalam mobil ...
Sang mafia, masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang, di sampingnya ada sang istrinya dia langsung menatap mata Enza.
"Kau sudah membuatku menunggu terlalu lama dan membuatku tidur sendirian tadi malam," cetus Ale.
Sang mafia sangat tersiksa dengan apa yang dirasakan olehnya, ekspektasinya ketika menikah dengan gadis yang ia cintai, dia ingin memiliki banyak anak sehingga keturunannya semakin banyak dan beranak-pinak.
Namun, pada kenyataannya tidak seperti itu.
Enza, bukan istri idaman seperti yang ia sangka.
Sang istri, orang yang akan selalu merepotkannya dengan segala tingkah kekanak-kanakan.
Cup!
Sang mafia, dan melakukannya di dalam mobil dan tak bisa dihindari lagi bahkan Sach harus keluar dari mobil itu tetapi istrinya meminta pengampunan.
Pertautan itu, segera usai.
Sang pria yang selama ini selalu melindungi istrinya meskipun sang istri tidak pernah ingin meminta bantuan sekalipun.
"Maaf, bukan salahku untuk menghentikan semua tingkahmu, tetapi perasaanku tidak enak. Maaf, jika aku melukai perasaanmu."
Enza, sangat canggung dan merasa bersalah meskipun sudah menjadi istri.
Ale tersenyum, ia menghentikan semua sikap tidak warasnya.
"Sach, masuk," pinta sang bos.
Dia sengaja membuka jendela mobil dan berteriak kepada Sach yang selalu gerak cepat.
__ADS_1
"Baik bos."
Tidak menunggu lama, Sach masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
Sach tancap gas menuju rumah sang mafia.
Akan tetapi Ale meminta Sach untuk mengganti tujuan.
"Ke tempat dimana aku dan istri akan berbulan madu."
"Oke bos."
Sang suami sepertinya memiliki rencana yang berbeda ketika perjalanannya harus dibelokkan ke arah yang lain.
Enza tak memahami apapun dan dia hanya menuruti apapun yang dikatakan oleh suami.
.
.
.
Sepanjang perjalanan menuju tempat yang dituju, Enza tidur dengan sangat nyenyak karena begitu mengantuk.
Sang mafia, mengatakan kepada Sach bahwa dirinya ingin menemui bos Romer.
"Kau dan Romer sama sekali tidak cocok! jangan pernah berhubungan dengan yang lagi karena pada intinya dia hanya ingin harta. Tuan, aku memahami kau sedang dalam kesulitan karena beberapa hari ini bisnismu ada yang bangkrut, tetapi semua itu harus kita selidiki jangan semata-mata menyimpulkan sendiri."
"Bisnis bangkrut aku tidak memikirkannya, tapi yang paling aku pikirkan adalah Romer. Dia paling tidak suka melihatku bahagia bersama wanita yang aku cintai."
Kekhawatiran Ale cukup beralasan sebab Romer akan selalu merebut apapun yang Ale miliki.
__ADS_1
*****