
Beberapa menit kemudian, Enza dan suami sudah selesai sarapan.
Kini saatnya jalan-jalan.
Enza dan Ale, terlihat berjalan keluar dari rumah mewah Ale menuju garasi mobil.
Ale mengeluarkan mobil sport keluaran terbaru.
"Aku akan mengendarai mobil ini," pinta Ale.
"Tentu saja, aku tidak keberatan dengan permintaanmu," jawab istri tercinta.
Perlahan, mobil itu keluar dari garasi, Ale masuk ke dalam mobil dan duduk di jok kemudi, sedangkan sang istri berada di sampingnya.
Sang suami tancap gas menuju tempat dimana keduanya bisa menikmati momen berdua bersama.
Sebelum semua ini terjadi, Enza selalu berdoa untuk lepas dari suaminya, namun pada akhirnya, semuanya menguap begitu saja.
Di dalam mobil ...
"Sayang, aku tidak suka dengan semua ini, kau terlalu berlebihan," ucap Enza.
"Berlebihan bagaimana? ini mobil terbaik yang pernah aku beli."
Sang suami menahan tawa karena Enza seperti tidak setuju dengan semua keputusan dari Ale.
"Ya, aku tahu dan aku memahami jika kau akan tetap mengikuti semua keinginanmu tanpa melibatkan aku di dalamnya, jadi aku merasa tidak ada tempat untuk menjadi istrimu."
Enza marah, sang suami paham.
__ADS_1
"Untuk kali ini saja, berikan aku kesempatan, aku ingin bersama dengan mobil terbaikku sebelum bertarung, kau tahu aku sudah memiliki banyak pasukan setelah Romer tiada. Dia terlalu berani untuk semua kebahagiaan ini. Semuanya sangat tidak aku sukai. Jadi, mobil ini cerminan kebahagiaanku. Kau paham tidak?"
"Iya, aku paham."
Ale masih tidak paham dengan cara berpikir dari Enza, semua uangnya sudah ia simpan, hanya saja mengeluarkan uang untuk satu mobil saja.
Enza sudah terlalu posesif, cintanya amat besar kepada Ale.
Enza diam saja.
Sang suami segera merayu.
"Kau senang?"
"Tidak, mobil ini terlalu mahal. Kau harus berhemat."
"Aku sudah berhemat, kau saja yang tidak tahu."
"Oh, begitu kah?"
"Hooh, aku sangat bahagia dengan ini semua. Kau tidak pernah menganggap aku ada, tetapi berbeda dengan sebelumnya, terasa sangat nyata dan romantis."
Perdebatan antara suami istri sering sekali terjadi, bahkan dalam situasi yang tidak terduga seperti ini, masalahnya juga sepele.
Ale semakin senang saat istrinya mengomel.
Apa yang di katakan Sach memang benar adanya.
Semuanya begitu menyenangkan, tidak ada sesuatu keanehan, hanya saja Enza lelah untuk berbicara. Dia diam untuk beberapa waktu.
__ADS_1
"Kau diam saja, kenapa?"
"Hm."
Sang suami semakin gemas dan menurunkan sang istri di sebuah padang yang luas.
"Turunlah, aku ingin berbicara denganmu."
"Tidak."
"Turun saja, aku merasa semua ini akan baik-baik saja."
"Hm."
Pada akhirnya, kedua orang itu sepakat untuk turun bersama dan membahas hal yang lebih detail.
Keduanya berdiri menatap padang luas dan hijau, Ale menjelaskan rasa cintanya yang sangat besar untuk Enza.
"Kau lihat padang yang sangat luas ini?"
"Iya, aku lihat, memangnya kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa, aku selalu senang dengan semua kebahagiaan, semua rasa cinta. Jadi, tidak terlalu riskan jika aku mempertanyakan cinta kepadamu kan?"
Sang istri menatap ke arah suaminya.
"Apa maksudmu?"
"Cintaku seluas dunia, tapi kau lebih memilih satu titik, perdebatan yang sering kita lakukan, merupakan hal biasa dalam hidup berumah tangga. Namun, pada akhirnya, kau harus menyadari, cintaku begitu besar kepadamu dan anak kita."
__ADS_1
*****