
Sesampainya di markas ...
"Bos! maafkan kami!"
Semua anak buah seperti menunggu kehadiran sang bos karena tidak jujur karena Juna sudah kabur.
Sang bos turun dari mobil, dia meminta semua anak buah untuk tidak terlalu memikirkan hal itu.
Semuanya sudah ia pikirkan.
"Aku ingin memeriksa ruang peradilan. Siapa tahu ada hal yang bisa aku dapatkan dari semua itu."
"Oke bos, siap!"
.
.
.
Ruang peradilan ...
Sang bos, masuk ke dalam ruangan itu.
Dia langsung bisa mengetahui siapa yang sudah membantu Juna kabur.
"Aku sangat kecewa dengan semua ini tetapi tidak bisa melakukan apapun karena kalian sudah bekerja dengan keras. Aku akan menemui siapa pelakunya dan kita harus siap-siap untuk berperang lagi."
"Apa apa sudah membagi wilayah itu?"
"Bukan hanya membagi tetapi aku juga berkelahi. Ini kesempatan kalian untuk menunjukkan bahwa kita bukanlah geng yang hanya bisa diam ketika banyak orang melakukan tekanan. Musuh kita bukanlah orang lain tetapi orang-orang yang pernah bergabung bersama The Devil. Kalian harus memahami bagaimana cara memperlakukan mereka sebelum benar-benar menghabisinya."
__ADS_1
"Siap bos!"
"Aku memerintahkan kalian untuk menyergap markas Romer, cari tahu tentang Juna di sana."
"Bos yakin jika dia yang melakukannya?"
"Aku kurang yakin tetapi ada beberapa hal yang aku ketahui mengenai kalung yang jatuh di atas lantai, ini bagian dari anak buah Romer yang juga pernah bersama kita."
Semua anggota The Devil, terlihat begitu bersemangat ketika sang bos tidak marah.
Mereka langsung menyusun rencana untuk mengepung markas dan melihat bagaimana kondisi sebenarnya di markas Romer.
Sang mafia, melakukan hal yang tidak terduga, yaitu segera melakukan panggilan telepon kepada istri tercinta.
"Sayang, aku sudah berada di dalam situasi yang sangat tidak baik, kau justru bersih-bersih dengan menyanyi?"
Ale sebenarnya hanya bercanda saja.
"Aku tidak melakukan hal yang kau tuduhkan. Hari ini aku merasa bahagia karena kau."
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Bisa saja, kau adalah orang yang selama ini bersamaku. Meski aku akan segera pulang, bisalah berbincang lebih mengenai satu hal di sambungan telepon."
"Basi!"
"Haha, kenapa basi ya?"
"Jika ingin mengejekku, ejek saja, aku tidak keberatan."
Suasana yang sangat tidak terduga, membuat dua orang yang saling bermusuhan, akan segera berada dalam keadaan yang tidak seharusnya.
__ADS_1
Sang mafia memahami bagaimana perasaan seorang Enza, memang selama ini istrinya tidak pernah merasakan kebahagiaan yang abadi.
Cintanya hanya bertepuk sebelah mata.
Obrolan yang tidak penting, usai sudah.
Pihak istri, menutup panggilan telepon itu.
"Gadisku yang cantik," batin Ale.
.
.
.
Villa Ale ....
"Astaga, kenapa aku harus bertemu dengan orang seperti itu, dia adalah hal yang tidak mungkin bagiku. Kami juga tidak akan bersama dalam waktu dekat. Cinta ini sangat mengherankan."
Sang istri merasa jika Ale, tidak mampu menjadikan hidup yang sebenarnya sebagai satu fakta yang pasti.
Jadi hubungan aneh ini akan tetap berlangsung entah sampai kapan.
Sach mendekat pada majikannya dan memberikan saran terbaiknya.
"Kalau aku boleh bicara denganmu, aku akan memberikan nasihat. Nyonya mafia, terimalah suamimu dengan sebenar-benarnya. Dia adalah pria yang tiada tanding di dunia ini."
"Jangan bicara apapun, aku akan pergi setelah ini! aku lelah!"
*****
__ADS_1