
Perlahan tapi pasti, kedua orang itu turun dari mobilnya, Sach bertugas untuk menjaga mobil dan memastikan tempat itu nyaman dan aman dari kekacauan.
Langkah keduanya sangat tidak seimbang, seorang Enza yang keras kepala, harus mengikuti apapun yang diinginkan oleh seorang Ale.
Enza sudah terpatri dengan hubungan suami istri yang belum ingin ia ungkap ke permukaan.
Sang istri, sungguh tak menyangka jika tahun ini menjadi kehancurannya.
Pesta ulang tahun merupakan salah satu bukti bahwa dia akan menjalani hidupnya setelah berpisah dengan Juna.
Meskipun sangat sulit dan ia tak mampu membayangkan masa depan yang bahagia, apalagi setelah bertemu dengan Ale.
Pria mafia yang sudah membuat hidupnya semakin sulit, dia tak suka dengan pria itu, tetapi harus menjadi satu dengannya sebab sudah menjalin hubungan suami istri yang cukup dekat.
Ikrar pernikahan, kesepakatan, janji untuk bersama meski hanya sekedar omong kosong belaka, tapi Ale menganggapnya serius, merupakan satu hal yang sanggup membuatnya pusing sendiri.
"Kau merasa gugup?" tanya Ale.
Keduanya telah masuk ke dalam area klub.
Farin yang sejak awal menunggu kedatangan Enza, langsung menghampiri sahabatnya itu.
"Apakah ini kau?" ucap Farin merasa terkejut dengan apa yang ia lihat di depannya.
Rasanya semakin sulit untuk bertahan, tetapi pada akhirnya, dia harus menahan semua perasaannya.
Enza ingin menjelaskan kenapa dia ada di sini, tapi Ale terus saja memandangnya, tatapan itu sangat mempengaruhinya.
__ADS_1
"Iya Farin, ini aku. Aku berusaha keras untuk datang kemari. Coba kau lihat, siapa yang aku bawa?" jawab Enza.
Enza mencoba membalas semua perbuatan Ale dengan cara yang jitu.
Sedangkan sang sahabat, menatap aneh ke arah Ale.
Seseorang yang asing, tetapi sangat familiar.
"Kau artis?" sahut Farin.
"Bukan, dia teman lamaku, sebelum aku pindah kemari dan bersama kalian semua, di kotaku yang lama, aku ada teman. Dia adalah Ale," jelas Enza yang sangat pandai berpura-pura.
"Dia tampan juga, tetapi bukan typeku. Kau lihat Juna, dia sudah berubah," ungkap Farin yang memandang sebelah mata seorang Ale.
Ale cukup senang dengan tanggapan ini karena tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain melakukan pertunjukan.
"Hahaha, kau paham kan apa maksudku?" bisik Enza pada sang suami.
"Kau diam saja!" jawab Ale.
"Kalian sedang melakukan apa? tuan Ale, aku ingin berbicara sebentar dengan Enza, kau bisa berkeliling di sini!" pinta Farin.
Dia sangat berhati-hati dengan Ale, bisa saja orang seperti itu akan membuat keributan di dalam pesta.
"Kami hanya mengatakan bahwa pesta ini sangat megah," jawab Enza dengan keringat dingin.
Dia secara tidak sengaja melihat sang mantan kekasih sedang berpelukan bahkan saling memberikan saliva masing-masing ditengah pesta yang lumayan meriah ini.
__ADS_1
Farin menyadari semua ini dan berusaha menghibur sang sahabat.
"Tuan Ale, aku mohon berikan waktu untukku mengatakan sesuatu kepada sahabatku."
"Ya, aku akan memberikan waktu."
Farin menarik lengan sang sahabat dan membawanya menuju tempat yang lebih nyaman untuk berbicara.
Sementara itu, Ale mengirimkan pesan kepada seorang Sach untuk masuk ke dalam area klub.
"Kini saatnya mempermalukan Juna," batin sang mafia dengan tersenyum smirk.
.
.
.
Di tempat duduk yang berada jauh dari Juna, Farin memberikan dukungan penuh terhadap Enza.
"Kau terima saja pinangan dari Robin," ucap Farin.
"Apa yang kau katakan? aku tidak mau, aku masih waras Far. Dia itu merupakan playboy kelas kakap. Mulutnya hanya manis, tapi sangat pahit jika harus satu rumah dengannya. Semua istrinya akan saling berebut perhatian, sedangkan aku yang yatim piatu, sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bersama dengan seorang Juna, ini membuatku terluka. Robin memang pernah berjanji akan meninggalkan semua istrinya demi dirinya. Akan tetapi bahaya yang timbul, tidak hanya dari pernikahan ini, tetapi semua istri yang sudah berada di rumah Robin sejak lama."
Enza meminum satu gelas alkohol yang sudah tersedia di depannya, sebab sebelumnya sang sahabat sudah menyiapkannya.
*****
__ADS_1