
Setelah pagi itu, Ale menjadi makin pendiam, dia berusaha keras untuk tidak mengatakan hal yang menyakiti hati Enza.
Bulan madu ini, akan Ale gunakan untuk membahagiakan sang istri.
Hanya saja para musuh tidak bisa menahan dalam waktu seminggu untuk menghancurkannya.
Sebuah kasus meledak, dia harus segera menyelesaikannya.
Di ruang tamu ...
"Enza, kau di sini saja ya? dua hari aku akan pulang, kau jaga dirimu dengan sebaik-baiknya."
"Tanpa kau katakan, aku sudah memahaminya. Kau tidak perlu terlalu mencemaskan aku."
Enza sangat ketus, cintanya tidak ada sama sekali untuk sang mafia.
Dia berusaha keras untuk tidak jatuh cinta lagi, dia hanya ingin belas dendam.
"Ya, baguslah! ada Sach yang bisa membantumu. Kau tidak keberatan dengan Sach kan?"
"Tidak sama sekali."
"Oke, aku akan pergi dulu."
"Baik."
Sang mafia memberikan sebuah hadiah berupa kotak lucu berisi boneka beruang, sang mafia mengatakan jika gadis suka boneka.
Dia baru saja membelinya secara online, semuanya bisa Ale lakukan. Ale berkuasa dimana-mana, mudah baginya untuk mendapatkan satu truk boneka.
Hanya saja dia tidak mau menjadikan posisinya sebagai alasan, dia masih meminta tolong Sach untuk melakukan banyak hal.
Sang suami telah pergi dengan semua kekesalannya.
__ADS_1
Kini yang tersisa hanyalah sang gadis dan Sach.
"Sach, apa kau tahu mengenai jatuh cinta?" tanya sang gadis.
"Iya, bos mendapatkan banyak cinta, tapi kau yang menjadi pemenang."
Sach akan terus membuat Enza melihat seberapa besar cinta Ale untuknya.
"Kau mengatakan semua itu karena cinta Ale yang besar untukku, aku paham. Kau pasti akan mendapatkan banyak uang setelah ini. Bersiap-siaplah."
"Tidak seperti itu nona, bosku sangat senang dengan semua pertemuan, perpisahan, sikap manis. Dia sangat suka padamu, apa adanya."
Sach ingin sekali Enza sadar akan keseriusan seorang Ale, namun perjuangan sang anak buah, tidak semudah itu.
.
.
.
Sepanjang perjalanan menuju kawasan yang sedang menjadi sengketa, Ale meminta kepada Sach untuk menjaga cintanya, si Enza.
Meski sedang berada dalam perjuangan memperebutkan kekuasaan, Ale masih ingat akan istri tercinta.
"Tuan, kau ingin melewati jalan mana?" tanya sang sopir.
"Lewat jalan terdekat saja," jawab Ale.
Dia masih fokus dengan ponselnya.
Secara tidak terduga, Sach mengirimkan video Enza sedang membersihkan ruang tamu dengan mengomel.
Semua tingkah sang istri terlihat tidak masuk akal.
__ADS_1
"Astaga, kenapa dia bisa seperti ini," batin Ale.
Dia merasa terhibur, Ale tidak akan pernah melepaskan gadis yang sangat ia cintai dan mampu membuatnya merubah sikap.
Enza adalah yang terbaik.
.
.
.
Sesampainya di kawasan sengketa ...
Mobil Enza terparkir di tengah padang tandus.
Di sana berdiri sekelompok orang yang sedang menunggu kedatangannya.
"Mana pasukanmu?" teriak sang musuh, dia adalah bagian lain dari The Devil yang menjadi musuh bebuyutan.
"Aku tidak ingin bertarung, buat kesepakatan dan aku ingin pulang."
"Haha, cemen sekali kau ternyata."
"Aku tidak tahu bagaiman cara memberikan informasi yang tepat kepadamu, namun harusnya aku lebih berhati-hati."
Ale mengingat Enza, jadi tidak terlalu ingin membuat keributan, dia hanya memiliki waktu dua hari untuk tetap berada di sana, Ale harus pulang dalam keadaan hidup.
Musuh yang sangat sombong, berjalan mendekati Ale, dia memberikan satu dokumen penting.
"Baca dan tanda tangani, dulu kita pernah bersama, tetapi aku tidak mudah tertipu olehmu."
Musuh itu, akan memberikan satu data yang valid tentang kepemilikan asli wilayah, semuanya sudah sesuai dengan perjanjian dan Ale harus setuju.
__ADS_1
*****