Wanita Kelima Raja Iblis

Wanita Kelima Raja Iblis
Eps 34. Pekerjaan Selesai!


__ADS_3

"Huft ... T–tidak sanggup lagi! ... Huft ...."


"Kalau seperti ini, lama-lama aku akan binasa!"


"Kumohon, biarkanlah kami beristirahat!"


"TIDAK KUAT LAGI!"


Napas yang tersengal-sengal, dan juga kata-kata putus asa terus keluar dari mulut keempat iblis malang yang menjadi korban keganasan Zeena.


Setelah disuruh menelan 44 bara api yang sangat panas, kini mereka disuruh berjalan mengelilingi tempat hukuman panas neraka yang panas itu, dengan borgol logam yang terasa begitu panas terpasang di tangan mereka.


Ditambah lagi, Fídi Si Ular Api terus melata di samping mereka berempat untuk mengawasi mereka, hal ini membuat suhu di sekitar para iblis tersebut menjadi semakin panas.


Sesekali mereka jatuh karena sudah tak sanggup berdiri lagi, tapi dengan cepat mereka berempat kembali berdiri, hal itu karena Fídi akan langsung menyemburkan bisa panas dari mulutnya ketika mereka tidak bergerak.


Zeena dan Xenos yang melihat hal itu dari kejauhan merasa sangat terhibur. Saat ini, rasa kemanusiaan Zeena seolah-olah hilang. Bahkan, Zeena sendiri pun tidak tahu sejak kapan dirinya begitu menikmati jika melihat makhluk, atau apa pun yang tersiksa juga menderita.


Dia juga tidak mengerti, bagaimana bisa dirinya itu, yang seorang manusia biasa, memperlakukan bangsa iblis dengan begitu kejam seperti saat ini.


"Sudah hampir 2 jam, ya. Baiklah, aku sudahi saja hukuman kalian hari ini!" ucap Zeena ketika melihat jam tangan yang ia pakai.


Jarum pendek pada jam itu telah menunjukan pukul 11 siang, itu berarti sudah lebih dari 2 jam sejak dia sampai di lembah kematian itu, karena dirinya tiba disana sekitar pukul setengah 9.


Sementara itu, Zeena sudah hampir 2 jam melakukan hukuman yang begitu keji tersebut, karena dirinya memulai hukuman untuk keempat iblis itu pada pukul 09.17.


"Astrapiaía kínisi!"


Zeena merapalkan satu mantra yang membuat dirinya dapat berpindah dengan cepat. Zeena merapalkan mantra tersebut, untuk membawa para iblis yang tidak sanggup berjalan lagi itu ke luar dari area tempat hukuman panas neraka.


Mantra inilah yang Zeena gunakan, ketika membuat keempat iblis itu ketakutan, karena dengan tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka.

__ADS_1


Dia juga telah memusatkan mana nya ke tangan sebelum merapalkan mantra tersebut, hal itu dia lakukan agar dia kuat untuk mengangkut empat iblis dewasa berbadan besar sekaligus.


"Kembalilah ke sel tahanan kalian masing-masing para iblis lemah!" titah Zeena dengan raut wajah yang terlihat kesal, "Hiburanku menghilang!" lirih wanita itu dalam hati.


"Dasar bodoh! Kau harus mengantar mereka ke sel tahanannya. Jika tidak, mereka akan kabur dari kastil ini!" ucap Xenos dengan aksi memukul pelan kepala Zeena dengan tangannya.


"Aduh!" Zeena memegang kepalanya yang sedikit sakit karena ulah dari hewan maginya itu, "Oh ... Benar juga, ya! Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarkan kalian berempat ke sel tahanan, meski itu sangat merepotkan!" ujar Zeena sembari mengelus-elus kepalanya.


Setelah mengatakan kalimatnya itu, Zeena pun berjalan diikuti oleh Kormilas, Pregaste, Biustra, Drewes, kemudian Xenos yang berjalan di paling belakang untuk mengawasi keempat iblis itu.


Selang beberapa menit, mereka pun sampai di depan sel tahanan milik Biustra, yang dimana itu merupakan sel pertama yang mereka lewati.


Zeena membuka borgol logam panas yang masih melingkar di pergelangan tangan milik Biustra itu, "Masuklah!" serunya sembari mendorong pelan Biustra untuk masuk kembali ke sel tahanannya.


Saat Biustra sudah masuk ke dalam sel tahanan miliknya itu, iblis tersebut langsung tersungkur ke lantai, tubuhnya benar-benar lemas.


Melihat hal tersebut, entah mengapa rasa kemanusiaan Zeena mulai kembali, karena merasa kasian saat melihat Biustra, dia pun memutuskan untuk membantu iblis itu.


"Gunakanlah bongkahan-bongkahan es tersebut untuk mendinginkan suhu tubuhmu. Jangan sampai aku kena masalah karena kau mati setelah ku hukum!" ucap Zeena.


Dia mengatakan kalimatnya itu dengan suara yang terdengar marah, tapi nyatanya memiliki maksud baik dibaliknya.


"Mari lanjutkan perjalanan kita!" lanjut Zeena, dan kemudian diikuti oleh Xenos, juga 3 iblis yang masih tersisa untuk dia masukkan ke sel.


Ketika Zeena pergi, tanpa berpikir panjang lagi, Biustra langsung mengambil bongkahan es yang merupakan bentuk belas kasih dari Zeena.


"D–dingin! Ahh ... Akhirnya! Betapa segarnya es ini!" Dengan air mata bahagia yang mengalir jatuh dari matanya, Biustra begitu menikmati dinginnya bongkahan es yang Zeena berikan padanya itu.


Dari kejauhan, Xenos melihat apa yang Biustra lakukan di sel nya, melihat hal itu dia tersenyum, "Ternyata kau tak sekejam yang kubayangkan!" ucap Xenos kepada Zeena yang berjalan sedikit jauh di depannya.


Namun, hal itu tidak menghalangi pendengaran baik milik Zeena, "Aku tidak melakukan kebaikan apa pun, itu hanyalah demi kebaikanku semata!" balas Zeena sembari sedikit menoleh untuk melihat hewan maginya.

__ADS_1


Lagi-lagi Xenos tersenyum, "Sejak kapan dia menjadi pemalu seperti itu? Sifatnya terlalu cepat berubah-ubah, dia memang begitu unik!" gumam manticore ganas itu di dalam hatinya.


Setelah meninggalkan sel tahanan milik Biustra, tidak lama kemudian mereka tiba di sel tahanan milik Kormilas, dan kemudian sel milik Pregaste, lalu yang terakhir adalah sel milik Drewes.


Saat memasukkan ketiga iblis itu ke dalam sel tahanan mereka, Zeena pun juga melakukan hal yang sama, seperti yang dirinya lakukan kepada Biustra yang sudah lemas tak berdaya.


"Akhirnya kelar juga tugasku hari ini! Baiklah, ayo kita temui Juerlos diruangan nya!" seru Zeena dengan nada bicara yang begitu riang.


"Kau tidak ingin melakukan teleportasi saja untuk ke ruangan kerja Juerlos, manusia?" tanya Xenos di tengah-tengah perjalanan mereka menuju tempat Juerlos saat ini berada.


Zeena menggelengkan kepalanya, "Itu tidak perlu, diriku tidak terlalu lelah sehingga membutuhkan teleportasi. Lagi pula, jarak sel tahanan Drewes ke ruang kerja Juerlo tidak sampai 150 meter, itu jarak yang sangat dekat!" balas Zeena.


Ya benar saja, mereka berjalan tidak sampai satu menit, dan sekarang sudah tiba di depan pintu ruang kerja Juerlos.


"Juerlos! Apa kami boleh masuk?" Zeena mengetuk pintu ruangan itu, sambil terus berteriak. Tak lama kemudian, iblis yang ditunggu-tunggu pun akhirnya keluar.


"Silahkan masuk, Yang Mulia Zeena!" Dengan senyum ramahnya, Juerlos pun mempersilahkan Sang Wanita Bintang Pijar dari keempat tuannya masuk ke dalam ruangan kerjanya itu.


Zeena masuk ke dalam, diikuti oleh Xenos, lalu kemudian Zeena duduk di sofa setelah Juerlos mempersilahkannya.


"Yang Mulia Zeena, saya melihat semua hal yang anda lakukan ketika menghukum para iblis itu, itu semua benar-benar sangat luar biasa! Keren!" puji penjaga lembah kematian tersebut saat dirinya sudah duduk di depan Zeena.


Wanita yang dipuji itu pun tersipu malu, "Ahh ... Bisa aja! Itu bukanlah hal yang luar biasa!" balas Zeena dengan pipi yang sedikit merah. Melihat hal itu, baik Juerlos maupun Xenos tertawa kecil.


"Yang Mulia, ini adalah emas yang anda dapatkan sebagai upah karena telah mau membantu saya disini. Ini memang tidaklah sebanding dengan kekayaan milik para raja iblis yang ada, tapi tolong terimalah," ucap Juerlos sembari memberikan kantong kain yang sedari tadi dia pegang kepada Zeena.


Dengan begitu cepat, kantong kain yang awalnya berada di atas meja, kini sudah berada di atas telapak tangan Zeena, "Tentu saja aku akan menerima emas ini! Ini adalah hasil jerih payahku."


Setelah mengambil upah dari hasil kerjanya hari ini, Zeena tetap berada di ruangan itu untuk membicarakan beberapa hal dengan Juerlos, salah satunya tentang pekerjaan yang akan dirinya lakukan besok. Hingga akhirnya, Zeena pun memutuskan kembali ke dunia asalnya.


Karena Sang Majikan sudah kembali, Xenos juga ingin kembali ke sarangnya, beristirahat dan menikmati waktu sendiri.

__ADS_1


Namun, baru saja dia ingin menghilang dari ruangan kerja Juerlos itu, tiba-tiba saja ada dua orang iblis beraura kuat menahannya untuk pergi.


__ADS_2