
Sebelum melakukan hal yang telah direncanakan dengan Xenos sebelumnya, Zeena memutuskan untuk kembali ke dunianya terlebih dahulu.
Hal itu tidak lain dan tidak bukan, karena di dunianya waktu sudah berlalu sekitar 22 jam, pagi hari sudah tiba, dan Zeena harus segera berangkat sekolah.
Lagi pula, dia harus mencari mantra yang dapat membantu mereka, dari buku mantra sihir yang pernah Astra berikan.
"Sudah hampir jam 7! Tidak ada waktu lagi, kalau begitu aku akan kembali menggunakan mantra teleportasi untuk kali ini!" ucap Zeena yang tak ingin terlambat.
Zeena tahu bahwa seharusnya dirinya tidak menggunakan mantra secara sembarangan, apalagi untuk hal yang seperti ini. Terakhir kali saat dia merapalkan mantra teleportasi, dia malah nyasar ke dunia buatan Paines.
Namun, ketakutan Wanita Bintang Pijar tersebut terhadap hukuman yang akan diberikan padanya jika terlambat, membuat dia melupakan semua larangan dan kejadian mengerikan itu.
"Maaf ... Teleportasi!" serunya dengan rasa bersalah sesaat, dan pada akhirnya dia tetap menggunakan sihir untuk menyelesaikan masalah yang kini dia hadapi.
Tak perlu waktu lama, saat Zeena selesai merapalkan mantra sederhana itu, tubuhnya seolah-olah langsung tertarik, dan kini dirinya sudah berada di dalam toilet wanita.
"Huft ... Karena terburu-buru aku hampir lupa untuk mengecek situasi di dalam toilet ini, untung saja toiletnya sepi, kalau sempat ada orang, aduh habis aku!" gumam Zeena merasa lega.
Perlahan Zeena mengeluarkan hp dari tasnya, lalu kemudian melihat jam disana. Ternyata saat ini sudah pukul tujuh lewat dua menit.
Tahu akan itu, Zeena pun segera berlari untuk masuk ke kelasnya, sebelum guru yang akan mengajar tiba di kelas itu terlebih dahulu.
......................
Di dalam kelas Zeena, saat semua murid sudah duduk rapi di kursi mereka masing-masing begitu juga dengan Zeena, wali kelas mereka masuk bersama dengan seorang pria yang terlihat seumuran dengan Zeena.
Pria dengan tinggi sekitar 180 cm, berkulit sawo matang, berwajah tampan, dan berambut hitam sedikit kecoklatan, serta memiliki senyum yang begitu manis.
"Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru, Ibu harap kalian dapat berteman baik dengannya, ya!" ujar guru itu.
__ADS_1
Wali kelas Zeena pun melihat murid baru yang dimaksudnya, "Silahkan perkenalkan diri kamu, nak!" lanjutnya.
Murid baru itu pun mengangguk, lalu kemudian dia melihat ke arah teman-teman barunya, "Hai semuanya, namaku Jillauz, aku pindahan dari luar negeri, salam kenal semuanya!" ucap murid baru tersebut memperkenalkan diri dengan singkat.
"Salam kenal juga Jillauz!" balas semua murid di kelas itu dengan ramah, lalu setelah itu wali kelas mereka pun menyuruh Jillauz untuk duduk di kursi kosong yang terletak di samping Zeena.
"Baik, kalau begitu Ibu keluar dulu ya, Pak Yudha—guru bahasa Indonesia—sebentar lagi akan ke kelas," ujar wali kelas itu setelah melihat Jillauz sudah duduk di kursinya.
Ketika wali kelasnya telah pergi, Zeena menatap Jillauz dengan tajam. Dia menyipitkan matanya, "Kau bukan manusia, kan?" lirih Zeena bertanya secara terang-terangan. Tentu saja Hal itu membuat Si Anak Baru langsung kaget.
"A–apa maksudmu? B–bukan m–manusia?" Jillauz membalas pertanyaan Zeena dengan pertanyaan juga, dia juga mengatakan hal itu dengan gugup, membuat dirinya terlihat semakin mencurigakan di mata Zeena.
Wanita para raja iblis itu pun tersenyum sinis, "Kau tak perlu berbohong! Aku dapat merasakan aura dan juga mana milikmu, kau iblis kan? Lalu apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Karena aura milikmu sangat tidak asing bagiku." Masih dengan menatap Jillauz, Zeena berbicara dengan nada bicara yang tegas.
Semua hal yang Zeena katakan, akhirnya membuat Jillauz terintimidasi, terlebih lagi ditambah dengan tatapan tajam wanita itu.
"Huft ...." Jillauz menghela kasar napasnya, perlahan dia mulai melihat wajah Zeena, "Yang Mulia Zeena," lirih Jillauz ragu.
Zeena tertawa ngakak, membuat satu kelasnya pun menjadi bingung. "Pantas saja aku merasa sangat mengenal aura dan mana mu. Dan juga nama itu, Jillauz dan Juerlos, terdengar cukup mirip!" ucap Zeena masih tertawa dengan besar, tapi untungnya dia dapat mengecilkan suaranya disaat mengatakan hal-hal yang orang lain tak boleh dengar. Tentang aura dan mana, juga nama asli Jillauz yang sedang menyamar.
"Yang Mulia, tolong jangan tertawakan hamba, itu sedikit memalukan!" pinta Jillauz yang tak lain adalah Juerlos dengan nada yang ragu-ragu.
"Haha ... Baiklah, baiklah! Tapi, saat istirahat nanti, ada hal yang harus aku tanyakan padamu!" Zeena masih tertawa di awal-awal perkataannya. Tapi, di kalimat terakhirnya itu, Zeena berbicara dengan tegas, juga dengan wajah yang dingin.
Juerlos ketakutan, "B–baiklah, Yang M–mulia," balasnya yang lagi-lagi kembali gugup, melihat hal itu Zeena hanya tertawa kecil.
Selang beberapa saat, guru bahasa Indonesia mereka pun masuk ke dalam kelas, dan pelajaran bahasa Indonesia berlangsung selama sekitar 3 jam. Setelah pelajaran bahasa Indonesia selesai, guru mata pelajaran Geografi pun masuk, guru itu pun mengajar sampai waktu istirahat tiba, yaitu pada pukul 12.15.
......................
__ADS_1
Saat jam istirahat tiba, semua siswa dan siswi berbondong-bondong pergi ke kantin, begitupun dengan teman-teman kelas Zeena.
Di sekolah Zeena, semua murid yang ingin makan memang akan selalu pergi ke kantin. Bahkan jika mereka membawa bekal, mereka semua tetap akan memakannya di sana.
Hal ini membuat kelas Zeena kini menjadi benar-benar sepi, hanya ada Zeena, Juerlos, dan beberapa orang saja di dalam kelas itu.
"Ayo ke belakang!" seru Zeena sembari menarik tangan Juerlos untuk menuju ke sudut belakang kelas, hal itu dia lakukan agar orang lain tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Juerlos, sebenarnya apa yang kau lakukan? Mengapa sampai menyamar menjadi manusia seperti ini?" tanya Zeena saat mereka berdua sudah berdiri di belakang sudut kelas.
Juerlos terlihat ragu ingin menjawab, sehingga Zeena harus sedikit menekannya, "Katakan saja!" seru Wanita Bintang Pijar itu dengan tegas.
"Hewan magi Anda menyuruh hamba untuk datang dan menjaga Anda, Yang Mulia." Setelah terus ditekan, akhirnya Juerlos menjawab pertanyaan Zeena, tapi itu malah membuat Zeena menjadi semakin bingung.
Zeena menaikkan salah satu alisnya, "Menjaga aku? Mengapa? Aku punya kekuatan yang besar, dan aku bisa mengendalikannya, diriku tak perlu perlindungan, Juerlos," ucap Zeena yang bingung, dia pun kembali bertanya.
"Yang Mulia, beberapa saat yang lalu di Vasíleio Daimónon, raja iblis Lucis mengirimkan serangan ke dunia ini, hamba dan juga Xenos masih tidak tahu serangan seperti apa itu."
"Namun yang jelas serangan itu akan berdampak fatal bagi dunia ini, terlebih lagi jika hal itu tidak ditangani. Jadi hamba dan Xenos memutuskan untuk menanganinya."
"Kita berdua akan menyelesaikan masalah di dunia ini, sementara Xenos akan menyelesaikan masalah yang ada di Vasíleio Daimónon. Xenos juga meminta agar hamba bisa sekalian menjaga Anda, dan memastikan keselamatan Anda."
Kali ini Juerlos menjelaskan dengan panjang lebar, agar Zeena bisa dengan cepat mengerti situasi yang mereka alami saat ini.
"Begitu ternyata. Baiklah, sepulang sekolah nanti kita akan menangani semuanya!" ujar Zeena setelah Juerlos selesai menjelaskan.
"Baiklah Yang Mulia!" seru Xenos dengan cepat.
Zeena tersenyum, kemudian dia memandangi Juerlos dari ujung rambut sampai ujung kaki, "Ngomong-ngomong, kau sangat tampan saat di wujud manusia ini!" gumam Zeena sembari tersenyum kecil, hal ini pun membuat Juerlos tersipu malu. Wajahnya menjadi merah merona.
__ADS_1
Tapi apa yang Zeena katakan itu benar, memang sedikit aneh melihat iblis yang selama ini terlihat sangat menyeramkan, penuh darah, dan terlihat berwibawa, kini terlihat tampan dan juga manis.