
Sorot mata Zeena melihat tajam ke dalam mata iblis yang ada di hadapannya saat ini, iblis yang memiliki kemampuan lebih kuat dibandingkan dengan iblis kiriman Lucis yang lainnya.
Terlebih lagi iblis tersebut mempunyai senjata magi yang kuat yaitu pedang pelahap, sebuah pedang yang akan melahap dan menyerap mana dari apa pun hal yang disentuh pedang tersebut.
Hal itu juga termasuk pemiliknya sendiri. Siapa pun yang menggunakan pedang pelahap akan diserap mana nya sedikit demi sedikit, sehingga pemilik senjata ini tidak dapat menggunakan senjata tersebut terlalu lama.
Beruntungnya senjata yang Zeena miliki adalah senjata jarak jauh yaitu panah demon. Dengan begitu, baik dirinya maupun senjata maginya itu tidak perlu menyentuh pedang tersebut.
Zeena akan berusaha untuk menjadikan pertarungan ini sebagai pertarungan jarak jauh, karena itu adalah satu-satunya hal yang dapat menguntungkan bagi Zeena.
Namun, tentu saja hal tersebut tidak akan semudah itu untuk dilakukan. Iblis yang ada di hadapan Zeena saat ini pasti akan melakukan hal sebaliknya dari yang Zeena akan lakukan.
Iblis tersebut akan terus memperkecil jarak diantara mereka, sehingga dia bisa mengambil keuntungan dari hal tersebut.
"Kau iblis yang cerdik juga ternyata! Ku pikir iblis kiriman Lucis semuanya tidak berotak," ucap Zeena dengan senyum merendahkannya.
Terlihat iblis yang ada di hadapan Zeena itu menjadi marah karena ucapan Si Wanita Bintang Pijar tersebut. "Akan ku habisi kau!" geramnya.
Mendengar ucapan Si Iblis itu bukannya takut Zeena malah tertawa, tawanya terdengar sangat kuat, "Kau ingin menghabisi diriku? Iblis rendahan seperti mu ingin melakukan itu?! Aku bahkan bisa menghancurkan Vasíleio Daimónon jika aku mau! Jadi jangan berharap kau bisa membunuhku!" balas Zeena dengan emosi yang meluap-luap.
Semakin lama situasi semakin memanas, hal ini menambah kesan mengerikan dari tempat yang sudah tidak dapat ditemukan manusia lagi selain Zeena. Semua manusia sudah berada di tempat yang Zeena ciptakan dengan sihirnya, sementara dunia manusia saat ini sudah dipenuhi oleh iblis.
"Huft ...." Zeena menghela kasar napasnya, "Baiklah, kau ingin membunuhku bukan? Maka coba lakukanlah meski seharusnya kau sudah tahu akan bagaimana hasilnya nanti," ucap Zeena disertai dengan senyum mengerikannya.
__ADS_1
Wwwuuushhh ...
Tanpa aba-aba, Wanita Bintang Pijar tersebut langsung melesatkan satu anak panah demon miliknya ke arah iblis itu, hingga membuat iblis tersebut tidak dapat menghindari serangan pertama yang diberikan oleh Zeena.
Akibatnya kini lengan Si Iblis terluka dan racun mematikan perlahan masuk ke dalam tubuhnya. Si Iblis pun meronta kesakitan.
Zeena pun tersenyum senang melihat lawannya yang sedang menahan rasa sakit itu, "Kau tau iblis rendahan, kekuatan dari anak panah demon ini bisa berubah sesuai kemauanku! Anak panah ini bisa menjadi api dan membakar mu, menjadi air dan menenggelamkan mu, atau pun menjadi racun untuk membunuhmu secara perlahan," ungkapnya dengan tatapan dingin.
Hanya dengan ucapan Zeena tersebut, sudah membuat Si Iblis semakin terintimidasi, dia baru terkena satu serangan tapi dia merasa seperti sudah diserang berkali-kali.
"Apa pun yang akan kau katakan aku tidak akan pernah mundur, bagaimanapun juga aku adalah salah satu jenderal iblis alam bawah!" seru iblis itu dengan suara yang tegas.
"Jenderal iblis?" Zeena memiringkan kepalanya ke kanan, "Jadi kau berada satu tingkat di bawah para raja iblis? Wah apa Lucis benar-benar berniat untuk membunuhku sampai mengirimkan iblis dengan posisi tinggi seperti mu?!" Kali ini Zeena menjadi marah karena hal lain.
Dia marah karena Lucis dan tentu saja juga karena Si Nathalie wanita yang penuh dengan tipu muslihat. Zeena benar-benar tidak terima diperlakukan seperti ini hanya karena dirinya sedang dituduh sebagai Wanita Bintang Pijar yang palsu. Bagaimanapun juga dirinya tetaplah masih Wanita Bintang Pijar dari keempat raja iblis, yakni Hans, Belzuse, Astra, dan Ferre.
Ditengah-tengah kemarahannya, disaat dirinya mulai kehilangan fokus, jenderal iblis yang dikirim oleh Lucis itu pun mengambil kesempatan dan langsung menyerang Zeena.
Satu luka akhirnya muncul di tubuh wanita yang masih mulus tanpa goresan itu. Mana Zeena pun juga cukup terkuras akibat bersentuhan dengan pedang pelahap milik jenderal iblis tersebut.
Zeena meringis kesakitan, tapi itu tidaklah lama. Hanya dalam waktu beberapa detik saja Zeena sudah bertingkah layaknya tidak terjadi apa-apa.
Kemudian wanita itu pun loncat cukup jauh kebelakang untuk menambah jarak antara dirinya dengan Si Jenderal Iblis alam bawah.
__ADS_1
"Aku sempat meremehkan dirimu. Namun kini aku kagum dengan tekad dan juga insting kuat mu yang cepat dalam memahami situasi. Kalau boleh tahu siapa namamu wahai jenderal iblis?" ucap Zeena yang kini dengan senyuman manis.
Kagum akan hal yang sama, tanpa ragu jenderal iblis itu pun menjawab pertanyaan yang Zeena lontarkan padanya, "Vragen, Lucifer Vragen. Itu namaku!" jawabnya dengan suara yang lantang.
Zeena kembali tersenyum mendengar jawaban tersebut, "Baiklah Vragen, sekarang mari kita bertarung untuk kehormatan dan juga tujuan kita masing-masing. Kau mempertaruhkan apa yang menjadi milikmu, begitu juga denganku," ujar Zeena dan kemudian dibalas dengan anggukan tegas dari Si Jenderal Iblis Vragen.
Selang beberapa detik keduanya sudah langsung mulai bertarung. Vragen berlari dan menerjang ke arah depan untuk memberikan serangan kepada Zeena. Sementara Zeena terus menjaga jarak aman agar bisa membidik.
Satu persatu luka pun mulai terukir di tubuh masing-masing dari keduanya. Sesekali senjata mereka saling bergesekan, menimbulkan bunyi yang memancing perhatian iblis lainnya.
Namun tidak ada satu pun iblis yang berani ikut campur dan masuk ke dalam duel antara Zeena Si Wanita Bintang Pijar, dengan Vragen Si Jenderal Iblis alam bawah.
Perkelahian keduanya menimbulkan kerusakan yang cukup parah di sekitar area pertarungan.
Rumah-rumah disana hancur berkeping-keping, pohon-pohon dan tiang-tiang yang ada pun ikut tumbang akibat gesekan kekuatan dari dua orang kuat tersebut. Hampir tidak ada yang tersisa.
Zeena menembakkan anak panahnya ke Vragen, Vragen menghindar tapi sesekali dia tidak dapat menghindarinya dan tertembak.
Untuk Vragen, dia menerjang Zeena dan terus berusaha menusuk wanita itu, tapi Zeena terus menghindar atau pun menangkis serangan itu dengan panah miliknya. Namun, karena terus bersentuhan mana Zeena pun terkuras.
Dan kini Zeena sudah menggunakan anak panahnya yang ke 86, hanya tersisa beberapa buah anak panah saja. Lalu untuk senjata Vragen, ujung pedang miliknya itu telah menjadi tumpul akibat terus bergesekan dengan panah Zeena.
......................
__ADS_1
Waktu demi waktu terus berlalu, hingga tak terasa sudah lebih dari 20 menit kedua orang itu bertarung. Saat ini pemenang dari pertarungan tersebut sudah hampir terlihat.
"Kerja bagus ... Vragen," ucap Zeena lirih dan terdengar begitu lemas, energinya telah terkuras.