
Sepulang sekolah, Zeena dan juga Juerlos langsung dengan cepat menggunakan sihir teleportasi untuk menuju rumah Zeena.
Hanya dalam hitungan detik saja, kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar Wanita Bintang Pijar tersebut.
"Wah ... Jadi ini kamar Yang Mulia Zeena, sangat unik! Tidak ada tulang-belulang, tidak ada patung mengerikan, juga tidak bau amis sama sekali!" gumam Juerlos dengan nada bicara yang terdengar seperti orang yang kagum.
Mendengar hal itu tentu saja Zeena langsung tertawa, "Ya kalau kamarku seperti yang kau sebutkan tadi, artinya aku bukan lagi manusia melainkan iblis. Lagi pula jika aku memang ingin membuat kamar seperti itu, aku tetap tidak akan bisa melakukannya. Bagaimana jika orang tuaku datang dan melihat kamar putrinya seperti yang kau sebutkan tadi?" ucap Zeena dengan tawa yang semakin lama semakin mereda.
Juerlos menggaruk-garuk kepalanya, "Manusia ternyata seperti itu ya," lirih iblis yang tengah dalam wujud manusia tersebut.
"Ngomong-ngomong Yang Mulia, orang tua Yang Mulia ada dimana saat ini? Hamba tidak dapat merasakan keberadaan mereka di rumah ini." Juerlos yang teringat dengan kalimat terakhir yang baru saja Zeena katakan, akhirnya menjadi penasaran.
Saat mendengar pertanyaan dari Juerlos tersebut, tawa Zeena seketika saja menghilang dan wajahnya berubah menjadi murung. "Mereka adalah orang yang sangat sibuk. Mamaku sibuk dengan pria barunya, dan Papaku sibuk dengan pekerjaannya. Tak pernah ada waktu untukku." Zeena berbicara dengan wajah yang terlihat seolah-olah baik-baik saja. Tapi, Juerlos dapat merasakan kesedihan yang ada di dalam hati wanita yang berdiri di depannya saat ini.
"Maaf Yang Mulia, hamba tidak tahu kalau kehidupan para manusia cukup merumitkan seperti itu," ujar Juerlos yang merasa bersalah. Iblis itu pun menundukkan kepalanya. Lalu tanpa sadar tangan Zeena bergerak untuk menepuk punggung Juerlos.
"Hahaha ... Tidak semua kehidupan manusia itu rumit kok!" seru Zeena yang kembali tertawa.
"Ngomong-ngomong, sebenarnya bagaimana caranya kau bisa menjadi anak baru disekolah ku? Terlebih lagi bisa langsung sekelas denganku seperti itu," lanjut Sang Wanita Bintang Pijar yang tiba-tiba saja menjadi penasaran dengan Juerlos, yang masuk ke lingkungan sekolahnya sebagai anak baru bernama Jillauz.
"Tidak ada yang tidak bisa dilakukan dengan sihir Yang Mulia. Hamba hanya membuat data palsu mengenai siswa pindahan baru, memanipulasi para guru dan staf yang bersangkutan bahwa hamba pernah mendaftar sebelumnya, dan dengan sihir juga hamba mengatur agar hamba bisa ditempatkan di kelas ini," jelas Juerlos.
__ADS_1
"Oke baiklah, aku mengerti sekarang. Kalau begitu ayo langsung saja kita bahas masalah kita saat ini," ucap Zeena disertai dengan anggukan kecil kepalanya. "Baik Yang Mulia!" balas Juerlos.
Perlahan mereka berdua berjalan ke arah meja belajar Zeena, karena di atas meja itulah salah satu hal yang mereka butuhkan berada.
Namun ditengah-tengah langkah mereka berdua, tiba-tiba saja Zeena menghentikan langkahnya, membuat Juerlos yang berjalan di belakangnya hampir menabrak Zeena.
"Oh ya!" seru gadis itu dengan suara yang besar, sesaat setelah dia berhenti secara tiba-tiba, "Ada apalagi Yang Mulia?" tanya Juerlos bingung.
"Aku hampir lupa menanyakan ini. Sebenarnya apa kau tahu tujuan Lucis mengirimkan serangan ke duniaku ini? Apa hanya karena aku tinggal di sini?" Lagi-lagi Zeena menanyakan hal yang membuatnya penasaran sejak tadi.
Mendengar pertanyaan itu, Juerlos langsung mengernyitkan dahinya. Juerlos berpikir sesaat sembari mengingat-ingat. "Hamba tidak yakin tentang alasannya, tapi hamba tahu betul ini adalah permintaan dari wanita yang bernama Nathalie itu. Yang Mulia Lucis dibuat seperti terhipnotis, dan dengan menurutnya beliau mengikuti semua permintaan wanita itu," jelas Juerlos menurut sepemahaman dirinya.
Setelah Juerlos selesai menjelaskan, akhirnya Zeena benar-benar tidak menanyakan apa pun lagi. Dia kembali melanjutkan langkahnya, dan mengambil sesuatu yang menjadi tujuan dirinya sejak awal. Sebuah buku mantra sihir pemberian dari Astra Sang Raja Iblis penguasa Utara.
Mendengar hal itu Juerlos menjadi bingung, "Tapi saat ini serangan dari Yang Mulia Lucis sedang mendekat, bukankah kita harus mengatasinya terlebih dahulu?" Juerlos bertanya kembali karena dirinya benar-benar tidak mengerti.
"Kita mungkin bisa mengatasi serangan dari Lucis saat ini, tapi kurasa kita tidak akan bisa mengatasi masalah lain yang akan terjadi kedepannya. Jadi alangkah baiknya jika kita menyelesaikan masalah ini dari akarnya langsung!" jawab Si Wanita Bintang Pijar menjelaskan dengan jelas.
Setelah Zeena menjelaskan, penjaga lembah kematian itu pun mengangguk paham, "Kalau begitu biar hamba mencari informasi mengenai tanda-tanda kemunculan serangan dari Yang Mulia Lucis terlebih dahulu, agar Anda nantinya bisa lebih muda untuk mengambil tindakan," ujarnya. "Ya, terimakasih Juerlos!" seru Zeena.
......................
__ADS_1
BRUUKK ...
Ditengah-tengah kesibukan Zeena dan Juerlos, tiba-tiba saja beberapa buku yang ada di rak buku Zeena berjatuhan, diiringi dengan guncangan layaknya gempa yang cukup dahsyat.
"Ada apa ini?!"
Semakin lama guncangan tersebut semakin kuat, semua benda mulai berjatuhan. Bahkan Zeena pun sulit untuk berdiri dengan kokoh.
Disaat-saat guncangan itu hampir merobohkan rumahnya, Zeena merapalkan sebuah mantra. Sebuah mantra yang dapat memperkokoh suatu bangunan, "Eníschysi tou ktiríou!"
"Yang Mulia! Saya merasakan energi mana yang sangat besar dari inti dunia ini!" seru Juerlos saat dirinya diminta oleh Zeena untuk mencari tahu dari mana guncangan itu berasal.
Tentu saja, ketika mendengar perkataan Juerlos Zeena langsung kaget, "Energi mana? Apa itu berarti ini adalah serangan dari Lucis?" gumam Zeena lirih sembari berpikir.
Juerlos mengangguk kecil, "Sepertinya begitu Yang Mulia, karena energi mana yang sebesar ini hanya dimiliki oleh kelima raja iblis dan juga Anda," balas Juerlos penuh keyakinan.
"Ternyata itu yang Lucis inginkan, dia menyerang inti dari planet ini, menimbulkan guncangan yang dahsyat, dan pada akhirnya guncangan itu akan memicu terjadinya tsunami. Menyerang dunia ini melalui bantuan alam, itulah yang ingin dirinya lakukan! Dengan begitu orang-orang mengira ini adalah bencana alam, bukan perbuatan jahat seorang raja iblis," ucap Zeena menafsirkan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Apa?! L–lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Kini Juerlos menjadi takut ketika harus membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya, hingga membuatnya menjadi bingung dengan apa yang harus dirinya lakukan.
"Juerlos, bantu aku untuk evakuasi semua orang yang ada ke tempat yang aman. Lalu setelah itu kita pergi ke inti bumi ini dan hancurkan serangan yang Lucis kirimkan!" balas Zeena memberikan arahan kepada Juerlos. Dengan cepat Juerlos pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia!" seru Si Penjaga Lembah Kematian tersebut.