
Dia mulai berjalan masuk ke dalam dan duduk di kasur empuk itu lalu merebahkan tubuhnya di sana dengan nyaman.
Dia mulai ingin memejamkan mata, namun suara ketukan pintu membuat dia harus kembali membuka kedua matanya.
Marun turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu kamar. Sat baru di buka, dia sudah melihat pelayan tadi membawakan dia makanan di atas sebuah nampan.
"Ini dia makanannya Nona. " Ucapnya ramah.
"Terimakasih, yah? Eum..? "
"Kila, Nona. " Jawabnya memperkenalkan diri.
"Ya! Terimakasih, Mbak Kila. " Ucapnya karena melihat Kila seperti lebih tua darinya.
Marun pun membawa nampan berisi makanan dan kembali masuk ke dalam kamar.
Dia duduk di meja rias nya dan mulai makanan makanannya. Dia menatap satu persatu skincare yang ada di atas mejanya dengan tajam.
"Pasti bekas wanita yang pernah dia ajak kemari! " Ucapnya mendengus dengan pikiran yang sudah bulat jika dia adalah wanita kesekian yang dibawa Aaron ke dalam rumah mewah ini.
Setelah menghabiskan makanannya, Marun pun berdiri dan membuka lemari baju di sana dan tentu dia terbelalak melihat isinya.
Wajahnya menatap tak suka semua baju yang ada di dalam lemari. "Kenapa kebanyakan baju sexy yang ada di sini!! " Dia melihat satu persatu baju itu yang kebanyakan hanya mendapatkan baju yang begitu terbuka.
"Dasar! Ini pasti kelakuan Pria gila itu? Dasar tidak waras! Dia pikir aku mau memakainya apa? " Marun bergidik ngeri saat menemukan pakaian asing di matanya.
"Apa - apaan ini? Kenapa baju ini mirip sekali dengan jaring untuk menangkap ikan di pantai? Apa ini model baru? " Tanyanya sembari memperhatikan Lingerie berwarna merah cerah itu.
Itu bukan yang pertama, dia masih melihat baju mirip jaring ikan itu ada banyak di lemari dan tentu berbeda-beda jenis.
"Astaga! Kenapa ini mirip sekali dengan baju Spider-Man? "
Dia keanehan sendiri melihat pakaian-pakaian yang baru dia lihat. Bahkan dia berpikir kalau pembuat baju-baju itu pasti orang aneh karena menciptakan baju aneh seperti ini.
"Dan ini? Kenapa ini mirip sekali dengan bikini? Hanya saja ini menyambung. "
__ADS_1
Dia melihat semua baju-baju itu tanpa ada yang tersisa. Lalu kembali membelalakkan matanya saat melihat ada banyak juga gaun dan dress mahal di dalam lemari itu.
"Sudah, aku tidak mau melihatnya lagi. Aku bisa-bisa jantungan. " Ucapnya tersenyum getir sembari menutup lemari pakaian itu.
Marun kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan termenung sembari menatap langit-langit kamar berwarna putih.
Namun tak lama dia pun tersadar akan sesuatu. "Ponselku? " Marun baru ingat. Ponselnya di mana?
"Dimana ponselku? Tas ku juga di mana? Aduh, uang dan ponselku ada di tas itu semua. Bagaimana ini kalau sampai hilang? Apa jangan-jangan masih di apartemen pria gila itu? " Marun menerka-nerka.
"Ah! Kalau sampai ada sama dia gimana? Bisa-bisa dia liat-liat ponselku! Bagaimana ini? " Wanita itu bangkit dan terlihat gelisah.
Sedangkan di sisi lain, pria yang tengah Marun gelisah kan kini masih senyum-senyum sendiri di apartemennya. Dia melihat galeri pada sebuah ponsel dan melihat-lihat fotonya. Tak disangka, banyak sekali foto indah yang dia temukan di sana.
"Oh, betapa indahnya dunia ini. " Ucapnya sembari terus melihat foto Marun yang tengah berenang. Wanita itu hanya memakai baju renang biasa berwarna putih yang membuat lekuk tubuhnya terlihat sangat jelas indahnya. Di tambah lagi dia tengah duduk di sisi kolam dan tersenyum ke arah kamera membuat Aaron semakin tak mampu mengalihkan pandangannya.
"Bibir manis itu tak akan pernah aku berikan pada orang lain. " Dia kembali menggeser foto itu dan menemukan sebuah vidio. Karena penasaran, dia pun membuka vidio itu.
“Ayolah kak, hanya sebentar saja berenangnya, yah? ” Ucap seorang bocah laki-laki pada Vidio.
“Dio, jangan paksa kak Marun. Dia tak bisa berenang, kalau sampai Kak Marun kenapa-napa bagaimana? ” Suara Seorang pria dewasa membuat mata Aaron memicing.
"Siapa pria ini? " Aaron terlihat tak suka.
“Ya sudah Run, kau berenang di sisi saja sekali-kali turun ke bawah. Temani Dio. ” Lanjut sang pria.
Kini wajah pria itu pun terpampang di Vidio. Aaron membulatkan matanya saat melihat pria tak asing di matanya.
"Sialan! Dasar duda gatal! " Umpat Aaron geram pada pria itu.
"Bagaimana bisa Marun kenal dengan Henry? Apa mereka juga punya hubungan? Akan ku tanya Bocah itu! " Aaron berdiri dari duduknya dan berjalan keluar kamar setelah mengambil jas miliknya.
Dia pun keluar dari apartemen dan mulai pergi dari sana setelah masuk ke dalam mobil dan memajukan nya.
"Max, suruh Henry datang ke perusahaan ku. " Titahnya di via telpon pada Max.
__ADS_1
“Untuk apa Bos? ” Tanya pria itu mengerutkan keningnya.
Tak biasanya sang bos ingin bertemu dengan adik laki-laki tak sedarah nya itu.
"Jangan banyak tanya, lakukan saja! Aku ingin memarahi bocah itu! " Ucapnya langsung menutup telpon.
Dia semakin melajukan cepat mobilnya hingga akhirnya sampai di perusahaan. Dia pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam perusahaan langsung menuju lift khusus dan menuju lantai paling atas.
Saat dia baru akan duduk, suara seorang pria membuat dia mengalihkan pandangannya.
"Apa yang kalian lakukan?! Apa kalian sudah gila! Max! Kenapa kau menyeret ku seperti seorang penjahat?! " Ucap laki-laki itu memberontak sembari berusaha melepaskan diri.
"Maaf Bos kedua, tapi bos ingin bertemu dengan mu. " Ucap Max langsung mendekati meja Aaron.
"Kak, kenapa kau menyuruh nya untuk menyeret ku seperti tadi? Benar-benar menyebalkan! " Pria itu menggerutu sembari membenarkan jas nya yang kusut lalu duduk.
Aaron tak menjawab. Dia hanya menyuruh Max untuk keluar dari ruangan meninggalkan mereka berdua.
"Ada apa kak? Jangan menatapku seperti ingin memenggal kepalaku? " Tanya Pria itu lagi sembari tersenyum getir ke arah pria yang dia sebut kakak.
"Kenapa kau bisa kenal dengan Marun? "
"Apa? "
.
.
.
.
.
.
__ADS_1