Wanita Milik Casanova

Wanita Milik Casanova
Bab 17


__ADS_3

Mommy Perry menggelengkan kepalanya pelan dengan mata berkaca - kaca apalagi saat melihat darah yang keluar dari leher putranya itu semakin banyak.


Aaron! Apa kau benar - benar menginginkan wanita itu seorang? Mommy hanya takut, kau mengkhianati nya dan membuat dia sakit hati oleh sikapmu. " Gumam Mommy Perry menatap dalam - dalam mata putranya yang begitu mirip dengan sang Suami.


Dia ingin mencari celah kebohongan di sana, tapi anehnya dia tak menemukan apa - apa. Hanya ada tatapan kebenaran, kesungguhan dan keinginan. Hanya itu yang dia temukan.


Mommy Perry kembali menghela nafas panjang dan kembali menatap putranya itu. "Baiklah Aaron, jika kau menginginkan wanita itu maka kau bisa memilikinya. Sekarang lepaskan tangan Mommy. Lehermu berdarah sayang. " Lirih wanita itu dengan berat. Dia terpaksa melakukan ini karena dia juga tak pernah melihat putranya yang dikenal Casanova handal ini menginginkan wanita begitu berlebihan.


Pria itu bermata tajam itu langsung tersenyum. Dia pun melepaskan cengkraman lengannya pada lengan sang Mommy dan menciumnya. "Terimakasih, Mom! "


Mommy Perry tersenyum manis. Dia pun memanggil pelayan untuk membawa kotak Obat agar dia bisa membersihkan luka di leher putranya.


Setelah selesai membersihkan lukanya, Mommy langsung pamit dari sana karena belum menyiapkan sarapan. Setelah mendengar kebenaran dari Henry, dia langsung mendatangi kediaman putranya itu hingga tak sempat membuat sarapan.


Sangat lama Marun menunggu di kamar sendirian sembari menahan rasa gelisah. Dia pun menolehkan pandangannya pada pintu kamar saat mendengar pintu kamar terbuka.


Marun menatap pria jangkung yang tengah berjalan kearahnya begitu pun dengan pria itu. Dia pun naik ke atas kasur dan kembali mengungkung tubuh kecil itu yang masih bersandar di sandaran kasur dan memagut bibirnya kembali dengan kasar, sekarang tanpa perlawanan.


"Cepat mandi, setelah itu kita akan ke kantor. Kau akan bekerja sebagai Sekretaris ku mulai sekarang. " Ucapnya dengan nafas tersengal sembari berdiri dari atas ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Siapkan pakaian untukku. " Titahnya sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi.


"Tapi di kamar ini tak ada pakaian mu! " Jawab Marun sedikit berteriak. Karena memang di kamar itu hanya ada pakaian wanita saja.


"Suruh Kila untuk mengantarmu ke kamar ku! " Titahnya lagi di kamar mandi.

__ADS_1


Marun menghela nafas panjang. Oh, astaga! Baru kali ini dia melihat seorang anak di pukuli habis - habisan oleh ibunya sendiri. Kejadian barusan masih terngiang - ngiang di kepala wanita itu.


Dia pun bangkit dari duduk nya dan berjalan ke arah luar kamar untuk menemui Kila di dapur. Setelah dia menemukan wanita berusia 26 tahun itu, dia pun menyuruhnya untuk mengantarkan dia ke kamar Aaron.


Sesampainya di sana, Marun langsung masuk dan langsung berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian milik pria itu. Setelah selesai memilih, dia pun kembali ke kamar dan belum melihat pria itu keluar dari kamar mandi.


"Dia mandi lama sekali. Cih! Bisa saja para pria mengatai wanita selalu mandi lama, lalu mereka bagaimana? Entah apa yang mereka lakukan hingga mandi begitu lama? "


Setelah selesai menggerutu, barulah pria itu keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk mini yang di ikat ke pinggang.


Wanita itu membulatkan matanya. Bukan karena malu melihat pria itu hanya menggunakan handuk, tapi karena melihat pria itu memakai handuk yang sama dengan yang kemarin malam dia pakai.


"Sudah cukup melihat, nya? " Ucap pria itu tersenyum miring.


"Kenapa? Ingin aku membukanya? Baiklah, aku tak keberatan! " Tantang pria itu sudah mulai melepaskan ikat di handuknya.


Marun membulatkan matanya dan langsung berteriak. "Apa yang kau lakukan?! Dasar tidak tau malu!!! Aku hanya ingin bilang kalau handuk yang kau pakai adalah handuk yang aku kemarin pakai!!! Bukan menyuruhmu untuk membukanya! Dasar gila!! " Teriaknya dengan membabi - buta saat dia akan kembali melihat benda gagah dan berotot itu.


"Lalu kenapa? Mana bajuku? Nanti kau akan tergoda dengan tubuhku. " Ucapnya dengan genit.


"Dih! Aku tidak seperti mu, yah! Dasar mata keranjang! Ini bajunya! " Marun menyimpan baju yang dia bawa di atas kasur.


Pria itu langsung cemberut melihat wanitanya menyimpan bajunya di atas kasur.


"Tak ingin memakaikannya pada, ku? " Tanyanya dengan nada manja, namun wajahnya masih terlihat cemberut.

__ADS_1


Wanita itu mengepalkan kedua tangannya geram. Dia pun membawa kemeja yang baru saja dia taruh dan melemparkan kemeja itu tempat di wajah Aaron.


"Pakai sendiri sanah! Kedua lengan mu masih utuh!! " Sergahnya dengan kesal.


Aaron mengambil kemejanya lalu menatap sebal wanita yang tengah menatapnya dengan tajam. "Ya sudah kalau begitu. "


Dia berjalan ke arah ranjang dan ingin memakai baju. Namun wajahnya mengkerut saat melihat wanita itu masih diam dan tak berniat untuk mandi.


"Kau tak ingin mandi? " tanyanya.


Marun kembali mendelik. "Sudah aku bilang handuk yang kau pakai adalah handuk yang aku pakai kemarin! Dan tidak ada lagi handuk di kamar mandi. Padahal kamar mandinya sangat besar tapi handuk hanya bermodal satu! " Jawabnya.


"Ya, sudah kalau begitu. Tunggu saja sampai aku selesai. " Pria itu tersenyum jahil dan berniat membuka kembali handuknya di depan Marun.


"Rasa malu mu memang sudah mati!! " Teriaknya dan langsung lari ke dalam kamar mandi saat melihat pria itu benar - benar membuka handuknya.


Aaron hanya tertawa sumbang melihat kelakuan menggemaskan dari wanita yang sudah dia tandai sebagai miliknya.


Tak lama, setelah dia selesai memakai baju dan tengah memakai dasi, Marun keluar dari kamar mandi masih dengan menggunakan baju tidur tadi. Dia pun membuka lemari pakaian dan membawa pakaian baru dari dalam lemari termasuk Segitiga bermuda dan pembungkus dua gunung kembarnya.


Dan tentu saja itu semua tak luput dari pandangan pria ini. Setelah selesai semuanya, dia pun keluar dari kamar ingin membawa arloji di kamarnya.


Mereka berdua sudah selesai, dan kini Aaron tengah berdiri di atas tangga menunggu kedatangan Marun. Marun yang melihat itu mendekatinya dan bertanya pelan.


"Apa yang kau lakukan? " Tanyanya pelan dan terdengar polos. Mendengar nada halus itu membuat Aaron kembali menggigit bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2