Wanita Milik Casanova

Wanita Milik Casanova
Bab 19


__ADS_3

"Aahh! " Marun menjerit saat tubuhnya kembali di kungkung oleh pria itu.


"Apa lagi mau mu? Lepaskan! "


"Diam lah, ocehan mu membuat Adikku terusik. Kau harus menenangkan nya lagi! "


Tanpa banyak bicara lagi. Dia langsung membuka kancing baju bagian atas milik Marun dan membuka resleting jeans miliknya.


"Aku sudah bilang padamu tidak mau di sentuh lagi! Jadi jangan sentuh aku! " Marun berusaha memberontak agar pria itu melepaskannya.


"Diam lah, kau membuatku semakin bergairah! "


Aaron memberikan sentuhan - sentuhan kecil pada tubuh Wanitanya agar cepat membuat dia basah. Seperti mencium bibir dan saling bertukar saliva, lalu mencium leher dan memberi jejak di bagian dadanya.


Sampai akhirnya dia pun ikut membuka resleting celananya dan memperlihatkan Adik gagahnya yang sudah tegak berdiri siap menusuk inti kenikmatannya.


Marun membulatkan matanya. Dia kembali memberontak agar dia di lepaskan dan agar pria itu tak melanjutkan aksinya saat di tempat kerja.


Namun dia langsung terdiam saat benda keras itu masuk seluruhnya ke dalam inti kenikmatannya.


Pria itu pun langsung memompa dengan begitu semangat hingga tak bisa menahan ******* maskulinnya saat kembali merasakan liang kenikmatan milik wanita itu.


Sedangkan Marun hanya menggigit bibir bawahnya untuk menahan ******* yang ingin keluar dari mulutnya.


"Jangan di tahan, keluarkan saja. Aku ingin mendengar ******* merdu mu. " Bisik nya semakin mempercepat Pergerakannya.


Karena wanita ini sangat bandel, dia pun ikut menggigit bibir milik wanita itu agar terbuka.


"Aah.. " Akhirnya satu ******* lolos dari mulut wanita itu.

__ADS_1


"Aah sayang, indah sekali suaramu itu. Ayo lebih kencang! " Aaron semakin bergairah dan bernaf*u mendengar suara ******* yang baru dia dengar dari mulut wanitanya.


"Aahh.. Ahhemm.. Pelan.. Pelan.. Aahh. "


Hingga berselang beberapa saat Marun sudah melakukan pelepasan untuk yang pertama, dia semakin mencengkram kuat bahu pria itu saat permainan yang dia lakukan bertambah semakin cepat hingga membuat tubuhnya terhentak.


Dan tak berselang lama kemudian, mereka pun melakukan pelepasan bersama - sama. Tubuh wanita itu lemas seketika setelah merasakan sesuatu yang hangat masuk ke dalam dengan begitu dasyatnya.


"Suara mu benar - benar sangat indah. Itu akan menjadi candu untukku. " Aaron kembali merengkuh tubuh lemas Marun dan mencium kembali bibir dan lehernya.


Bruk!


"Aw! Sayang, sakit! " Rengek pria itu saat dada nya yang terbuka di pukul dengan begitu kuat menggunakan sepatu hak milik Marun.


"Sayang kepala mu! Apa - apaan kau ini? Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu di tempat kerja mu, hah?! " Sergah wanita itu sembari mengatur nafasnya yang masih tersengal.


"Kenapa memangnya? Tapi kau menikmati nya, kan? Hanya saat pertama kali kau melakukan itu kau tak merasakan apa - apa, tapi setelah kau tak perawan kau bisa merasakan rasa nikmatnya. " Pria itu tersenyum genit dengan menaik - turunkan alisnya.


"Bicara seperti itu lagi ku tendang burung kecilmu itu! "


"Apa?! " Pria itu membulatkan matanya tak percaya saat batang pusaka miliknya yang begitu besar menantang, gagah dan berotot itu di katakan kecil.


"Apa kau buta?! Berani sekali kau mengatakan batang yang besar, gagah dan berotot ini kecil! Wah, sepertinya kau menantang ku untuk melakukannya lagi denganmu! " Pria itu benar - benar tak Terima di katai kecil. Dia pun kembali beranjak dari duduknya dan mulai mendekati Marun yang tengah memperbaiki bajunya.


"Kau itu terlalu percaya diri! Para wanita itu di buta kan oleh wajahmu, makanya mereka jadi sama - sama gila seperti mu! " Marun berbicara ketus saat melihat pria itu kembali mendekatinya.


"Cih! Sepertinya kau benar - benar penasaran dengan ukuran milikku, jika kau ingin membuktikan ucapan mu salah, kau bisa memasukkannya ke dalam mulutmu dan merasakan apa dia kecil atau besar. " Aaron tersenyum penuh arti. Dia semakin mendekati wanita itu yang kini tengah panik sembari menutup mulutnya menggunakan kedua tangan.


"Padahal kau seharusnya sudah tau bagaimana ukurannya saat kau meremas nya waktu itu, kan? "

__ADS_1


Seketika tubuh nya bergidik ngeri. Dia masih sangat ingat bagaimana besarnya milik pria itu saat dia tak sengaja meremas nya.


"Karena aku pernah tak sengaja meremas nya, jadi aku tau kalau itu kecil! " Marun masih kukuh kalau milik pria itu kecil.


"Sialan! " Aaron mengumpat.


"Baru kali ini ada wanita yang berani mengatai adikku kecil. " Pria itu tersenyum getir dan langsung menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Menatap wanita yang tengah acuh tak acuh padanya.


Dia tiba - tiba merasa frustasi dan tak percaya diri saat miliknya yang besar gagah perkasa itu dikatai kecil.


Pria itu berdiri dari duduknya dan berjalan ke dalam sebuah ruangan dimana ruangan itu adalah kamar pribadinya saat dia lembur di kantor.


Marun mendengus kesal saat pria itu pergi dari sana. Tak lama setelah pria itu masuk ke dalam, datanglah seorang wanita masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu.


Mereka berdua sama - sama mengerutkan keningnya saat ada wanita yang berani masuk ke dalam ruangan bosnya tanpa mengetuk pintu.


Sedangkan wanita itu mengerutkan keningnya karena melihat ada wanita lain di ruangan Bosnya. Bahkan dia semakin memicingkan matanya saat melihat rambut wanita itu sedikit acak - acakan.


"Maaf, Tuan Aaron kemana, yah? " tanya wanita itu sedikit sinis.


Marun mengangkat kedua bahunya. "Dia masuk ke dalam ruangan itu, dan sekarang belum keluar. " Tunjuk Marun pada pintu ruangan yang baru saja Aaron masuki.


Wanita yang membawa beberapa berkas di tangannya itu menatap penampilan Marun dari atas sampai bawah.


Dia siapa? Kenapa Tuan membawa wanita baru lagi? Ah sial, sepertinya dia lebih hebat menggoda Tuan dari pada aku. " Gumam Wanita itu kesal.


Ya, wanita itu adalah salah satu wanita yang pernah Aaron tiduri. Namun hanya satu kali dan wanita itu pun sudah tak perawan. Dan parahnya lagi, Aaron sama sekali tak merasa puas saat di layani oleh nya hingga membuat pria itu tak mau dilayani olehnya lagi.


Marun yang sadar terus di tatap oleh wanita itu dari atas sampai bawah pun ikut menatapnya tajam dan memiringkan kepalanya ke arah kiri.

__ADS_1


"Ada apa, Nona? Apa ada masalah? " Tanyanya datar.


"Ti-Tidak, tidak ada masalah. Hanya ingin bilang, kau cantik. "


__ADS_2