Wanita Milik Casanova

Wanita Milik Casanova
Bab 22


__ADS_3

Namun Marun hanya diam dan kembali memakan coklatnya menatap kearah lain. Sialan! Setelah melihat pesan tadi dia jadi begitu jijik menatap wajah pria itu.


Dia sangat menyesal karena telah menyebutnya tampan barusan.


Pria itu mengerutkan keningnya dan mengambil ponselnya yang masih tergeletak di bawah. Dia pun membuka nya dan langsung membulatkan matanya saat melihat ada pesan masuk dari Sofi.


Oh, Sial Wanita ini! " Aaron mengerang kesal dalam hati saat membaca semua pesan yang wanita itu berikan padanya.


Dia pun kembali menatap wajah Marun yang terlihat acuh sembari membaca bukunya.


"Kau marah? " Tanyanya melihat Marun yang sama sekali tak mau menatapnya.


"Untuk apa aku marah? " Tanya wanita itu balik bertanya.


"Aku sama sekali tak marah dan tak peduli akan ada berapa banyak wanita yang membuka selangkangannya lebar - lebar di hadapanmu. Tapi, aku hanya merasa jijik melihatnya. " Marun tersenyum kecut.


Apa harga diri wanita zaman sekarang begitu murah? Bahkan bisa dengan mudahnya wanita itu mengirimkan foto telanjangnya dengan pose yang begitu menggoda.


"Kau tau? Kau dan para wanita yang pernah kau tiduri, termasuk aku!! Aku benci itu semua! " Marun menatap wajah pria itu begitu tajam. Namun pria itu hanya menatapnya dengan tatapan yang tak dapat dia artikan.


Dia muak, akhirnya dia pun keluar dari sana dan tak memperdulikan apa - apalagi.


"Tunggu! Marun!! " Aaron langsung turun dari sofa dan mengikuti langkah cepat Marun yang meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Pria itu berlari semakin cepat saat melihat Marun mulai masuk ke dalam Lift. Dan untungnya, dia bisa menahan pintu lift sebelum tertutup seluruhnya dan masuk ke dalam.


Dia menatap tajam dan dalam kedua manik mata wanita itu yang hanya menatap nya datar.


"Kau mau kemana? " Tanyanya semakin mendekati tubuh Marun.


"Lakukan sesuka anda Tuan. Karena pastinya aku akan mengalami hal yang sama seperti para wanita mu itu. " Marun berbicara dengan tenang. Namun terdapat nada ejekan di dalamnya.


"Hal apa? " Pria itu malah mengerutkan keningnya.


"Sebaiknya tidak perlu aku ucapkan karena anda pun sudah tau. Sebaiknya kita keluar, liftnya sudah ada di lantai bawah. " Dia melirik ke arah luar dan langsung keluar dari sana tanpa memperdulikan Aaron.


Pria itu tak tinggal diam. Dia menjegal lengan Marun dan menyeretnya ke sebuah tempat. "Apa yang kau lakukan?! Kau membuat orang - orang menatap kita! " Pekiknya berusaha memberontak saat pria itu terus membawanya entah kemana. Apalagi saat melihat para karyawan lain menatap mereka.


Kini Aaron lah yang tak peduli. Dia terus menyeret Marun hingga sampai di parkiran. Dan tentu dia pun langsung memasukkan tubuh wanita itu ke dalam Mobilnya.


"Apa maksud ucapan mu tadi? "


"Lakukan sesukamu, karena setelah kau bosan dengan tubuhku. Maka kau akan membuang ku ke tempat sampah. " Lagi - lagi wanita itu tersenyum kecut.


"Aku hanya mainan mu, jadi jangan terlalu memperlakukan ku layaknya aku ini memang wanita terakhir di hidupmu. Karena aku tau, masih banyak wanita-mu di luar sana yang jauh lebih baik dari ku. Jadi sebaiknya, anda lebih berhati - hati Tuan. Jangan sampai, anda jatuh cinta pada saya. " Ucap Marun panjang lebar. Dia tersenyum miring di akhir kalimat.


"Apa yang kau pikirkan sungguh salah. Aku sudah bersumpah di hadapan Ibuku sendiri, dan dia boleh membunuhku di hadapan mu jika aku melanggar sumpah ku. " Pria itu bicara tenang. Namun raut wajahnya sama sekali tak berubah.

__ADS_1


"Sumpah? Apa? Kau bersumpah jika aku adalah wanita terakhir di hidupmu? Maaf, tapi aku tak akan terlebih dahulu percaya jika hanya di ucapkan saja. Semua orang bisa mengucapkan sumpah, tapi belum tentu mereka bisa melakukannya. Jadi, yang aku butuhkan sekarang adalah pembuktian, bukan perkataan! " Wanita itu kembali menatap tajam pria di atasnya. Dia sudah benar - benar muak dengan Casanova ini! Sungguh!


"Kau ingin pembuktian? Maka kau akan mendapatkannya. Dan mulai saat ini, detik ini dan seterusnya. Kau milikku, jika kau berani mendekati pria lain atau ada yang berani mendekati mu, maka aku tak akan segan - segan membunuhnya! " Ucap Aaron penuh keyakinan.


"Begitupun denganku, jika kau melanggar sumpah mu. Maka aku tak akan segan - segan pergi dari hidupmu dan memberitahu semuanya pada Ibumu. Tak peduli walaupun ibumu akan membunuhmu, biar saja pria seperti mu mati! " Marun tak mau kalah.


"Kita lihat saja nanti, jika aku menang. Maka kau harus menikah denganku dan melahirkan 9 anak untukku! " Pria itu menyeringai lebar.


"Bajingan! Kenapa tidak kau saja yang hamil, hah?! Walaupun kau memberikan semua harta mu pada para wanita di luar sana, jika yang kau inginkan adalah 9 anak mereka pasti akan langsung memukuli mu! "


Segampang itu ini mulut Kecebong bicara? Dia pria, mana mungkin bisa mengerti perasaan seorang wanita yang tengah hamil dan akan melahirkan! Dasar pria gila!


Pria itu tersenyum. Dia pun melepaskan tubuh Marun dan langsung keluar dari dalam mobil. Wanita itu yang masih kesal dengan mulut komat kamit tengah memperbaiki rambutnya yang terlihat berantakan.


Dia pun turun dari mobil dan mendekati Aaron yang masih menunggunya di depan pintu Lift. Setelah lift terbuka, mereka pun masuk ke dalam lift dan menekan tombol 40.


Tak lama setelah Lift naik, Marun tersentak saat tubuh kecilnya di banting ke dinding lift hingga langsung membuat tubuhnya lemas. Sebuah ciuman buas pun langsung diterima olehnya dari pria itu.


Ciumannya benar - benar buas dan brutal hingga membuat Marun kewalahan untuk meladeni nya. Saat ciuman mereka melonggar, Marun mendorong perlahan bahu kokoh pria itu dengan tangan bergetar dan nafas memburu.


"Apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau di sini ada CCTV? "


"Tak perlu khawatir. Hanya orang - orang tertentu yang ku pilih untuk mengawasi CCTV di sini. " Jawab Aaron kembali ingin mencium bibir manis wanita itu.

__ADS_1


Namun pintu Lift sudah terbuka dan memperlihatkan Max yang sedikit terkejut melihat Bos dan Nona nya itu. Awalnya dia ingin bicara pada Bosnya setelah pintu Lift terbuka, tapi siapa sangka yang dia lihat malah seperti ini.


Marun yang lagi - lagi malu karena aksi mereka tertangkap basah lagi Oleh Max langsung berusaha melepaskan diri dari cengkraman Aaron.


__ADS_2