
"Kenapa kau bisa kenal dengan Marun? "
"Apa? " Pria berusia 27 tahun itu mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan sang kakak.
"Aku tanya, kenapa kau bisa kenal dengan Marun? " Tanya pria itu lagi.
"Kakak juga kenapa bisa kenal dengannya? " Bukannya menjawab, Henry malah balik bertanya.
"Ku pukul kau jika bertanya lagi! Aku tanya, kenapa malah kau balik bertanya? " Aaron sudah menyiapkan tinjuan nya untuk mendarat di pipi adik kesayangannya itu.
"Eh! Sabar kak! Iya-iya aku jawab. Dia adalah mantan karyawan ku di perusahaan. " Jawab Henry refleks melihat lengan kakak nya itu sudah terangkat siap memukulnya.
Aaron kembali menarik lengannya dan menatap penuh selidik Adiknya itu. "Mantan karyawan? " Tanyanya.
Henry mengangguk. "Ya, tapi baru satu tahun bekerja dia harus mundur karena ibunya meninggal. "
"Ibunya meninggal? "
"Ya! Lalu setelah itu dia pun memutuskan untuk berhenti bekerja, entah apa alasannya. Tapi melihat dia begitu serius meminta berhenti, aku pun mengizinkan dia untuk berhenti. " Jelasnya.
"Lalu kenapa kalian bisa sedekat itu? Bahkan Dio pun begitu akrab dengannya? " Tanya pria itu semakin menatap penuh selidik dan tajam wajah adiknya itu.
"Santai saja menatapku, memangnya ada apa? Apa kau kenal juga dengan Marun? " Henry mulai penasaran. Namun melihat tatapan kakaknya itu semakin tajam dan seperti ingin memenggalnya, dia pun diam dan tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Baiklah, karena Dio menyukainya. Saat pertama bertemu, bocah itu sudah menyukai Marun dan selalu ingin bermain dengannya. Dia juga bahkan menyuruhku untuk menikahi Marun karena Dio ingin Marun menjadi Ibu sambungnya. "
Ya, Henry. Adik tak sedarah yang sangat Aaron sayangi. Dia di bawa masuk ke dalam keluarga Addison oleh ayahnya saat usia Henry baru menginjak 2 tahun dari panti asuhan. Karena Ayahnya menyukai Henry, dia pun membawa Henry dan menjadikan dia Adik untuk Aaron. Mereka berdua saling menyayangi satu sama lain begitu pun dengan Aaron yang selalu melindungi Henry jika ada yang menganggu nya.
Dan di saat usia pria itu 24 tahun, dia pun memutuskan untuk menikah dengan wanita yang dia cintai. Namun siapa sangka? Saat usia pernikahannya baru akan menginjak satu tahun, mereka berdua memutuskan untuk bercerai dan Henry yang mengurus Dio dari dia bayi hingga saat ini. Bahkan sampai saat ini Henry jadi begitu benci dan menaruh dendam pada Mantan istrinya itu.
Sejak usianya 20 tahun, dia berusaha untuk mendirikan usahanya sendiri. Dan di saat usianya 24 tahun, dia pun sukses dan menjadikan perusahaan menjadi perusahaan raksasa. Dan Itu semua tak akan terjadi cepat jika bukan karena ketekunan, perjuangan dan dukungan dari Aaron.
"Apa kau tertarik padanya, kak? " Tanya Henry mulai tak memperdulikan tatapan membunuh kakaknya.
Karena baru pertama kalinya, sang kakak menanyakan seorang wanita didalam hidupnya.
"Kami menghabiskan 1 malam. " Ucap Aaron dengan jujur yang sontak membuat Henry membelalakkan kedua matanya tak percaya.
"Ya, dia wanita yang sangat terjaga. Hingga dia menjadi satu-satunya wanita yang berani mengatai ku gila, mesum dan tak tau malu. Bahkan dia juga menjadi satu-satunya wanita yang berani menamparku. Tapi dia juga, satu-satunya wanita yang pernah aku perawani. " Ucapnya panjang lebar sungguh membuat pria di depannya menggeleng tak percaya.
"Kau gila kak! Kau berani merusak masa depan gadis tak berdosa?! Ah, untuk kali ini aku kecewa denganmu! " Pria berusia 27 tahun itu menatap kearah lain dan enggan menatap wajah kakaknya itu setelah mendengar apa yang sudah dia lakukan.
"Lalu kemana kau membuang wanita itu? " Tanyanya kembali.
"Ck! Kau pikir aku sekejam itu? Aku tak membuangnya. Tidak mungkin aku melakukan itu, mau bagaimana pun juga dia adalah satu - satunya wanita yang aku tiduri tanpa pengaman. Bagaimana kalau dia hamil anakku dan pria lain menikahinya? Aku tak rela anakku memanggil pria lain dengan sebutan Daddy! " Aaron berdecak kesal mendengar adiknya bisa berpikir seperti itu tentang dirinya.
"Ya, kan biasanya seperti itu kak. Jadi memang benar, kau tertarik padanya, kan? Karena tak biasanya kau begitu peduli pada wanita yang sudah kau tiduri. "
__ADS_1
"Ya! Aku tertarik padanya bahkan saat pada pandangan pertama. Rambut, bibir dan kakinya membuat Adikku terus gelisah saat memikirkannya. Aku bahkan tak bisa melupakan bagaimana rasanya wanita itu, ****! Kau pasti tau rasanya saat bercinta dengan orang yang membuatmu tertarik, dan rasanya.. ah! Sungguh tak bisa aku ungkapkan dengan kata. " Pria itu tersenyum penuh arti. Tapi memang apa yang dia katakan, rasa tubuh milik wanita itu lebih nikmat dan lebih tak bisa dia lupakan dari pada wanita lain.
"Sepertinya dia telah membuatmu candu, hingga tanpa sadar kau mengapit kedua kakimu. Bahkan kau tak bisa mengendalikan adikmu sendiri di tempat umum dan membuat celana mu menggembung. Jika perawan melihat itu kau pasti akan di katai mesum! " Henry menyeringai saat mengingat cerita dari Max tentang kakaknya itu yang mengeras saat melihat seorang wanita sederhana.
Mendengar ucapan adiknya, Aaron langsung melotot dan menoyor kepala adiknya itu dengan kesal. "Aw! "
"Dari mana kau tau itu? " Tanya pria itu tajam.
"Max yang menceritakannya padaku. " Pria itu menyengir lebar memperlihatkan deretan gigi putih dan rapihnya.
"Cih! Keluar kau! Benar - benar adik lucknut! " Usir Aaron sembari berdecih dan mendelik menatap wajah adiknya itu.
Sedangkan Henry, dia hanya berdiri dari kursi sembari tertawa cukup keras melihat kelakuan kakaknya.
"Sepertinya Casanova akan segera insaf! " Teriaknya di ambang pintu sebelum akhirnya dia berlari dari sana setelah melihat kakaknya itu bangkit dari kursi dan hendak mengejarnya.
"Adik sialan! Bisa - bisanya dia bicara seperti itu? Cih! " Aaron kembali berdecak.
Dia kembali menatap ponsel milik Marun saat ada sebuah pesan masuk. Pria itu menatap heran nama kontak tersebut dan membaca pesannya.
“Hei, anak haram! Kau punya tidak? Aku mau 2 juta! Cepat!! ” Isi pesan dari nomor tersebut membuat Aaron menatapnya tajam.
"Siapa yang berani mengirim ini pada wanitaku? "
__ADS_1