Wanita Milik Casanova

Wanita Milik Casanova
Bab 26


__ADS_3

Aaron pun menghentikan Vidio nya. Dia tersenyum puas setelah mendengar semua ucapan wanitanya saat bersama Sofi.


Dia menatap wajah wanita yang masih menutup kedua matanya itu karena malu dengan tersenyum sinis.


"Lagi - lagi kau mengakui kehebatan ku. " Ungkapnya tersenyum puas.


"Sudah aku bilang! Aku bicara seperti itu karena aku kesal di katai pelacur! Aku sama sekali tak merasa seperti apa yang aku katakan! " Wanita itu mencoba membela diri.


"Jujur saja, kau sudah mengakui kehebatan dan keperkasaan ku 2 kali Nona. Apa kau mau merasakannya lagi, hem? Agar kecebong lincah ku ini bisa dengan cepat membuat perut rata mu membuncit. " Ujar pria itu sembari mengelus perut rata Marun.


"Lepaskan! Siapa yang ingin hamil anakmu?! Kenapa kau tidak memilih para wanita yang sudah kau tiduri saja sebagai ibu dari anak - anakmu?! "


"Aku tidak mau mereka. Mereka akan membunuh anakku sebelum dia lahir, jadi aku hanya ingin wanita bertanggung jawab seperti mu yang hamil anakku. "


"Dih! Aku tidak mau anakku nanti menuruni sifat mu yang suka gonta - ganti pasangan! Bisa - bisa hobinya selingkuh, tidak - tidak! Aku tak akan membiarkan itu terjadi! " Wanita itu menggelengkan kepalanya kuat saat membayangkan jika anaknya nya nanti akan menjadi Casanova seperti ayahnya.


"Kau masih belum percaya padaku? " Tanya Aaron datar. Padahal dia sudah sungguh - sungguh akan menjadikan Marun sebagai satu - satunya wanita di dalam hidupnya sekarang. Tapi wanita itu sama sekali belum menaruh kepercayaannya untuk pria ini.


"Tunjukkan perjuanganmu, maka aku akan percaya dengan semua ucapan mu. " Ucap Marun ingin beranjak dari pangkuan pria itu.


Namun suara nada dering ponsel membuat kedua pasang mata wanita itu teralih menuju ponsel milik Aaron. Dia menyambar ponsel nya dan melihat siapa yang menelpon.


"Sofi? " Marun mengerutkan keningnya saat melihat nama wanita menyebalkan tadi.


"Tidak perlu di angkat. " Ucap Aaron.


Karena penasaran apa yang akan wanita itu katakan, Marun pun mengangkat telponnya dan mengaktifkan Speaker.


“Tuan, siapa wanita yang bersama dengan anda di perusahaan? Apa dia wanita baru anda? Kenapa Tuan? Apa anda sudah bosan pada tubuhku? Apa ada yang berubah dengan tubuhku? ” Tanya wanita itu panjang lebar hingga membuat Marun mengerutkan kening dan memiringkan kepalanya ke kiri.

__ADS_1


“Tuan, jawab aku. Apa anda marah padaku? Jika aku melakukan kesalahan maafkan aku. Tapi jelaskan dulu siapa wanita tadi? ” Lanjutnya.


Bersamaan karena Marun punya dendam pada wanita ini. Dia menyeringai lebar.


"Aduh, anda masih menanyakan siapa aku? Anda ini benar - benar bodoh, yah? " Akhirnya Marun berucap saat mendengar pertanyaan terakhir wanita itu.


“Sialan! Kau lagi - kau lagi! Di mana Tuan Aaron? Kenapa kau kembali menyentuh ponselnya, hah?! ”


"Dia? Ada, kenapa? "


“Berikan ponselnya pada nya! Aku ingin bicara padanya, bukan padamu! ” Sungut wanita itu.


"Tapi Nona, dia tengah sibuk. Dan lagi dia juga tak mau di ganggu. "


“Aku tidak peduli! Aku hanya ingin bicara pada nya bukan bicara padamu! Dasar tak sadar diri! ”


Lagi - lagi Marun menghela nafas pasrah. "Aduh, Nona. Make up itu sangat tebal, yah? Hingga membuat dirimu lupa akan dirimu yang sebenarnya. "


“Tuan! Jadi benar dia ini Wanita anda?! ” Sergah Sofi tak Terima.


"Ayolah sayang, kemari! Aku sudah tidak tahan! " Titah pria itu tak terbantahkan.


Namun yang di panggil 'Sayang' malah terdiam sembari menatap takut padanya. Sedangkan pria itu menatapnya dengan tatapan begitu buas dan benar - benar ingin mencicipinya.


“Tuan! ”


"Apa yang mau ka— Emm! " Ucapan Marun terhenti saat bibir tebal pria itu kembali memagut bibir mungilnya.


“Apa yang kalian lakukan?! ” Sofi semakin gelisah saat dia tak sengaja mendengar suara decapan yang cukup keras. Dan dia pun sudah tau kalau mereka tengah berciuman.

__ADS_1


"Aahh.. " Suara ******* yang lolos begitu saja dari bibir Marun saat pria itu menyesap lehernya membuat Sofi semakin kepanasan.


"Aahemm.. Pelan - pelan.. " Wanita itu benar - benar mendesah saat lengan besar pria itu membuka kasar kancing bajunya dan kembali menghisap dadanya dengan rakus.


Lengan pria itu pun terangkat dan mematikan telpon karena suara dari sebrang membuat dia terganggu. Mereka pun kembali melanjutkan kegiatan panas mereka hingga Marun terkulai lemas masih di pangkuan pria itu dengan nafas yang sudah memburu.


Marun merintih kesakitan sembari memegangi bahunya yang di gigit begitu kuat oleh pria itu dengan alasan gemas dengan tubuhnya.


Dia benar - benar menyesal karena mau mengangkat telponnya. Karena akhirnya menjadi seperti ini membuat dia semakin kesal.


Aaron menatap ke bawah, melihat wanitanya yang masih bersandar di dadanya masih mengatur nafasnya.


"Kau lelah? " Tanyanya.


Tapi Marun tak menjawab. Namun dia malah mencubit dengan keras pinggang keras pria itu hingga membuat dia meringis karena kesakitan dan kepanasan.


"Sayang! Sakit, kenapa kau mencubit ku? " Tanya pria itu kembali mengusap pinggangnya.


"Bagaimana kau bisa punya rekaman vidio ku dengan wanita itu? " Tanya Marun.


"Sudah aku bilang tadi, kan? Max tengah berada di bagian CCTV biasa untuk mengeceknya, Namun saat melihat ada Sofi yang masuk ke dalam perusahaan bersamaan nya dengan mu, dan melihat kalian bertengkar. Dia pun merekamnya dan mengirimkan nya padaku. " Jawab Aaron.


"Oh, ya? Nanti kita bisa lihat apartemen mewah yang kau inginkan. " Lanjut nya.


"Apa? " Marun membulatkan matanya dan langsung menatap wajah pria itu.


"Kau-Kau benar - benar ingin membeli apartemen mewah? " Tanya Marun tak percaya. Padahal dia hanya berbual agar membuat Wanita tadi kesal dan merasa tersaingi olehnya.


"Iyah, bukannya kau tadi bilang ingin apartemen? Dan lagi, kau juga bisa memilih pulau cantik dan indah yang kau suka. "

__ADS_1


"Tunggu! Aku hanya bicara saja, ak-aku tak ingin benar - benar membeli itu semua! " Wanita itu gelagapan. Dia lupa jika pria ini crazy Man, dia juga Crazy Many yang bisa membeli apa saja yang dia inginkan.


"Tak apa jika kau benar - benar ingin itu semua. "


__ADS_2