
Setelah selesai mereka sarapan, tak lama datanglah Max ke sana sembari menenteng sebuah paper bag berwarna putih di tangannya. Dia menunduk hormat dan memberi sapaan pada kedua Bos barunya.
"Selamat pagi Bos, nona! " Sapa nya dengan tersenyum.
"Hem."
"Selamat pagi, Max. " Jawab Marun ikut tersenyum. Sepertinya dia sudah benar - benar memaafkan pria bermata empat itu.
"Kenapa? " Tanya Aaron sembari menyeka mulutnya menggunakan Tissue.
"Aku hanya ingin memberikan ini pada Nona Marun, Bos! Ini pemberian dari Nyonya Bos. " Jawab Max sembari meletakkan paper bag itu di dekat Marun.
"Apa itu Max? Tumben sekali Mommy memberikan hadiah? "
"Aku tidak tau Bos, Nyonya Bos melarang ku untuk membukanya termasuk dirimu. Hanya Nona Marun yang dia izinkan untuk membukanya. "
Aaron berdecih kesal. "Cepat buka paper bag nya. " Titahnya pada Marun.
Dengan ragu, Marun membuka Paper Bag itu dan mengeluarkan sesuatu yang membuat Aaron langsung membulatkan matanya begitu pun dengan Max.
"Wes Bos! Itukan, Cincin punya Nyonya Bos! " Ujar Max kaget.
Pria itu tak menjawab dan malah mendekati Marun untuk melihat secara jelas cincin itu.
"Ini indah sekali, Kenapa di berikan padaku? " Tanya Marun memperhatikan dengan kagum cincin berbalut lapisan intan dan rubi itu.
"Pakailah, sini. Biar ku bantu pakaikan. " Aaron mengambil cincin yang masih ada di dalam kotak persegi itu dan membawanya.
Dia berjongkok di samping kiri Marun dan memasangkan cincin itu tepat di jari manis mungil milik wanitanya. Dan untunglah, cincin itu sangat pas di tangannya dan terlihat indah terlilit di jari ramping dan lentiknya. Dia memandangi cincin itu dan tersenyum puas.
"Ternyata kau sangat langsing sama seperti Mommy. " Ucapnya mendongak dan menatap wajah Marun.
Max yang melihat adegan itu hanya bisa mengungkap rasa kekagumannya di dalam hati.
Bukankah, sama saja kalau Bos ini sedang melamar Nona Marun? Itukan cincin turun temurun milik keluarga Edison untuk menantu perempuannya. " Gumam Max sembari memotret diam - diam momen penting dan langka itu.
__ADS_1
"Max! Kenapa kau memotret kami? " Marun yang melihat Max memotret mereka refleks menoleh padanya.
"Hehe, ini momen penting Nona. Harus di abadikan. Sebagai kenang - kenangan. " Ucapnya nyengir sembari memperlihatkan hasil potretannya.
Aaron menghela nafas dan berdiri. Dia membenarkan baju dan dasinya. "Kau sudah selesai? Kita akan berangkat sekarang. " Ucapnya.
Marun mengangguk. Dia pun berdiri dan mereka pun keluar dari dana dengan berjalan beriringan. Terkecuali Max yang berjalan di belakang masih tersenyum karena tak bisa menahan rasa bahagianya di saat melihat sang Bos memasangkan jari pertunangan khusus milik keluarga Edison.
Di perjalanan, tak ada yang bicara sama sekali kecuali suara deruan mesin mobil. Namun yang menjadi rasa risih dan tak nyaman nya adalah Aaron. Kenapa? Pria itu terus saja menatap kearahnya. Kadang dia tersenyum genit, sinis, menatapnya tajam dan seakan ingin melucuti nya saat itu juga.
"Kenapa Bibi mu meminta uang padamu? " Akhirnya dia membuka mulut setelah cukup lama diam sembari menatap wajah Marun.
"Aku tidak mau membahasnya. Mereka hanya ingin memeras ku. " Jawabnya tanpa menoleh. Dia menghela nafas panjang dan mulai menatap wajah pria yang masih menatapnya itu.
"Apa bisa kau jangan terus melihat ke sini?! " Tanyanya dengan Kesal.
"Kenapa? Aku hanya ingin menatapmu. " Jawabnya tersenyum genit yang berhasil membuat Marun mendengus kesal.
"Aku ingin mengajukan 3 permintaan. " Pinta Marun kembali menatap ke arah jendela.
"Aku tidak mau ada yang tau jika kita punya hubungan dimana pun kita berada! "
"Lanjut."
"Aku tidak mau satu rumah dengan mu. Bukannya kau tinggal di apartemen, kenapa malah balik ke rumah yang aku tempati? "
"Tidak! "
"Kenapa? Aku tidak mau tinggal bersama mu! Kau mau kita di anggap tengah kumpul kebo?! " Tanya Marun kesal.
"Tidak! Tidak ya tidak! Lanjut! " Tegasnya mulai menatap ke arah lain karena kesal. Dia merasa benar - benar tak di inginkan oleh wanita yang selalu membuat dia menginginkan.
"Aku tak mau kau sentuh lagi. "
"Tidak! " Lagi - lagi kata itu yang di jawab oleh Aaron.
__ADS_1
"Tidak apanya lagi? Kau benar - benar ingin membuatku Hamil?! "
"Aku akan menyantap mu disini jika kau terus mengajukan persyaratan yang tak masuk akal itu! " Dia sudah sangat kesal. Mana mungkin dia akan tahan tak menyentuh wanita ini.
"Kau benar - benar gila! Para wanita - wanita itu benar - benar buta karena menganggap kau pria yang sempurna! Iya kau sempurna. Aneh, tak tau malu, mesum lagi. Dasar mata keranjang! "
Aaron membulatkan matanya mendengar ucapan Marun. "Kau benar - benar minta ku santap sekarang juga! " Pria itu mulai gelisah, Adiknya kembali bangun setelah tadi pagi tak mendapat sarapan pokok dari wanitanya.
"Kau benar - benar tidak tau malu! Max, kenapa kau bisa tahan dengan Bos gila mu ini? Atau jangan - jangan kau pun ikutan gila gara - gara pria ini? " Tuduh Marun begitu kesal dengan pria mesum dan bejad di sampingnya.
Aaron menggigit bibir bawahnya tak tahan. Max yang melihat Bosnya dari kaca depan hanya menghela nafas panjang.
Apa aku akan baik - baik saja setelah Nona Marun bekerja bersama Bos? " Gumamnya menerka - nerka.
Sesampainya di perusahaan, Marun menatap kagum bangunan raksasa yang berdiri begitu gagah dan kokoh itu tanpa berkedip dengan rasa kagumnya.
Mereka pun masuk ke dalam perusahaan. Sudah banyak orang yang datang dan menyapa Bos besar mereka. Namun pandangan mereka langsung tertuju pada wanita di samping Bos mereka yang ikut masuk ke dalam Lift khusus Pemimpin perusahaan.
Setelah sampai di lantai paling tinggi di perusahaan, Aaron langsung menarik tangan Marun keluar dari dalam Lift dan masuk ke dalam ruangannya.
Max membeku di tempat saat melihat Nona Bosnya di tarik paksa oleh Bosnya.
Apa aku harus terus berjalan mengikuti mereka? Tapi firasat ku mengatakan demi kewarasan mu, sebaiknya jangan. Iyah, aku kembali saja ke bawah. " Gumam pria berkaca mata itu sembari kembali masuk ke dalam Lift.
*
*
*
*
Bruk!
"Apa yang kau lakukan?! " Setelah masuk ke dalam ruangannya, Aaron langsung menjatuhkan tubuh wanita cantik berbaju putih itu ke atas sofa.
__ADS_1
"Aahh! "