
Setelah Drama selesai, Kini Aaron kembali menjalani Rapat. Jadwalnya hari ini begitu sibuk hingga dia tak bisa beristirahat kembali setelah rapat dan harus mengecek keseluruhan data perusahaan.
"Bos, Nyonya bilang pada ku kalau nanti kau harus pergi ke rumah utama bersama Nona Marun. Dia ingin memperkenalkan nya pada Tuan Besar. " Ucap Max yang langsung mendapat lirikan heran dari Marun saat wanita itu tengah mengecek profil perusahaan.
"Aku? " Dia menunjuk dirinya sendiri.
"Iyah Nona, anda. "
"Kapan? " Tanya Aaron.
"Nanti setelah makan malam Bos. "
"Hem."
Pekerjaan mereka pun berlangsung sampai akhirnya mereka selesai dan pulang ke rumah. Setelah selesai mandi, makan malam dan beristirahat. Aaron dan Marun melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah utama.
Cukup jauh mereka berkendara. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah perumahan elite dengan banyaknya rumah mereka yang besar dan bertingkat - tingkat. Ada yang 2, 3 bahkan 4 tingkatan rumah.
Dan mereka pun masuk ke dalam pekarangan rumah yang memiliki tingkatan lantai 4. Penjaga di sana menunduk hormat saat Tuan Muda pertama mereka datang kembali ke rumah Utama.
Saat baru keluar dari dalam Mobil, Marun terkagum melihat berapa besar dan mewahnya rumah yang dominan berwarna putih itu.
"Ayo masuk. " Aaron menggenggam lengan kiri Marun dan membawanya masuk ke dalam.
Mereka masuk ke dan sudah di sambut dengan ramah oleh para pelayan yang sudah berjejer di dekat lawang pintu.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda pertama dan Nyonya Muda. " Sambut mereka semua dengan melebarkan senyum secerah matahari.
"Selamat datang sayang. " Mommy Perry berjalan dengan anggun mendekati putra sulungnya dan mencium keningnya. Lalu beralih pada Marun untuk memeluknya.
"Selamat datang. " Ucapnya lagi mengelus lembut pipi Marun.
"Daddy di mana, Mom? " Tanya Aaron saat tak melihat keberadaan Daddy nya.
__ADS_1
"Daddy sudah berada di ruang keluarga menunggu kalian. Ayo, kita ke sana. "
Mommy Perry menuntun mereka berdua menuju ke ruang keluarga mereka. Baru membuka pintu, Suara seorang wanita yang sedikit berteriak membuat ketiga orang yang baru datang langsung mengkerut kan keningnya.
"Tuan Kecil, tolong jangan lari - lari. Nanti anda jatuh! "
Namun, kerutan di wajah Marun semakin terlihat saat melihat anak kecil yang tak asing di matanya.
"Kak Marun! " Panggil anak kecil itu sembari berlari ke arah Marun.
"Dio? "
Sebelum bocah itu memeluk Marun, Aaron sudah menangkap terlebih dahulu tubuh keponakan nya itu dan menggendongnya.
"Hei, Boy! Kenapa kau ini bandel sekali, hem? Jangan lari - lari, nanti jatuh. " Ucap Aaron sembari mengacak - acak rambut keponakannya dengan gemas.
"Maaf Uncle. Kak Marun, Dio kangen. " Ucap Bocah laki - laki berusia 3 tahun itu.
"Dio, kenapa kau bisa ada di sini? " Tanya Marun masih tak mengerti. Kenapa Dio bisa ada di rumah kedua orang tua pria ini.
"Pak Henry?! Tunggu, kenapa bisa? " Dia semakin bingung dan tak mengerti.
"Kalian sudah saling kenal rupanya? " Tanya Mommy Perry sembari menuntun calon menantunya itu agar duduk di atas sofa di dekatnya.
"Bagaimana Kabar Daddy? " Tanya Aaron pada sang Daddy, karena sudah lama tak bertemu dengan ayahnya itu.
"Daddy baik - baik saja. " Jawab pria berusia kira - kira hampir 70 tahun itu. Dia pun mendelik menatap wajah Marun yang terlihat gugup.
"Apa jaminan mu kalau kau tak akan bermain dengan perempuan lain? " Tanya Daddy viktor yang sangat tau sifat sang putra yang dijuluki Rajanya raja Casanova.
Aaron menghela nafas Kasar. "Apa sebenarnya mau Daddy? Saat aku masih menjadi Casanova, Daddy menyuruhku belajar untuk setia pada satu wanita. Dan saat aku sudah akan berhasil melakukan nya, Daddy malah bertanya seperti itu? Ayolah Dad! "
Daddy Viktor tertawa lepas mendengar keluh kesah putranya itu tentang dirinya.
__ADS_1
"Memangnya kau sudah insaf jadi Casanova, kak? " Tanya Herry menahan tawanya. Ayolah, siapa yang akan langsung percaya disaat tau seorang Casanova tingkat atas ingin setia.
"Diam kau! " Aaron langsung menoyor kepala adiknya itu hingga membuat dia meringis.
"Aku sudah bersumpah, Dad! Dan aku akan mewujudkan sumpah ku! " Lanjutnya dengan begitu serius.
"Apa sumpah mu jika kau tak bisa memenuhi sumpah mu sendiri? "
"Mommy akan menyayat leherku di depannya. " Aaron menggenggam dengan sangat kuat lengan mungil milik Marun.
Melihat keseriusan putranya pada seorang wanita. Daddy Viktor tersenyum tipis.
"Baik! Daddy pegang sumpah mu. Jika kau melanggar sumpah mu, Daddy sendiri yang akan menjauhkannya dari mu. " Ancam Daddy Viktor dengan tajam.
"Daddy tak akan bisa menjauhkan kami. Karena aku tak akan melanggar sumpah ku! " Tegas Aaron begitu yakin.
Mommy Perry dan Henry saling tatap, mereka pun tersenyum dengan samar mendengar ketegasan dan keseriusan dari seorang Aaron.
Marun yang mendengar semua ucapan Aaron hanya terdiam. Dia tak mau terlalu cepat percaya dan tak mau membuat hatinya sakit karena terlalu buru - buru percaya padanya. Dia hanya menampilkan ekspresi biasa saja dan tidak tegang lagi seperti tadi.
"Baiklah. Sekarang Daddy ingin mendengar suara calon menantu Daddy. Siapa namamu, nak? " Tanya Daddy Viktor beralih pada Marun.
Marun mengangkat wajahnya. Dia tersenyum pada pria paruh baya yang sudah menatapnya penuh senyuman.
"Nama saya Marun Tuan, nama panjang saya Maruna Ayu Kianingsih. Umur saya 22 tahun. " Jawab Marun dengan tenang pem perkenalkan dirinya.
"Nama yang indah. Siapa nama kedua orang tua mu? Dan tinggal dimana? Kita bisa mendiskusikan hari pernikahannya. " Tanya Daddy Viktor.
Aaron langsung menatap wajah Marun yang terlihat menunduk dan menatap ke bawah.
"Dad, dia—! "
"Ibu saya sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Ayah saya, dia menikah lagi dan kami sudah jarang bertemu lagi. " Jawab Marun dengan jujur sembari menahan rasa sakit di hatinya ketika kembali mengingat wajah sang Ayah saat terakhir kali mereka bertemu.
__ADS_1
"Oh, astaga! Maafkan Daddy, Daddy benar - benar tak tau. " Ujar Daddy Viktor merasa tak enak dan bersalah.
"Tak apa Tuan, anda tidak tau tentang hal ini. " Balas Marun masih berusaha tersenyum dan tertawa kecil.