
"Aku akan mengabulkan semua yang kau mau untuk membuktikan semua ucapan ku. " Lanjut pria itu.
Marun yang mendengar itu mengangkat salah satunya alisnya. Dia tersenyum.
"Semua yang aku inginkan? " Tanya nya.
Aaron mengangguk mantap. "Ya! Semuanya, tapi tidak dengan perpisahan! "
"Baiklah, semua yang aku inginkan. Seperti nya punya kapal pesiar pribadi akan menyenangkan, terlebih aku tak pernah pergi ke laut selama hidupku. Jadi aku sekali - kali ingin mencobanya. " Wanita itu menyilang kan kedua tangannya di bawah dada. Jari telunjuk nya mengetuk - ketuk bibirnya seakan tengah membayangkan bagaimana rasanya naik kapal pesiar.
"Hanya kapal pesiar? " Pria itu bertanya seakan meremehkan.
"Apalagi, yah? " Marun mencoba memikirkan, dia ingin sesuatu yang sangat mahal hingga pria ini tak sanggup membelinya.
"Oh! Sebuah gelang kaki berlapis mutiara, Ruby dan intan seperti nya cantik. Itu akan cocok di kaki jenjang dan putihku. " Ucapnya lagi.
"Gantungan nya bertuliskan namaku yang juga di lapisi dengan permata berwarna biru pasti akan membuat nya semakin cantik, bukan? " Wanita itu semakin menambahkan kan.
Dia berpikir, semua yang dia inginkan harganya tak murah dan sangat mahal. Apalagi perhiasan yang baru saja dia inginkan, pria ini pasti tak akan mampu membelinya.
"Baiklah, jika memang itu semua yang kau inginkan. Aku akan memberikannya padamu! " Jawab lelaki itu percaya diri.
"Kalau begitu buktikan malam ini padaku! " Tantang Marun melihat kepercayaan diri dari pria itu.
"Baik! Kau lihat saja wanita! Setelah semua yang kau mau aku kabulkan, kau harus mengabulkan permintaanku nanti. Dan kau tidak boleh menolaknya sebagai bayaran untuk semua permintaanmu. " Balas Aaron karena seperti tengah di tantang oleh wanitanya.
"Memangnya apa yang kau inginkan? " Tanya Marun takut pria itu meminta sesuatu yang tidak - tidak padanya.
"Kau akan tau nanti. " Seringai jahat menghiasi wajah pria itu.
__ADS_1
"Tidak mau! Katakan sekarang! " Wanita itu semakin gelisah melihat ekspresi menyeramkan pria itu.
"Nanti saja, ini akan jadi kejutan untukmu. "
Marun menelan Saliva nya kelat. Bagaimana kalau pria ini bisa memberikan semua permintaan ku? Apa yang akan dia lakukan padaku? " Gumam Marun penuh kekhawatiran.
*
*
*
*
Kekhawatiran wanita itu semua menjadi saat melihat pria itu menariknya saat baru selesai memakai baju malam ini dan mengajaknya pergi ke luar.
Dia takut karena mungkin Aaron sudah mendapatkan semua yang dia inginkan. Mereka pun kini tengah berada di dalam mobil entah ingin kemana. Namun yang pasti Marun sangat gelisah karena melihat pria di sampingnya terus - menerus menyunggingkan senyumannya.
"Ma-Marun House? " Ucapnya terbata saat melihat nama apartemen itu sama dengan namanya.
"Ayo keluar, kita lihat apartemen mewah yang kau inginkan. " Ucap Aaron sembari keluar dari dalam mobil.
Wanita itu semakin menelan Saliva nya kuat - kuat. Apa dia salah telah meminta semua ini? Dia lupa jika pria yang sekarang bersamanya adalah seorang Sultan.
"Mati aku! " Gumamnya pelan. Dia langsung menatap keluar saat melihat pintu mobil terbuka.
"Ayo keluar, kenapa kau diam saja? Bukannya kau ingin apartemen mewah ini? Dan lagi kenapa wajahnya terlihat pucat seperti itu? " Tanya pria itu menahan senyumannya karena dia tau. Wanita ini seperti ini karena khawatir dia akan melakukan hal terduga padanya setelah tau jika dia membelikan semua yang wanita itu inginkan.
"Si-Siapa yang pucat?! Aku baik - baik saja! Baiklah, kita lihat seberapa mewahnya apartemen yang kau belikan untukku ini! " Marun keluar dari dalam mobil dengan percaya diri dan langsung menutup pintu mobil dengan keras. Dia pun berjalan mendahului Aaron untuk masuk ke dalam apartemen itu.
__ADS_1
Aaron terkekeh kecil melihat kelakuan wanitanya. Padahal dia tau jika dia itu tengah gelisah.
Mereka mulai memasuki apartemen dan membuka salah satu kamarnya. Marun semakin membulatkan matanya saat melihat isi kamar itu begitu luas dan besar.
Banyak hiasan dinding dan juga pot - pot bunga yang tersusun cantik di dekat dinding. Satu tempat tidur yang begitu besar bahkan mungkin bisa menampung 7 orang. Satu set sofa mewah yang empuk dan nyaman, satu TV besar yang sangat lebar dan panjang.
Marun masuk semakin dalam dan mulai menjelajah ke setiap ruangan di sana. Dan Aaron? Pria itu hanya mengikuti langkah lincah wanitanya dan hanya terkekeh geli saat melihat ekspresi keterkejutan nya.
Satu dapur yang besar dan lengkap. Kamar mandi pun juga sangat lengkap isinya, namun wanita itu membulatkan matanya saat melihat Baht nya begitu besar.
Dia tak berani bertanya. Dia hanya berdoa dalam hati semoga pria gila itu tak menghabisi nya karena telah mengabulkan keinginan tak diinginkannya.
"Kau menyukainya? " Tanya Aaron saat Marun hanya diam saja di lawang pintu kamar mandi.
"Ya.. Lalu mana pulau dan kapal pesiar nya? " Tanya wanita itu tak mau terlihat kalah terlebih dahulu..
"Karena ini sudah malam, jadi kita lihat pulaunya besok saja. Tapi untuk kapal pesiar, ayo kita pergi kepelabuhan sekarang. " Marun semakin membulatkan matanya tak percaya.
Mati aku! Habis sudah - habis!! Marun, bodoh sekali kau karena lupa jika pria ini banyak uang dan bisa melakukan apapun yang dia mau! Sekarang lihatlah, kau kena getahnya sendiri dengan apa yang kau lakukan. " Gumam Wanita itu dalam hati menyesal telah meminta sesuatu pada pria itu.
Mereka pun keluar dari apartemen dan kembali melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan. Setelah kurang lebih setengah jam mereka berjalan, mereka pun sampai di sebuah pelabuhan.
Aaron dan Marun keluar dari dalam mobil. Udara dingin langsung menusuk kulit tipis Marun hingga membuat dia menggigil kedinginan karena dia hanya memakai baju tipis.
"Kau kedinginan? " Pria itu melepaskan Mantel nya dan memakaikannya pada tubuh Marun. Aroma parfum yang menempel di Mantel itu langsung menusuk hidungnya.
Mereka pun masuk ke dalam pelabuhan dengan perlahan. Max yang memang sudah ada di sana menyambut kedatangan Bosnya itu.
"Sudah siap semua Bos! " Ucapnya tersenyum senang.
__ADS_1
"Bagus! Wanitaku benar - benar sudah tak sabar ingin melihatnya! " Aaron berucap sembari merangkul tubuh Marun.