Wanita Milik Casanova

Wanita Milik Casanova
Bab 24


__ADS_3

"Tapi, Nak. Jika ayah mu masih hidup. Maka dia masih punya hak untuk menjadi wali mu. Siapa namanya? Biar Daddy bisa mencarinya dan memintanya menjadi wali nikah untuk kalian. " Pintar Daddy Viktor.


Marun menggeleng cepat. "Tidak! Tidak perlu Daddy, Tak papa. " Marun tak mau jika dia harus bertemu dengan pria yang sudah menelantarkan dia dan Ibunya. Walaupun tak bisa dia pungkiri, dia masih sangat merindukan Ayahnya itu.


"Jika kau masih punya saudara laki - laki, mungkin itu bisa. Tapi Kau tidak punya, kan? Dan lagi, aku tak mau wakilnya di gantikan oleh orang lain saat kita menikah. " Aaron berucap ketus memotong ucapan Daddy Viktor.


Marun menghela nafas panjang. "Tidak papa Dad, dia tak akan peduli. " Lirih Marun dengan pelan.


"Tak papa, sungguh! Kita bisa menggunakan wakil dengan alasan walinya sibuk. " Lanjutnya.


Namun dia tiba - tiba terdiam saat mengingat sesuatu.


Kapan aku setuju akan menikah dengannya?! " Gumam Marun menjerit di dalam hatinya.


Marun melirik perlahan wajah Pria di sampingnya yang sudah menatapnya heran. Dia tersenyum dan menatap dengan sorot mata mematikan. Namun sayangnya, pria itu sama sekali tak mengerti dan malah mengangkat salah satu alisnya.


"Kenapa? " Tanya pria itu.


Marun menggeleng. Mereka pun kembali berbincang. Marun pun sudah mengetahui kalau Henry adalah adik angkat Aaron, dan tentu Anak dari pria itu akan jadi Keponakannya.


"Dio, mulai sekarang panggil Kak Marun dengan sebutan Aunty, kau mengerti? " Ucap Aaron pada bocah laki - laki di pangkuannya.


Bocah itu pun mengangguk dan tersenyum. Mereka beradu kepalan tangan dan kembali tertawa.


Setelah jam menunjukkan pukul 11 malam, Aaron pun pamit untuk pulang karena melihat Marun yang terlibat sudah sangat mengantuk dan lelah. Awalnya Mommy Perry menyuruh mereka untuk menginap, namun Aaron menolak dan langsung menarik lengan Marun menuju parkiran.


"Kapan kita setuju untuk menikah? " Tanya Marun ketus di saat mereka tengah berada di perjalanan pulang.


"Kita memang akan menikah, kenapa? " Tanya pria itu balik.

__ADS_1


"Aku tak mau menikah denganmu sebelum semua sumpah mu itu kau kabulkan. Ingat itu! " Ucap Wanita itu sinis dan kembali menatap ke luar jendela mobil.


Tiang lampu jalan yang berjejer di setiap jalan membuat jalan jadi lebih terang. Malam ini tak terlalu banyak kendaraan berlalu lalang karena kebanyakan orang kantor sudah pulang.


Tak terasa, Marun pun tertidur di dalam mobil karena merasa sangat mengantuk. Aaron yang melihat Marun tertidur pun menepikan mobilnya. Dia melepaskan Jas miliknya dan menyelimuti tubuh bagian atas Marun menggunakan Jasnya.


Dia memandang wajah tenang Marun yang tengah tertidur hingga membuatnya tak tahan untuk mengecup bibir ranum itu sebentar. Dia Pun kembali melajukan mobilnya hingga sampai di rumah.


Aaron menggendong tubuh Marun masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya perlahan - lahan agar dia tak bangun. Pria itu pun membuka satu persatu baju yang Marun gunakan untuk menggantinya menggunakan baju tidur.


Dia harus benar - benar menahan diri dengan terus menerus menelan Saliva saat melihat tubuh indah dan mulus milik Marun. Apalagi sekarang hanya terbalut oleh kain segitu samudra dan dua gunung pemersatu bangsa.


Marun menggeliat kan tubuhnya perlahan - lahan dan tidur berbalik ke arah samping hingga membuat dua gunung pemersatu bangsa itu terhimpit oleh lengannya. Awalnya Aaron ingin melepaskan dia malam ini, tapi karena melihat hal itu, dia berubah pikiran dan langsung mencumbu dada wanitanya.


Karena merasa geli, wanita itu kembali menggeliat dan langsung membulatkan matanya saat melihat kepala pria itu sudah menyusup dan menghisap dadanya. Dia pun semakin kaget saat tubuhnya pun kini sudah hampir telanjang karena ulah pria ini.


"Apa yang kau lakukan? Ayolah, aku mengantuk! " Marun kembali menggeliat.


"Diam lah! Ini salah mu sendiri karena memancingku! "


"Marun, bisa kau belikan aku kopi? Max tengah berada di ruangan CCTV. " Titah Aaron saat mereka sudah ada di kantor pagi ini.


"Baiklah, Kopi apa? " Tanya Marun seraya mendekati meja kerja Pria itu.


"Kopi luwak. " Jawabnya. Dia pun memberikan kartu berwarna kuning miliknya yang langsung di ambil oleh Marun.


Dia pun keluar dari ruangan dan berjalan menuju lift. Setelah Lift sampai di lantai bawah, Lift pun terbuka dan dia pun keluar dari dalam Lift.


Namun sesuatu yang mengejutkan membuat dia berhenti tepat di depan pintu Lift, saat melihat wanita yang serasa tak asing di matanya.

__ADS_1


Begitupun wanita itu yang terlihat terkejut karena melihat ada wanita yang keluar dari lift khusus pemimpin perusahaan. Wanita itu pun menatapnya dengan sinis.


Marun berusaha untuk tak menghiraukan nya dan terus berjalan. Namun panggilan wanita itu membuat dia harus menghela nafas kasar.


"Tunggu! "


Marun berbalik dan menatap penuh tanda tanya pada wanita yang perlahan berjalan mendekatinya.


"Siapa kau? Kenapa kau bisa keluar dari lift khusus pemimpin perusahaan? " Tanya wanita itu penuh selidik.


Namun Marun hanya mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan wanita cantik di hadapannya.


Dia menatap wanita itu dari atas sampai bawah. Wanita ini cantik dan memakai baju yang sangat seksi hingga lekuk tubuh dan garis tubuhnya terlihat begitu jelas.


Apa wanita ini datang kemari hanya untuk menggoda pria gila itu? " Gumam Marun menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku tanya padamu?! Apa kau tuli? Oh, atau jangan - jangan kau kan orang yang sudah mengirim foto wajah Tuan Aaron saat dia tertidur?! " Tebak wanita itu tajam.


"Iyah! Aku yang melakukannya! Kenapa? " Balas wanita itu menantang.


"Waw, apa yang kau lakukan pada Tuan Aaron sampai - sampai kau bisa menyentuh barang pribadinya seperti itu? " Wanita yang Marun ketahui bernama Sofi itu tertawa sinis.


"Kenapa? Kau iri karena kau tak bisa? " Kini giliran Marun yang tersenyum sinis.


"Cih! Kau hanya menggunakan barang murahan untuk menggodanya! "


"Itu berarti kita sama - sama murahan karena kau juga menggodanya dengan tubuh murahan mu. "


"Kau itu hanya mainannya, jadi jangan terlalu sombong hanya karena Tuan Aaron mengizinkan mu menyentuh barangnya! " Sinis wanita itu.

__ADS_1


"Kau takut tersaingi oleh ku? " Marun tertawa sinis.


__ADS_2