
"Aku sudah memenjarakan Bibi mu atas kasus penganiayaan yang pernah dia lakukan padamu. " Ucap Aaron yang sukses membuat pergerakan Marun membeku.
"Apa? " Dia menatap wajah Aaron dengan mata yang masih berkaca - kaca dan tak percaya.
"Dia sudah di penjara dengan semua bukti dan juga saksi. Dia sudah mengakui semua yang dia lakukan padamu dan meminta maaf padamu. Max mengirimkan video permohonan maafnya pada ku untukmu. " Aaron mengeluarkan ponsel mahalnya dan memperlihatkan sebuah vidio permohonan maaf bibinya sembari menangis dan berkata menyesal dengan apa yang sudah pernah dia lakukan padanya.
Bahkan Lidya terlihat bersujud di bawah kaki Max agar tak di masukkan ke dalam penjara. Tapi semua bukti dan saksi sudah kuat untuk bisa memasukkan mereka ke dalam penjara. Apalagi ada beberapa warga di sana yang punya rekaman saat di mana Mereka berdua menganiaya Marun hingga membuat bukti semakin kuat.
Semua vidio itu kembali di kirim oleh Max padanya. Hatinya benar - benar sakit, murka, geram dan marah saat melihat kedua orang itu menyiksa wanitanya menggunakan batang sapu dan memukulinya dengan membabi buta di teras mereka saat tengah hari. Hingga membuat beberapa tubuhnya yang putih bersih itu memiliki banyak lebam dan luka.
Apalagi Lidya yang iri pada Marun karena melihat wajah wanita itu sangat cantik dan putih bersih mengikuti turunan ayahnya. Hingga Lidya sering sekali menampar dan menginjak perutnya karena tak suka dengan kesempurnaan yang wanita itu miliki.
Warga di sana tak ada yang berani melapor pada polisi karena mereka adalah istri dan putri seorang kepala Desa. Mereka juga merasa geram pada perlakuan Suami dari Bibi Lia karena merasa begitu berkuasa dan menjadi seenaknya setelah menjadi kepala desa.
Melihat semua vidio yang pria itu miliki, Marun menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya tak percaya. Dia kembali meneteskan air matanya saat melihat Vidio Bibinya itu sampai bersujud dengan 2 orang polisi di sampingnya meminta maaf padanya.
"Hanya karena dia kepala Desa, mereka jadi seenaknya dan mengancam warga yang macam - macam! Cih, dasar rendahan! " Aaron berdecih kesal.
Setelah Vidio selesai, Vidio pun beralih dengan otomatis pada Vidio lain yang membuat Marun membulatkan matanya kaget.
“Bi, jangan pukul aku lagi Bi! Aku pasti akan membereskan cuciannya! ” Pekik Marun saat di Vidio.
__ADS_1
“Halah! Dasar anak haram! Kau hanya ingin bersantai saja di kamar mandi, kan?! Dasar Anak haram J a l a n g! ”
Bug! Bug!
Terdengar dengan jelas suara sapu yang beradu dengan kulit putih itu dengan keras.
Dan tak lama Plak! ... Plak!
Terlihat juga dalam Vidio Lidya tengah menampar wajah Marun dua kali berturut-turut.
“Dasar pelacur! Sebaiknya kita jual saja dia ke tempat Bordil ma! Karena dia saja lahir dari seorang Pelacur dan Ayah Casanova yang bahkan tak menginginkan keberadaannya! ” Tawa gadis muda itu langsung terdengar sangat jelas.
Marun menggelengkan kepalanya dan berjalan mundur dengan sedikit sempoyongan. Melihat hal itu, Aaron langsung menghentikan Vidio dan mendekati Marun yang terlihat bergetar begitu hebat.
"Tidak!! Jangan sentuh aku! Aku benci Padamu! Aku benci pria Casanova seperti mu! Pergi dari sini! Jangan lakukan apapun pada ku!!! Pergi!! Pergi!! " Wanita itu tiba - tiba saja berteriak histeris membuat Aaron semakin bingung.
"Tenanglah, aku tak akan melakukan apapun pada mu! Kau jangan khawatir! Tenanglah. " Aaron kembali ingin menyentuh pinggangnya. Namun wanita itu kembali berteriak Histeris hingga menangis tak terkendali karena terus menerus mengingat trauma beratnya saat dulu.
"Ayah ku tak menginginkan ku! Dia pergi dengan wanita lain dan membenci ibuku! Dia Casanova kejam! Aku benci padanya! Aku benci pria Casanova!! Pergi! Pergi!! Jangan sentuh aku!! " Tubuh Wanita itu hampir terjatuh ke lantai karena merasa lemas jika tidak langsung di tahan oleh Aaron.
Hingga tak lama, Marun pun pingsan tanpa suara di dalam dekapan pria itu. "Marun! Sial! Dia pingsan! " Dengan panik pria itu mengangkat tubuh ringan milik Marun dan berlari menuju kamarnya.
__ADS_1
Dia pun dengan cepat menelpon Dokter untuk mengecek kondisinya. Dia menyesal telah membuat Marun menonton Vidio itu hingga membuat dia menangis histeris seperti tadi.
Tak lama, seorang Dokter pria pun datang dengan panik karena sahabatnya itu menyuruhnya datang ke Mansion dengan suara yang terdengar panik.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu? " Tanya Dokter laki - laki bernama Mahendra itu.
"Cepat kau periksa dia! Dia tiba - tiba pingsan! " Titah Aaron masih dengan panik sembari menunjuk Marun yang masih menutup mata di atas ranjang.
Namun bukannya cepat - cepat mendekat, Dokter itu malah diam di tempat dan menatap tak percaya apa yang dia lihat.
"Kenapa kau malah diam saja, Woy! Cepat periksa dia! "
Dokter Hendra Masih diam di tempat. Namun raut wajahnya terlihat marah dan tanpa aba - aba langsung memukul wajah Aaron hingga dia mundur untuk beberapa langkah.
"Apa yang kau lakukan?! Kau sudah gila, Mahen?! " Aaron yang tiba - tiba mendapat pukulan tentu saja tak Terima. Dia tak melakukan apa - apa tapi tiba - tiba saja di pukul olehnya.
Dokter Mahen mendekatinya dan mencengkram kerah bajunya. "Hei, Sialan! Kenapa Adik manis ku ada bersama mu, hah?! Kau memaksa dia agar mau bersama mu! " Tanya Dokter Mahen dengan penuh amarah.
Namun yang dimarahi hanya diam karena tak menyangka Sahabatnya ini juga mengenal Marun. "Kau kenal dengan Marun? " Tanyanya ingin memastikan.
"Dia adalah gadis yang ku rawat selama 6 bulan ini Bajingan! Dia gadis baik - baik mana mungkin bisa bersama Casanova seperti mu!! " Dokter Mahen kembali melayangkan tinjunya ke wajah Aaron.
__ADS_1
Sekarang pria itu diam dan tak membalas semua pukulan yang sahabatnya itu berikan padanya. Hingga akhirnya Dokter Mahen berhenti saat merasakan tangan nya panas.
Aaron pun mengusap hidung dan sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah. "Sudah selesai? Cepat periksa dia! " Dokter Mahen menghela nafas kasar dan langsung memeriksa kondisi tubuh Marun.