Wanita Milik Casanova

Wanita Milik Casanova
Bab 14


__ADS_3

Setelah selesai memeriksa kondisi Marun, Dokter Mahen menghela nafas panjang. "Dia pingsan karena ingat trauma nya lagi. Dan bajingan gila kau membuatnya kembali seperti ini! " Dokter Mahen menatap Aaron yang tengah mengobati luka di bibirnya dengan geram.


"Mana aku tau dia akan sampai histeris dan pingsan seperti itu? Aku hanya memberitahu dia kalau bibi nya sudah di penjara dan sudah meminta maaf atas apa yang pernah dia lakukan padanya. Namun karena dia tak sengaja melihat Vidio saat dimana bibinya menyiksa dia, dia tiba - tiba Histeris dan menangis, dia pun langsung pingsan. " Balas Aaron membela diri.


"Kau sudah memenjarakan bibinya? " Kini tatapan tajam dan geram itu berubah jadi tatapan keterkejutan.


"Ya! Aku tak sengaja melihat chat bibinya yang meminta uang padanya dengan cara kasar. Aku tak Terima dan langsung menelpon polisi karena dia sendiri mengakui apa yang selalu dia lakukan pada Marun. " Jawabnya.


"Masih meminta uang rupanya. " Dokter Mahen menghela nafas lelah dan mengelus rambut Marun dengan lembut.


"Sepertinya kau sudah lama kenal dengan Marun bahkan kau sampai - sampai menyebutnya dengan sebutan 'Gadis Manis ku'. " Tebak Aaron dengan sinis karena tak suka dengan panggilan sahabatnya pada Wanitanya.


"Kami kenal 6 bulan yang lalu. Saat itu aku tak sengaja melihatnya tengah tidur di halte Bus sendirian saat malam hari. Karena kasian aku pun mendekatinya dan bertanya apa yang dia lakukan, tapi dia malah berteriak dan menangis padaku dan mengatakan jangan apa - apakan aku, aku tak melakukan apapun. " Jelas Dokter Mahen.


"Aku pun mencoba menenangkannya dan membujuknya. Setelah dia tenang, aku pun membawa dia ke rumah. Istriku hingga salah paham dengan apa yang aku lakukan. Namun saat melihat Marun kembali Histeris, Istriku pun mengerti dan tau jika Gadis ini tengah mengalami trauma. Kami pun sepakat untuk merawatnya dan menjaganya bagai adik kami sendiri. "


"Selama kami merawatnya, istriku memperlakukan Marun dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. Namun kadang - kadang dia kembali histeris bahkan harus di beri obat penenang. Dia menceritakan semua yang dia alami tanpa terkecuali dengan wajah polos dan kadang - kadang menangis. "


"Kami berusaha meyakinkannya agar tak terlalu terpuruk ke dalam masa lalu. Kamu juga meyakinkan dia kalau dia adalah wanita kuat yang mampu melawan rasa takutnya. Hingga pada akhirnya kami melihat Bibinya itu memberikan dia pesan singkat namun kasar. Bibinya itu meminta uang pada Marun dengan jumlah yang tak sedikit sebagai bayaran karena dia sudah tinggal di rumahnya. "


"Kami pun menyembunyikan hal itu dari Marun, tapi kami memberikan apa yang bibinya inginkan agar dia tak menganggu Marun kembali. Sampai akhirnya setelah 6 bulan lamanya kami merawat Marun, dia pun berubah jadi dirinya yang berbeda. Dia sudah bisa melupakan Trauma nya dan menjadi wanita yang kuat. "


"Kami pun melepaskannya dan membiarkan dia hidup dengan tenang dan bebas. Dia memilih tinggal di rumah yang kami sediakan di sebuah kecamatan kecil. Dia pun selalu bertukar pesan pada istriku setiap malam dan menceritakan semua yang dia alami selama dia berpisah dari kami. Dia sudah lebih baik dan sudah menghilangkan Trauma dalam dirinya. Tapi karena dia bertemu denganmu dia jadi seperti ini lagi, Brengsek! " Dokter Mahen terlihat kembali geram menatap sahabatnya itu yang menatapnya datar.

__ADS_1


"Apa? Mau memukulku lagi? Aku kan tidak tau? " Ucap pria itu dengan ketus sembari menatap ke arah Marun.


"Apa yang sudah kau lakukan padanya? " Tanya Mahen sembari menghela nafas berat.


"Aku memerawaninya. "


Bruk!


"****! Kau mengenai ulu hatiku! " Aaron menyentuh bagian ulu hatinya yang terasa linu karena di tinju oleh Dokter Mahen.


"Aku tak percaya kau berani melakukan hal ini! Kau berani menghancurkan masa depannya, hah?! " Dokter Mahen kembali ingin meninju bagian dada pria itu, namun dengan cepat ditangkis olehnya.


"Kenapa kalian semua bisa berfikir kalau aku seperti akan membuangnya! Pikir lah dengan otakmu! Aku tak mungkin mau repot - repot mengurusi masalahnya jika aku tidak tertarik padanya! " Kini giliran Aaron yang kesal.


"Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi yang pasti itulah yang aku rasakan! Wanita ini milikku! " Tekan Aaron di akhir kalimat.


"Semoga dia bisa membuat mu insaf! " Dokter Mahen kembali menyindir sembari menahan tawanya.


Sungguh, dia tak percaya sahabatnya yang di juluki Rajanya raja Casanova ini tertarik pada wanita sederhana seperti Marun.


"Sialan! " Aaron kembali mengumpat kesal.


"Dokter.. " Suara pelan itu berhasil mengalihkan perhatian kedua pria itu.

__ADS_1


Dokter Mahen langsung tersenyum dikala melihat Adik Manis nya itu sudah bangun. Begitupun dengan Aaron yang ikut tersenyum dan hendak bertanya. Namun dia langsung bungkam dikala wanitanya tiba - tiba memeluk tubuh Dokter Mahen.


"Dokter! " Marun memeluk erat tubuh Mahen dan terlihat sangat senang karena bisa bertemu dengannya lagi.


"Bagaimana Kabar mu, Adik Manis! Kau sudah lebih baik sekarang, hem? " Tanya Dokter Mahen dengan lembut.


"Iyah, aku sudah sedikit lebih baik. " Jawab Marun sembari tersenyum.


Dokter Mahen mengelus puncak kepala Adik manisnya lalu mencium keningnya pelan. Dia pun menatap Aaron yang terlihat tak suka dengan kedekatan mereka berdua.


"Oiya Marun, pria brengsek itu sudah melakukan apa pada mu, hem? Sampai - sampai kau pingsan seperti ini? Katakan pada Kakak, nanti kakak hajar dia. " Ucap Dokter Mahen yang pura - pura terlihat marah.


Namun Marun tak menjawab dan malah semakin menyusupkan wajahnya ke dalam Dada bidang pria itu.


"Aku tak suka Pria Casanova. Dia Brengsek dan melakukan semuanya seenak jidatnya! " Kesal Marun sembari menatap sinis pria gila yang sudah mengambil kehormatannya.


Namun pria itu malah tersenyum miring dan terlihat menggodanya.


"Dokter, bawa aku dari sini. Aku tak suka dan takut pada pria gila itu. " Pinta Marun kembali mengalihkan pandangannya.


"Tidak! Tidak boleh! " Refleks Aaron menjawab dan menarik tubuh Wanitanya masuk ke dalam Dekapannya.


"Tidak boleh pergi! "

__ADS_1


__ADS_2