
Aaron menatap tajam wajah wanita itu dengan wajahnya yang sudah memerah.
Sialan! Baru kali ini kejantanan ku di remas! " Gumamnya semakin menatap tajam wajah Marun. Walaupun tak bisa dia pungkiri, rasanya sangat nikmat saat wanita itu meremas nya. Di tambah lagi itu adalah kali pertamanya kejantanannya di remas.
"Kau memang ingin bermain-main dengan ku! Tapi sekarang aku tak akan main-main! Kemari kau, aku akan menyumpalkan dia ke dalam mulut mu! "
"Jangan!! " Marun menutup mulutnya menggunakan kedua tangan dan semakin menjauh dari sana hingga pada akhirnya dia pun terjatuh ke bawah kasur dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah.
Marun buru-buru membenarkan posisinya dan duduk di atas lantai kembali menatap wajah pria yang masih terlihat kesal padanya.
"Kemari kau! Aku tak akan melepaskan mu! " Ucap pria itu mulai beranjak dari duduknya.
"Aku mohon jangan apa-apakan aku! Aku berjanji akan melakukan apapun yang kau mau! " Ucapnya tanpa sadar. Dia langsung menutup mulutnya saat sadar dengan apa yang dia katakan.
Mendengar hal itu, Aaron tersenyum dan mengelus dagunya yang terdapat cukup banyak bulu halus.
"Apa pun yang aku mau? " Tanyanya mengangkat salah satu alisnya.
Marun terdiam meratapi kebodohannya sendiri.
Aku bodoh! " Umpat nya dalam hati.
"Ya! Asalkan lepaskan aku! Aku mau pulang! " Jawabnya menutup kedua mata.
Dia kembali tersenyum, lalu beranjak dari atas ranjang dan berjalan mendekat kearahnya.
"Baiklah, aku pegang janjimu. Dan jangan Coba-coba melanggarnya! " Ancam nya setelah berada di hadapan Marun.
Wanita itu menganggukkan kepalanya perlahan. "Aku akan membawakan baju ganti dan sarapan untuk mu. Diam di sini dan jangan berani ke mana-mana! "
Pria itu berjalan keluar dari dalam kamar dengan senyuman yang terus merekah di kedua sudut bibirnya. Sedangkan Marun hanya bisa diam di tempat sembari merutuki kebodohannya karena selalu salah bicara saat panik.
"Bodoh! Sudah dia mengambil keperawanan ku, sekarang aku harus melakukan apapun yang dia mau! " Marun terus menerus memukul bibirnya.
Setelah lama dia menunggu, akhirnya pintu kamar kembali terbuka. Pria tampan nan menyebalkan pun kembali datang dengan senyuman semanis asam.
__ADS_1
"Ini pakaian milikmu, Untuk sarapan sebentar lagi akan sampai. " Ucapnya sembari menyimpan beberapa Paper bag yang dia bawa di atas meja. Dia pun langsung duduk di atas sofa tunggal yang ada di hadapan Marun.
Wanita itu menatap paper bag yang pria itu bawa dan membukanya. Mata wanita itu melotot hebat saat melihat apa saja yang pria itu beli.
"Apa rasa malu pada dirimu benar-benar sudah mati, hah?! "
Mendengar wanita itu marah kembali, Aaron mengerutkan keningnya karena merasa dia tak melakukan kesalahan apapun.
"Ada apa dengan mu? Aku baru datang kau sudah marah-marah tak jelas? " Ucapnya heran.
Marun menatap tajam dengan bibir mengerucut. "Kenapa kau juga membeli CD dan Bra! Memangnya kau tau ukuran punya ku berapa? Kalau kekecilan bagaimana?! " Tanya wanita itu penuh kekesalan.
"CD nya ukuran L, Bra nya ukuran 38 bukan? " Ucapnya datar.
Mata wanita itu melotot begitu hebat seakan-akan ingin keluar dari dalam tempatnya.
"Ba-Bagaimana kau bisa tau?! " Tanyanya dengan wajah yang sudah memerah.
"Ukuran dada mu sudah banyak aku lihat di tubuh wanita lain, begitu pun dengan lingkar pinggang dan bokong mu. Jadi aku tau, tapi rasanya lebih menggoda milikmu dari pada mereka semua. " Jelasnya dengan begitu santai.
"Casanova! " Ucap wanita itu tertahan dengan menggigit bibir bawahnya kuat.
Aaron mengerutkan dahinya melihat perubahan raut wajah dari wanita itu saat tau kalau dia adalah seorang Casanova.
"Aku benci Casanova! " Ucapnya lagi sembari menatap marah dan menyala wajah Aaron.
Pria itu menatap tajam wajah Marun saat dirinya mengatakan membenci Casanova.
"Karena julukan Casanova Ibuku hamil anak ayahku. Karena Julukan Casanova ayahku bebas berselingkuh dari ibuku! " Wanita itu mengepalkan kedua tangannya dengan mata yang sudah memanas.
"Aku sangat benci dengan pria Casanova! " Lelehan air mata akhirnya terjatuh dari pelupuk mata wanita itu.
Namun tatapan tajam nan nyalang itu masih dia berikan pada Pria itu. Melihat wanita itu menangis karena tau dia seorang Casanova dan karena wanita itu sangat membenci yang namanya Casanova.
Sial! Kenapa aku begitu kecewa saat dia mengatakan membenci pria Casanova?! " Pria itu bergumam ikut menatap tajam wajah wanita itu.
__ADS_1
Marun mengalihkan pandangannya, membawa Paper bag itu dan pergi dari sana menuju kamar mandi.
Aaron masih terdiam di tempatnya. "Sialan! Kenapa aku malah menyesal mengatakan jati diriku yang sebenarnya! "
"Karena menjadi seorang Casanova Ibunya mengandung anak ayahnya? Itu berarti... "
"Dia adalah anak yang lahir dari hubungan terlarang? "
Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. "Sialan! Biasanya aku tak peduli dengan nasib wanita yang sudah aku tiduri, tapi kenapa sekarang hatiku mendorong ku seakan - akan mengatakan kalau wanita itu adalah wanita terkahir dalam hidupku dan di atas ranjang ku! "
Sedangkan di dalam Kamar mandi. Marun tengah menatap dirinya di depan cermin sembari menyentuh leher dan dadanya yang penuh dengan tanda merah yang di buat oleh pria itu.
Dia tersenyum kecut lalu terkekeh. "Apa aku akan mengalami hal yang sama seperti yang ibu alami? " Tanyanya masih terkekeh.
"Lebih baik aku jadi istri ke 5 Bos Firdaus dari pada harus mengalami ini. Lahir sebagai anak haram itu menyakitkan.. "
Setelah selesai memakai baju. Dia kembali keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju tempat tadi.
Dia sudah melihat Aaron bersama dengan Max yang berdiri di sampingnya. Marun menatap benci pria di samping pria brengsek itu yang telah membohonginya, dan pria itu hanya mampu tersenyum tipis sembari menundukkan kepalanya.
"Sekarang aku bisa pergi? " Tanyanya menyilang kan kedua tangan di dada.
"Ya! Tapi kau harus menandatangani ini. " Aaron melempar 2 kertas di atas meja.
Marun menatap Aaron sekilas lalu membawa kedua kertas itu dan membaca nya masing-masing.
"Apa-apaan ini?! "
.
.
.
.
__ADS_1